Berita  

Lassa Fever di Nigeria: 268 Kematian dan 1.138 Kasus Terkonfirmasi

Lassa Fever di Nigeria: 268 Kematian dan 1.138 Kasus Terkonfirmasi
Lassa Fever di Nigeria: 268 Kematian dan 1.138 Kasus Terkonfirmasi

Sorothari – 14 Oktober 2026 | Nigeria mencatatkan peningkatan signifikan kasus demam Lassa (Lassa fever) pada tahun 2026. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nigeria (NCDC) melaporkan sebanyak 1.138 kasus terkonfirmasi dan 268 kematian tersebar di 24 negara bagian. Angka kematian (case fatality rate) mencapai 23,6 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 18,6 persen.

Data tersebut disampaikan NCDC dalam laporan situasi demam Lassa untuk minggu epidemiologi ke-39 dan ke-40, yang mencakup periode 21 September hingga 4 Oktober 2026. Menurut laporan itu, kasus ditemukan di 119 wilayah pemerintah daerah (LGA) di seluruh negeri.

Baca juga:
Irjen Totok Suharyanto Resmi Jabat Kapolda Sulbar, Berbekal Pengalaman Tangani Kasus Korupsi Besar

Demam Lassa adalah penyakit hemoragik akut yang disebabkan oleh virus Lassa, yang ditularkan melalui kontak dengan makanan atau barang yang terkontaminasi urine atau feses tikus. Penyakit ini endemik di beberapa negara Afrika Barat, termasuk Nigeria. Gejala awal mirip flu biasa, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot, sehingga sering terlambat terdiagnosis.

NCDC terus mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, menyimpan makanan dengan aman, dan segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam yang tidak kunjung reda. Pemerintah federal sebelumnya telah menyetujui dana tanggap darurat sebesar 21,2 juta naira untuk setiap negara bagian guna memperkuat pengendalian wabah.

Dalam perkembangan lain, seorang bayi baru lahir di Malaysia dilaporkan meninggal dunia setelah diberi makan telur mentah oleh orang tuanya dengan tujuan menurunkan demam. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan demam pada anak harus dilakukan secara medis, bukan dengan pengobatan tradisional yang belum terbukti aman. Pihak berwenang setempat masih menyelidiki kasus tersebut.

Baca juga:
Kemenhut dan Masyarakat Berhasil Selamatkan Lutung Jawa Momon di Bondowoso

Demam juga menjadi topik hangat di dunia hiburan. Penggemar serial buku fantasi romantis “A Court of Thorns and Roses” (ACOTAR) karya Sarah J. Maas merayakan perilisan buku keenam berjudul “A Court of Splintered Harmony” pada 27 Oktober 2026. Banyak pembaca yang rela mengambil cuti kerja untuk menyelesaikan buku setebal lebih dari 800 halaman itu dalam waktu kurang dari 48 jam. Toko buku Collins Booksellers di Warrnambool, Australia, bahkan menggelar acara rilis dini pukul 06.30 pagi.

Sementara itu, di dunia olahraga, pemain WNBA Sophie Cunningham membalas kritik yang menyerukan agar ia dilepas oleh Indiana Fever. Dalam podcast “No Hesitation”, Cunningham menanggapi kolom dari Candace Buckner di The Athletic yang menyebutnya terlalu kontroversial untuk bermain bersama Caitlin Clark. Cunningham menyatakan, “Jika Anda hidup dari pujian, Anda akan mati oleh kebencian,” dan menegaskan bahwa ia tetap akan menjadi dirinya sendiri. Manajer Umum Fever, Amber Cox, mengatakan bahwa spekulasi luar tidak akan mempengaruhi evaluasi tim terhadap pemainnya.

Caitlin Clark sendiri, setelah tersingkirnya Indiana Fever dari babak pertama playoff oleh Las Vegas Aces, memberikan kabar terbaru tentang liburannya. Dalam unggahan Instagram Story, Clark menunjukkan dirinya bermain golf di lapangan yang belum disebutkan namanya. Ia sebelumnya mengaku belum memutuskan perpanjangan kontrak EPIC (Exceptional Performance on Initial Contract) dengan Fever karena sibuk bermain golf setiap hari. Musim 2025 Clark diganggu cedera pangkal paha dan quad, sehingga ia hanya bermain dalam 13 pertandingan dan memutuskan untuk tidak bermain di playoff demi pemulihan.

Baca juga:
Sudirman Said Kembali Diperiksa Kejagung sebagai Saksi Kasus Korupsi Petral

Dari berbagai peristiwa tersebut, kata “fever” muncul dalam konteks yang berbeda-beda: sebagai nama penyakit mematikan, sebagai nama tim basket profesional, dan sebagai istilah untuk demam penggemar. Meskipun demikian, pesan yang sama dapat ditarik: baik demam akibat virus maupun demam karena kegembiraan, keduanya memerlukan penanganan yang tepat dan bijaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *