Sorothari – 10 Oktober 2026 | Krisis ekonomi yang melanda berbagai belahan dunia kian terasa dampaknya. Di Iran, situasi ekonomi yang memburuk memicu pengunduran diri Menteri Perminyakan Mohsen Paknejad. Sementara itu, di tengah ketidakpastian global, emas kembali menunjukkan perannya sebagai aset safe haven yang dicari investor.
Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menerima pengunduran diri tersebut, yang disebut Paknejad karena alasan pribadi. Namun, pengunduran diri ini terjadi di tengah kondisi ekonomi Iran yang semakin terpuruk. Inflasi di negara itu mencapai 85 persen, sementara inflasi pangan bahkan menembus angka 130 persen. Nilai tukar rial Iran juga melemah lebih dari 10 persen dalam sebulan terakhir, dengan dolar AS kini diperdagangkan sekitar 269.000 toman atau 2,69 juta rial.
Baca juga:Perekonomian Iran mengalami kontraksi sekitar 10 persen pada tiga bulan pertama tahun ini. Salah satu penyebab utamanya adalah penurunan pendapatan minyak akibat blokade laut Amerika Serikat yang menghambat ekspor. Pemerintah Iran berupaya meredam tekanan dengan membekukan harga 12 kebutuhan pokok dan mempertimbangkan kenaikan upah sektor publik. Namun, langkah-langkah ini belum mampu mengatasi krisis yang mendalam. Laporan mengenai pengunduran diri massal dari kalangan profesional, seperti guru dan perawat, juga mulai bermunculan karena gaji mereka tidak mampu mengimbangi kenaikan harga.
Dampak Krisis Ekonomi terhadap Investasi Emas
Di sisi lain, krisis ekonomi global justru membawa berkah bagi investasi emas. Ketidakpastian pasar modal dan merosotnya kepercayaan investor mendorong banyak pihak untuk beralih ke aset yang lebih aman. Emas, yang dikenal sebagai safe haven, mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Hal ini berpotensi mendorong harga emas mencapai rekor tertinggi baru.
Ketika krisis ekonomi terjadi, investor cenderung menarik dana dari instrumen berisiko tinggi seperti saham dan obligasi, lalu mengalihkannya ke emas batangan. Emas dianggap mampu mempertahankan nilainya di tengah inflasi tinggi dan depresiasi mata uang. Selain itu, likuiditas pasar emas yang tinggi memudahkan pemiliknya untuk mencairkan aset menjadi uang tunai kapan pun dibutuhkan, menjadikannya cadangan dana darurat yang andal.
Fenomena ini juga mendorong para manajer investasi untuk merestrukturisasi portofolio mereka. Alokasi dana yang sebelumnya didominasi saham dan obligasi mulai bergeser ke logam mulia. Perubahan strategi ini menegaskan posisi emas sebagai pilar utama dalam menyeimbangkan portofolio di tengah volatilitas pasar finansial yang tinggi.
Baca juga:Krisis Air dan Pusat Data di Indonesia
Sementara itu, di Indonesia, kekhawatiran akan krisis ekonomi juga muncul seiring dengan maraknya pembangunan pusat data yang memicu protes warga terkait risiko krisis air. Di Batam, warga Kelurahan Sambau, Nongsa, memprotes gangguan pasokan air bersih dan mempertanyakan alokasi air untuk pusat data di kawasan tersebut. BP Batam kini mendorong pusat data untuk membangun fasilitas desalinasi air laut secara mandiri guna mengurangi tekanan terhadap sumber air waduk.
Di Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi menghentikan sementara pembangunan pusat data milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, karena belum mengantongi AMDAL dan persetujuan bangunan gedung. Dedi juga meminta kajian proyek dibuka kepada masyarakat, terutama terkait penggunaan air Waduk Jatiluhur dan dampaknya terhadap kebutuhan air petani.
Menanggapi situasi ini, Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air dan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Suraji, menekankan pentingnya penggunaan sumber air alternatif untuk pusat data, seperti desalinasi atau air daur ulang. Setiap wilayah, kata Suraji, memiliki neraca air yang harus menjadi acuan dalam pemanfaatan air.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai perlu ada regulasi khusus yang melindungi sumber air dan lingkungan hidup dari ekspansi pembangunan pusat data. Regulasi tersebut harus mengatur pembatasan pembangunan, zonasi, standar efisiensi energi dan air, kewajiban penggunaan air daur ulang, hingga kerangka tata kelola AI berbasis risiko.
Baca juga:Di tengah berbagai tekanan ekonomi global dan domestik, langkah-langkah antisipatif dari pemerintah dan investor menjadi kunci untuk menjaga stabilitas. Baik melalui diversifikasi investasi ke emas maupun pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, upaya kolektif diperlukan untuk menghadapi tantangan krisis ekonomi yang ada.












