Berita  

Crazy: Kisah Pengusaha yang Hampir Hancur karena Amazon tapi Tetap Setia Berbelanja

Crazy: Kisah Pengusaha yang Hampir Hancur karena Amazon tapi Tetap Setia Berbelanja
Crazy: Kisah Pengusaha yang Hampir Hancur karena Amazon tapi Tetap Setia Berbelanja

Sorothari – 13 Oktober 2026 | Hubungan antara pengusaha Jack Nekhala dengan Amazon bisa dibilang sangat rumit. Perusahaannya, Bed Scrunchie, hampir kolaps setelah akun penjualnya dinonaktifkan oleh raksasa e-commerce tersebut. Namun, di tengah situasi yang ia sendiri sebut “crazy” ini, Nekhala mengaku masih setia berbelanja di platform itu setiap minggu.

Dalam wawancara dengan Business Insider untuk seri video So Expensive, Nekhala mengungkapkan bahwa sebelum insiden penonaktifan akun, perusahaannya mencatatkan pendapatan sekitar USD 4,5 juta pada 2024 dan tengah berada dalam jalur pertumbuhan. Namun, ketika Amazon menonaktifkan akun penjualnya tepat sebelum musim liburan tahun itu, aliran pendapatan utama perusahaan langsung terputus.

Baca juga:
Martha Tilaar Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun, Industri Kecantikan Indonesia Berduka

“Begitu keruntuhan terjadi melalui Amazon, itu pada dasarnya meruntuhkan seluruh bisnis,” ujar Nekhala. Ia kemudian mengakui kebiasaannya yang membuatnya merasa bersalah: “Saya masih berbelanja di Amazon. Saya punya anak perempuan. Dia butuh sepeda, skuter, dan berbagai barang lainnya. Dan itulah tempat yang kami datangi.”

Kebiasaan ini, menurut Nekhala, lebih mengganggunya daripada yang bisa ia jelaskan. Ia sadar bahwa platform yang hampir menghancurkan bisnisnya kini justru menjadi tempat ia memenuhi kebutuhan keluarganya. Situasi ini menggambarkan dilema yang dihadapi banyak pengusaha kecil yang bergantung pada pasar digital besar.

Dampak Penonaktifan Akun terhadap Bisnis

Penonaktifan akun penjual oleh Amazon bukanlah kejadian langka. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang mengandalkan platform tersebut sebagai saluran penjualan utama mereka. Ketika akun dinonaktifkan, seringkali tanpa peringatan yang jelas, dampaknya bisa sangat menghancurkan. Dalam kasus Bed Scrunchie, perusahaan yang sebelumnya menghasilkan jutaan dolar tiba-tiba kehilangan akses ke basis pelanggan terbesarnya.

Nekhala menceritakan bahwa setelah akunnya dinonaktifkan, perusahaan harus menanggung utang yang besar. Meskipun demikian, ia tidak serta-merta memboikot Amazon. Baginya, keputusan untuk tetap berbelanja di platform itu adalah soal kepraktisan dan kebutuhan, bukan loyalitas.

Baca juga:
Hamas Resmi Pilih Khalil al-Hayya sebagai Kepala Biro Politik Baru

Fenomena ‘Crazy’ di Dunia Bisnis dan Hiburan

Kata “crazy” sendiri muncul dalam berbagai konteks di pekan ini. Di industri hiburan, penyanyi legendaris Linda Ronstadt pernah mengalami apa yang ia sebut sebagai “hampir membuatku gila” setelah singel nomor satunya pada 1974, ‘You’re No Good’, sukses besar. Dalam wawancara dengan Rolling Stone pada 1976, Ronstadt mengaku bahwa pencapaian tersebut justru membuatnya merasa tertekan.

“Saya hanya berjalan-jalan meminta maaf setiap hari,” kata Ronstadt. “Saya bisa melihat bahwa teman-teman yang saya kira mendukung saya ternyata membenci saya.” Ia bahkan sempat merasa tidak bisa bernyanyi di atas panggung karena rasa sadar diri yang berlebihan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan kesuksesan bisa menjadi beban psikologis yang berat.

Sementara itu, di dunia olahraga, mantan pemain WNBA Sydney Colson meluapkan kemarahannya kepada sesama pemain Sophie Cunningham dalam sebuah episode program “Don’t @ Me” bersama Dan Dakich. Colson menggunakan podcastnya untuk menyerang Cunningham dan meminta para penggemar kulit putih Fever untuk “diam”. Pernyataan ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar WNBA.

Di sisi lain, industri game juga menghadirkan sesuatu yang “crazy”. SEGA baru saja merilis trailer terbaru untuk game “Crazy Taxi: World Tour” yang menampilkan peta Brasil. Game yang dijadwalkan rilis pada 2027 ini akan membawa pemain berkeliling dunia, termasuk ke Jerman, Jepang, dan Brasil. Dalam peta Brasil, pemain bisa mengantarkan penumpang ke karnaval atau mengirimkan kopi segar sambil melewati toko-toko terkenal seperti Habib’s, Fogo de Chão, dan Fast Shop.

Baca juga:
Transformasi ASN Digital: Inovasi Data, Profiling Kompetensi, dan Kinerja Berbasis Dampak

Dilema Pengusaha di Era Digital

Kisah Jack Nekhala menjadi cermin bagi banyak pengusaha yang bergantung pada platform digital besar. Di satu sisi, platform seperti Amazon menawarkan akses pasar yang luas dan kemudahan logistik. Di sisi lain, ketergantungan yang tinggi membuat bisnis rentan terhadap keputusan sepihak dari platform tersebut.

Nekhala sendiri mengakui bahwa ia tidak punya banyak pilihan. Kebutuhan keluarganya akan berbagai barang membuatnya kembali ke Amazon, meskipun hatinya terasa perih. “Ini benar-benar situasi yang gila,” katanya.

Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah akun Bed Scrunchie akan diaktifkan kembali. Nekhala mengatakan bahwa ia terus berupaya mencari solusi, termasuk dengan diversifikasi saluran penjualan. Namun, kebiasaannya berbelanja di Amazon tampaknya masih akan berlanjut, setidaknya untuk saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *