Berita  

Banjir Besar di Thailand Berdampak pada Pasokan Telur Ayam, Ekspor Dipangkas 30-50%

Banjir Besar di Thailand Berdampak pada Pasokan Telur Ayam, Ekspor Dipangkas 30-50%
Banjir Besar di Thailand Berdampak pada Pasokan Telur Ayam, Ekspor Dipangkas 30-50%

Sorothari – 09 Oktober 2026 | Banjir besar yang melanda Thailand sejak pertengahan September 2026 telah menimbulkan dampak serius di sektor peternakan, khususnya peternakan ayam petelur. Akibat banjir yang menerjang kawasan Provinsi Chachoengsao, sekitar dua jam perjalanan dari Bangkok, sebanyak 3 juta ekor ayam betina mati. Kondisi ini memaksa pemerintah Thailand untuk mengambil langkah darurat dengan memangkas ekspor telur ayam hingga 50 persen sampai akhir tahun.

Wakil Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Thailand, Jirawuth Suwanna-arj, menyatakan bahwa pihaknya telah mendesak perusahaan-perusahaan produsen telur untuk mengurangi ekspor sebesar 30 hingga 50 persen hingga Desember 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga ketersediaan pasokan telur di pasar domestik yang tertekan akibat berkurangnya jumlah ayam petelur secara drastis.

Baca juga:
Dari Avtur Mikroalga hingga Konversi Motor Listrik: Dinamika Bahan Bakar di Indonesia

Pemerintah Thailand juga berupaya mencari area peternakan yang tidak terdampak banjir untuk tetap bisa menyuplai telur ke pengecer. Selain itu, kerja sama dengan berbagai instansi dilakukan untuk memperpanjang masa produktif ayam petelur dari 80 minggu menjadi 85 minggu. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan produksi di tengah krisis.

Untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen, pemerintah meminta Asosiasi Produsen Telur dan peternakan besar mematok harga jual telur di kisaran 12 sen dolar AS per butir, atau sekitar Rp2.147 dengan kurs saat ini. Kebijakan ini bertujuan mencegah lonjakan harga yang bisa memberatkan masyarakat.

Banjir yang melanda Thailand sejak 16 September 2026 telah merendam 51 provinsi, termasuk ibu kota Bangkok. Dilaporkan, bencana ini telah menelan 31 korban jiwa. Bangkok sendiri telah dinyatakan sebagai zona rawan bencana setelah menerima curah hujan 320 milimeter dalam tiga hari, jumlah yang setara dengan total curah hujan normal sepanjang September. Badan cuaca Thailand memperkirakan curah hujan akan kembali meningkat pada 9 hingga 13 Oktober 2026 di wilayah timur dan tengah, termasuk Bangkok dan sekitarnya, serta sebagian wilayah selatan.

Baca juga:
Gempa Panama: Korban Terluka dan Dukungan Internasional Mengalir

Sebelumnya, ribuan warga terpaksa mengungsi ke pusat-pusat evakuasi di Bangkok karena sebagian besar wilayah masih terendam banjir. Dampak ekonomi dari bencana ini diperkirakan akan cukup signifikan, tidak hanya terhadap sektor peternakan tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi secara umum.

Pada tahun 2025, Thailand mengekspor telur senilai 50,46 juta dolar AS, atau sekitar Rp902,6 miliar. Singapura menjadi tujuan utama dengan porsi 79 persen dari total ekspor, sementara Hong Kong menyerap 9 persen. Dengan kebijakan pemangkasan ekspor ini, pasokan telur ke negara-negara tersebut dipastikan akan berkurang dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah Thailand terus memantau perkembangan situasi dan akan mengambil langkah-langkah lebih lanjut jika diperlukan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan yang masih mengancam sejumlah wilayah.

Baca juga:
Reniyanti Hoegeng Putri Mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso Meninggal Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *