Sorothari – 14 Oktober 2026 | Pebalap Yamaha, Álex Rins, meminta maaf secara terbuka atas insiden gestu kasar yang dilakukannya terhadap seorang marshal atau petugas lintasan saat sesi latihan bebas kedua (FP2) MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika, Jumat (9/10/2026) lalu. Dalam pernyataannya, Rins mengaku menyesali perbuatannya yang sempat memperlihatkan jari tengah sambil melontarkan makian kepada petugas tersebut. Namun, di balik permintaan maafnya, Rins juga mengungkapkan bahwa ia menerima ancaman pembunuhan dan kekerasan di media sosial pasca kejadian itu.
Insiden bermula saat Álex Rins terjatuh dari motornya di akhir sesi FP2. Saat berusaha kembali ke dalam pit, terjadi kesalahpahaman antara dirinya dengan marshal yang bertugas. Rins mengira ia akan mendapat bantuan untuk kembali ke paddock, tetapi ternyata waktu sesi telah hampir habis dan petugas tidak dapat memfasilitasinya. Kekecewaan itu memicu reaksi berlebihan dari pebalap asal Spanyol tersebut yang kemudian viral di media sosial setelah diunggah oleh seorang penonton.
Baca juga:Dalam unggahan klarifikasinya, Rins menekankan bahwa perbuatannya tidak dapat dibenarkan. Ia secara khusus meminta maaf kepada para penggemar muda yang mungkin melihat aksinya. “Saya ingin meluruskan apa yang terjadi setelah kecelakaan. Ada kesalahpahaman dengan marshal saat saya mencoba kembali ke pit. Itu adalah momen yang menegangkan dan saya bereaksi dengan cara yang tidak seharusnya. Saya minta maaf atas gestur saya. Itu tidak benar, apalagi mengetahui ada penggemar muda yang menonton kami. Saya sangat menghormati marshal dan pekerjaan yang mereka lakukan,” ujar Rins dalam pernyataan resminya.
Tanggapan Atas Ancaman
Meskipun telah mengakui kesalahan, Rins menyayangkan respons sebagian warganet yang dinilai sudah melampaui batas. Ia mengaku menerima banyak komentar bernada ancaman kekerasan hingga ancaman pembunuhan di akun media sosialnya. “Namun, saya juga menerima beberapa komentar yang sangat serius, termasuk yang merujuk pada kematian dan kekerasan. Saya paham mengapa orang marah dengan reaksi saya, tetapi ancaman dan pelecehan tidak boleh ditoleransi. Kita semua bisa berbuat salah, dan saya bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi,” tegasnya.
Insiden ini menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar MotoGP, terutama di Indonesia. Banyak yang mengecam tindakan Rins, namun tidak sedikit pula yang mengecam ancaman kekerasan yang diterimanya. Pihak penyelenggara MotoGP dan tim Yamaha dilaporkan telah memberikan dukungan penuh kepada Rins dan menyerukan agar diskusi di media sosial tetap berlangsung secara santun.
Baca juga:Performa di Mandalika
Di sisi lain, dari sisi performa, Álex Rins harus puas memulai balapan dari posisi ke-13 setelah gagal lolos ke Q2. Ia hanya mampu menjadi pebalap tercepat ketiga di Q1 di bawah Fermín Aldeguer dan Ai Ogura. Rekan setimnya, Maverick Viñales, justru memulai balapan dari posisi ke-18, sementara Aleix Espargaró berada di urutan ke-22. Sesi kualifikasi sendiri menjadi milik Raúl Fernández yang berhasil meraih pole position pertamanya di MotoGP, unggul tipis dari Marco Bezzecchi dan Fabio Di Giannantonio. Marc Márquez dan Jorge Martín masing-masing memulai balapan dari posisi keempat dan kelima.
Meskipun hasil kualifikasi kurang memuaskan, Rins bertekad untuk bangkit pada balapan utama. Namun, ia juga harus menghadapi konsekuensi dari insiden sebelumnya. Belum ada pengumuman resmi mengenai sanksi dari pihak Federasi Balap Motor Internasional (FIM) terkait gestur kasar tersebut.
MotoGP akan kembali bergulir pada akhir pekan depan di Sirkuit Phillip Island, Australia, untuk seri ke-18 musim 2026. Álex Rins diharapkan dapat menunjukkan performa yang lebih baik dan meninggalkan kontroversi di Mandalika. Seluruh mata kini tertuju pada bagaimana pebalap Yamaha itu mengelola tekanan dan kembali fokus pada kompetisi.
Baca juga:











