Sorothari – 15 Oktober 2026 | Pertandingan Clasico Tapatio antara Atlas dan Guadalajara pada pekan ke-11 Apertura 2026 berakhir dengan skor imbang. Meskipun Chivas tampil dominan dalam berbagai aspek statistik, mereka gagal meraih kemenangan atas rival sekotanya. Laga yang berlangsung di Estadio Jalisco tersebut menyajikan tensi tinggi, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Chivas unggul dalam penguasaan bola dengan 57 persen, menciptakan lebih banyak peluang emas, total tembakan, tembakan tepat sasaran, dan memiliki nilai expected goals (xG) yang lebih tinggi. Data menunjukkan bahwa tim asuhan Gabriel Milito seharusnya mampu mencetak dua gol berdasarkan kualitas peluang yang mereka ciptakan. Namun, penyelesaian akhir yang kurang klinis kembali menjadi momok bagi El Rebaño. Masalah ini semakin terasa sejak kepergian Armando Gonzalez, yang sebelumnya menjadi andalan di lini depan.
Baca juga:Di sisi defensif, Chivas juga tampil solid dengan memenangkan 72 persen duel, unggul dalam total tekel (25 berbanding 10), dan melakukan 41 kali recovery bola berbanding 35 milik Atlas. Statistik ini menunjukkan bahwa Chivas tidak hanya dominan dalam menyerang tetapi juga dalam merebut kembali penguasaan bola. Namun, kegagalan memanfaatkan peluang menjadi catatan serius yang harus segera dibenahi mengingat liguilla semakin dekat.
Dukungan Suporter Atlas dan Rekor Asistensi
Sementara itu, Atlas justru mencatatkan prestasi membanggakan di luar lapangan. Klub berjuluk Rojinegros ini memimpin daftar asistensi total penonton pada Apertura 2026. Hingga pekan ke-11, Atlas telah mengumpulkan 241.442 penonton dalam enam pertandingan kandang di Estadio Jalisco, dengan rata-rata 40.240 penonton per laga. Dukungan luar biasa ini tak lepas dari geliat baru setelah akuisisi klub oleh Grupo PRODI, yang memicu optimisme di kalangan suporter.
Monterrey menempati posisi kedua dalam asistensi total (239.278) namun unggul dalam rata-rata penonton per pertandingan (47.856) karena hanya memainkan lima laga kandang. America juga mencatat rata-rata tinggi (41.164), sementara Chivas dan Cruz Azul melengkapi lima besar. Di sisi lain, Pumas menjadi salah satu tim dengan asistensi terendah (83.177), meskipun laga melawan Cruz Azul menjadi yang terpadat (25.580 penonton).
Baca juga:Sejarah Kelam Rivalitas Atlas vs Queretaro
Di luar laga Clasico Tapatio, rivalitas Atlas dengan Queretaro menyimpan sejarah kelam yang kembali mencuat ke permukaan. Rivalitas ini berakar dari peristiwa kekerasan yang terjadi pada 5 Maret 2022 di Estadio Corregidora, ketika pertandingan Clausura 2022 berubah menjadi tragedi. Bentrokan antara kelompok suporter La Resistencia Albiazul (Queretaro) dan La 51 (Atlas) mengakibatkan 26 orang luka-luka, tiga di antaranya dalam kondisi serius. Insiden tersebut memicu sanksi berat dan investigasi terhadap protokol keamanan.
Sejarah permusuhan kedua kelompok pendukung ini dimulai sejak 2007, saat Queretaro terdegradasi ke divisi dua. Setelah Gallos Blancos kembali ke Liga MX pada 2010, ketegangan terus meningkat. Pada 2013, pertandingan di Corregidora kembali diwarnai kericuhan, meskipun berakhir tanpa gol. Tragedi 2022 menjadi puncak dari rangkaian kekerasan yang selama 15 tahun telah mewarnai setiap pertemuan kedua tim.
Cuaca dan Kebijakan Air di Guadalajara
Sementara itu, di luar dunia sepak bola, warga Guadalajara dan sekitarnya harus bersiap menghadapi pemadaman air bergilir. Sistema Intermunicipal de los Servicios de Agua Potable y Alcantarillado (SIAPA) akan memberlakukan jadwal rotasi mulai 15 Oktober 2026. Kebijakan ini bertujuan untuk mendistribusikan sumber daya air secara merata di tengah tekanan pasokan. SIAPA telah menyediakan peta interaktif daring agar warga dapat mengecek jadwal pemadaman di wilayah masing-masing. Wilayah metropolitan dibagi menjadi tujuh sektor dengan hari pemadaman yang berbeda.
Baca juga:Kembali ke panggung sepak bola, catatan dominasi Chivas atas Atlas dalam statistik tidak serta merta berbuah kemenangan. Pelatih Gabriel Milito harus segera mencari solusi atas tumpulnya lini depan jika ingin bersaing di babak gugur. Sementara itu, Atlas, meskipun tidak tampil dominan, berhasil mempertahankan rekor tak terkalahkan di kandang berkat soliditas pertahanan dan dukungan puluhan ribu suporter setia yang memadati Estadio Jalisco.












