Sorothari – 11 Oktober 2026 | Isu bahan bakar di Indonesia menunjukkan dinamika yang kompleks dalam sepekan terakhir. Mulai dari pengakuan internasional terhadap produk dalam negeri, eksplorasi sumber energi terbarukan, perbandingan risiko keamanan, hingga krisis pasokan yang berdampak langsung pada masyarakat, seluruh aspek ini menjadi sorotan. Berita mengenai bahan bakar kali ini merangkum berbagai peristiwa penting yang terjadi pada awal Oktober 2026.
Di kancah balap internasional, Pertamina Patra Niaga memasok Pertamax Turbo untuk mendukung operasional Safety Car dalam ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 9–11 Oktober 2026. Bahan bakar beroktan tinggi tersebut disediakan melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) modular yang berada di dalam area sirkuit. Pasokan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan operasional resmi selama rangkaian MotoGP Mandalika berlangsung. Penggunaan Pertamax Turbo mendapat respons positif dari Candido, pemandu Safety Car MotoGP asal Spanyol. Menurutnya, Pertamax Turbo menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan karena performanya. “Untuk Safety Car di Indonesia, Pertamax Turbo adalah pilihan utama. Kami membutuhkan performa mesin terbaik, dan Pertamax Turbo mampu memberikan performa tersebut,” ujar Candido. Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan penyediaan SPBU Modular beserta Pertamax Turbo merupakan bagian dari kesiapan perusahaan dalam mendukung kelancaran ajang balap internasional tersebut. “Jadi, Pertamax Turbo dipercaya menjadi official fuel untuk safety car di balapan Mandalika kali ini. Dan, itu tandanya berarti produk kami sudah memenuhi kualifikasi dari kebutuhan event bergengsi selevel Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026,” kata Kitty dalam media briefing di Mandalika, Sabtu (10/10/2026).
Baca juga:Potensi Mikroalga sebagai Bahan Bakar Pesawat
Sementara itu, dalam upaya mencari alternatif bahan bakar fosil, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkap potensi mikroalga untuk dikembangkan menjadi bahan bakar pesawat atau avtur. Hashim mengatakan mikroalga menarik untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki sejumlah unsur yang dibutuhkan untuk produksinya, mulai dari cahaya matahari, lahan, tenaga kerja, hingga karbon dioksida (CO2). “Saya kira pada saat ini saya masih optimis. Ada beberapa perkembangan lain. Ini ada namanya microalgae. Ini saya pelajarin,” ujar Hashim dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10). Menurut Hashim, mikroalga dapat menjadi sumber aviation fuel. Namun, ia memilih menyebutnya sebagai green fuel atau blue fuel dan belum tentu sebagai sustainable aviation fuel (SAF). “Microalgae ini rupanya bisa menjadi sumber dari avtur. Ya, orang bilang sustainable aviation fuel. Saya berbeda, saya anggap ini green fuel atau blue fuel. Tapi belum tentu sustainable,” katanya. Hashim menjelaskan produksi mikroalga membutuhkan cahaya matahari yang melimpah di Indonesia, lahan untuk kolam atau tambak, serta tenaga kerja yang banyak.
Perbandingan Risiko Kebakaran Mobil Listrik dan Mobil Bensin
Di sisi lain, perbandingan risiko kebakaran antara mobil listrik dan mobil bensin juga menjadi perhatian. Kebakaran mobil bisa terjadi pada kedua jenis kendaraan, namun memiliki sumber bahaya, karakteristik api, dan tantangan pemadaman yang berbeda. Pada mobil listrik, perhatian utama tertuju pada baterai bertegangan tinggi yang berpotensi mengalami thermal runaway. Kerusakan akibat benturan, cacat sel, korsleting internal, atau panas berlebih dapat memicu reaksi berantai. Sementara itu, pada mobil bensin, kebocoran bahan bakar dan gangguan pada sistem kelistrikan dapat memicu kebakaran. Kebakaran mobil listrik yang melibatkan baterai bisa berkembang dengan pola berbeda. Ketika thermal runaway terjadi, panas dapat merambat dari satu sel ke sel lain. Baterai juga bisa menghasilkan gas mudah terbakar dan memunculkan kembali api setelah terlihat padam. Proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus untuk mendinginkan baterai secara memadai. Pada mobil bensin, api dapat menyebar ketika bahan bakar yang bocor tersulut atau ketika panas menjalar ke komponen lain. Setelah api padam, kedua jenis kendaraan masih menyimpan risiko. Pada mobil listrik, kerusakan internal dapat memicu thermal runaway kembali. Pada mobil bensin, komponen yang panas, kebocoran bahan bakar, dan kerusakan kabel perlu diperiksa sebelum kendaraan dinyatakan aman.
Baca juga:Krisis BBM di Muara Ciasem
Di tengah berbagai perkembangan tersebut, krisis bahan bakar justru melanda kalangan nelayan di Muara Ciasem, Subang, Jawa Barat. Ratusan nelayan terpaksa menganggur karena kelangkaan solar bersubsidi. Puluhan kapal tampak berjejer di dermaga Desa Muara, Kecamatan Blanakan. Para nelayan terpaksa memarkirkan perahu mereka karena ketiadaan solar, bukan disebabkan oleh faktor cuaca buruk. Ironisnya, kelangkaan ini terjadi di saat hasil tangkapan ikan di laut sedang menunjukkan tren yang membaik. Anwar, seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa dirinya bersama rekan-rekan sesama nelayan sudah tidak bisa melaut hingga sepuluh hari terakhir. “Habis nggak ada solar, nelayan mogok semua. Ada sedikit rebutan aja solarnya, itu yang dapet yang enggak dapet ya udah berhenti. Nganggur udah 10 hari ini, nggak tau carinya susah. Harusnya turunin solar biar lancar nelayan,” ujar Anwar, Jumat (09/10/2026). Ketua KPL Mina Bahari Muara Ciasem, Ade Kardi, menjelaskan bahwa kelangkaan ini dipicu oleh tingginya kebutuhan BBM serta kuota yang terbatas. Pihaknya berharap Pertamina segera turun tangan menambah kuota penyaluran ke SPBU wilayah setempat. “Iya benar terkait BBM sulit karena banyak pengguna BBM dan stok terbatas. Harapan kami ke Pertamina ada penambahan kuota BBM khususnya ke Ciasem Hilir supaya bisa lancar, nelayan lancar. Kalau BBM enggak ada, banyak nelayan tidak melaut dan pasokan ikan tidak ada,” kata Ade Kardi. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang berada di TPI KUD Mina Bahari hingga kini belum dapat beroperasi karena masih dalam proses perizinan.
Konversi Motor BBM ke Listrik
Sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp635,24 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 untuk program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik. Anggaran tersebut ditargetkan untuk mendukung konversi sekitar 63.000 unit motor. Rencana ini sebelumnya disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI pada Agustus 2026. Pelaku industri konversi kendaraan listrik, termasuk EV-GO, menyambut kebijakan tersebut. President EV-READY Group yang menaungi program EV-GO, Raine Renaldi, mengatakan pihaknya siap memaksimalkan program pemerintah tersebut. “Akan kami maksimalkan,” kata Raine melalui siaran pers, Jumat (9/10/2026). Raine menilai jumlah motor yang menjadi sasaran program tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan potensi kendaraan roda dua berbahan bakar bensin di Indonesia yang mencapai sekitar 120 juta unit. Meski demikian, ia memandang kebijakan tersebut sebagai langkah awal untuk membangun industri konversi kendaraan listrik secara lebih luas. “Memang angkanya masih di bawah ekspektasi awal. Tetapi ini tetap harus kita maksimalkan. Yang paling penting bagaimana program ini berjalan dengan baik, masyarakat mendapatkan manfaat, dan ekosistem industrinya mulai terbentuk,” ujarnya.
Baca juga:Seluruh rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa isu bahan bakar di Indonesia tidak hanya menyangkut ketersediaan energi, tetapi juga menyentuh aspek teknologi, lingkungan, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat terus berupaya mencari solusi yang tepat untuk setiap tantangan yang ada, mulai dari krisis pasokan di tingkat nelayan hingga pengembangan energi alternatif untuk masa depan.












