Trump Keliru Sebut India vs Brasil, Puji Kecepatan Hitung Suara Pemilu Brasil

Trump Keliru Sebut India vs Brasil, Puji Kecepatan Hitung Suara Pemilu Brasil
Trump Keliru Sebut India vs Brasil, Puji Kecepatan Hitung Suara Pemilu Brasil

Sorothari – 06 Oktober 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah secara keliru menyebut India saat mengomentari pemilu presiden Brasil. Insiden yang melibatkan kekeliruan penyebutan India vs Brasil ini terjadi melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Senin (5/10/2026). Trump awalnya menulis, "125 juta orang memilih hari ini di putaran pertama pemilu presiden India." Beberapa jam kemudian, unggahan tersebut diperbaiki dengan mengganti kata ‘India’ menjadi ‘Brasil’.

Kekeliruan India vs Brasil ini menjadi perhatian karena India tidak mengadakan pemilu presiden pada akhir pekan lalu. Selain itu, sistem pemilihan presiden di India tidak dilakukan melalui pemungutan suara langsung oleh rakyat, melainkan melalui anggota parlemen dan dewan legislatif negara bagian. Meskipun demikian, angka 125 juta yang disebutkan oleh Trump nyaris sama persis dengan jumlah suara sah pada putaran pertama pemilu Brasil, yang mencapai 125.272.513 suara, berdasarkan data resmi Tribunal Superior Eleitoral (TSE).

Baca juga:
Keiko Fujimori Resmi Jadi Presiden Peru, Perempuan Pertama Terpilih Lewat Pemilu

Dalam unggahannya yang telah dikoreksi, Trump membandingkan kecepatan penghitungan suara di Brasil dengan proses serupa di Amerika Serikat. Ia menulis, "125 juta orang memilih hari ini di putaran pertama pemilu presiden Brasil. Hasilnya keluar segera setelah pemungutan suara ditutup, PADA HARI YANG SAMA!" Pernyataan ini kemudian dilanjutkan dengan kritik tajam terhadap sistem pemilu AS. "Di Detroit, Philadelphia, California, dan berbagai kota serta negara bagian AS lainnya, hasil pemilu—dengan jumlah suara yang jauh lebih kecil—seringkali memakan waktu berminggu-minggu untuk dimanipulasi… maksud saya, dihitung. Pemungutan suara di Amerika SERBA KORUP!!!", tulis Trump.

Kekeliruan India vs Brasil yang dilakukan Trump terjadi di tengah perhatian internasional terhadap hasil putaran pertama pemilu Brasil yang digelar pada Minggu (4/10/2026). Dua kandidat yang melaju ke putaran kedua adalah Senator Flávio Bolsonaro (PL) yang memperoleh 47,03% suara sah, dan petahana Presiden Luiz Inácio Lula da Silva (PT) dengan 45,16% suara sah. Flávio Bolsonaro, yang merupakan putra dari mantan Presiden Jair Bolsonaro, memimpin perolehan suara sementara. Sementara itu, Lula berusaha mempertahankan kursi kepresidenan untuk masa jabatan keempat kalinya.

Trump tidak menyebut nama kedua kandidat Brasil secara langsung dalam unggahannya. Ia juga tidak memberikan dukungan kepada salah satu dari mereka, meskipun sebelumnya ia mengaku mengikuti perkembangan pemilu Brasil dengan saksama. Sikap ini berbeda dengan sejumlah pemimpin dunia lainnya yang secara terbuka menyambut hasil sementara pemilu Brasil. Presiden Argentina Javier Milei, misalnya, memuji keunggulan Flávio Bolsonaro, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan ucapan selamat dan harapan untuk memperkuat hubungan bilateral. Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella juga menyatakan dukungannya kepada kandidat dari kubu konservatif tersebut.

Baca juga:
Polemik Ijazah Gibran: PKS Jalin Komunikasi dengan Parpol, Relawan Janji Tunjukkan Sertifikat A-Level

Di sisi lain, mantan Presiden Kolombia Gustavo Petro mengecam dukungan para pemimpin sayap kanan di kawasan. Ia menulis bahwa kelompok konservatif telah memerintah Amerika Latin selama berabad-abad dan bahwa gagasan mereka tentang perubahan hanyalah upaya untuk memperpendek periode singkat pemerintahan progresif. Pernyataan Petro ini menjadi respons atas komentar Espriella yang menyebut kemenangan sayap kanan sebagai perubahan sejati.

Kekeliruan India vs Brasil dalam unggahan Trump juga menyoroti bagaimana ia menggunakan data pemilu Brasil sebagai alat untuk menyerang lawan politik domestiknya. Kota-kota yang ia sebut, seperti Detroit dan Philadelphia, serta negara bagian California, semuanya dipimpin oleh pejabat dari Partai Demokrat. Tuduhan Trump mengenai kecurangan pemilu di kota-kota tersebut tidak disertai bukti yang jelas, namun ia terus mengulang klaim serupa sejak pemilu AS tahun 2020.

Di Brasil, sistem pemungutan suara elektronik yang telah digunakan selama beberapa dekade kembali mendapat sorotan positif dari berbagai pihak, termasuk dari Trump, meskipun dengan kesalahan penyebutan India vs Brasil. Kecepatan penghitungan suara di Brasil memang menjadi salah satu keunggulan yang diakui secara luas. Dalam waktu beberapa jam setelah pemungutan suara ditutup, TSE sudah dapat mengumumkan hasil akhir secara resmi. Hal ini kontras dengan proses di beberapa negara bagian AS yang memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menyelesaikan penghitungan, terutama untuk surat suara yang dikirim melalui pos.

Baca juga:
DPR AS Setujui Anggaran Rp1,7 Triliun untuk Misi Militer di Iran

Kekeliruan India vs Brasil yang dilakukan Trump pun menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial dan diberitakan oleh berbagai media internasional. Beberapa pihak menilai insiden ini sebagai bukti kurangnya perhatian Trump terhadap detail kebijakan luar negeri, sementara yang lain menganggapnya sebagai kesalahan kecil yang tidak mengurangi substansi kritiknya terhadap sistem pemilu AS. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak India atau Brasil mengenai kekeliruan tersebut.

Putaran kedua pemilu presiden Brasil dijadwalkan berlangsung dalam tiga minggu mendatang. Persaingan antara Flávio Bolsonaro dan Lula diperkirakan akan semakin ketat, dengan kedua kubu gencar melakukan kampanye untuk meraih suara pemilih yang belum menentukan pilihan. Hasil akhir pemilu ini tidak hanya akan menentukan arah politik Brasil, tetapi juga berdampak pada keseimbangan kekuatan di Amerika Latin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *