Berita  

Berburu Harta Karun: Dari Artefak Kuno Hingga Stempel Wisata

Berburu Harta Karun: Dari Artefak Kuno Hingga Stempel Wisata
Berburu Harta Karun: Dari Artefak Kuno Hingga Stempel Wisata

Sorothari – 15 Oktober 2026 | Istilah harta karun sering kali identik dengan peti emas dan permata yang terkubur. Namun, dalam konteks yang lebih luas, harta karun bisa berupa peninggalan sejarah bernilai tinggi, pengalaman berburu stempel di berbagai tempat wisata, atau bahkan ironi data kesejahteraan yang salah sasaran. Di Jawa Timur, misalnya, penemuan artefak emas dan perak dari era Kerajaan Medang hingga Majapahit menjadi bukti nyata kekayaan masa lalu Nusantara.

Salah satu temuan paling monumental terjadi pada tahun 1881 di Desa Muteran, Keresidenan Surabaya, yang kini masuk dalam Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Saat menggarap lahan pertanian, sekelompok petani menemukan wadah logam besar berisi berbagai benda berharga dari emas dan perak. Berdasarkan lokasi penemuannya, situs ini dikaitkan dengan masa Kerajaan Medang hingga Majapahit, yakni sekitar abad ke-10 hingga ke-14 Masehi. Temuan ini kerap dibandingkan dengan temuan Wonoboyo yang juga kaya akan artefak emas.

Baca juga:
Geliat Batam Terkini: Ekspansi Hotel Global, Fasilitas AI, hingga Dinamika Industri Musik

Sebagian koleksi dari Muteran kini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, sementara sebagian lainnya berada di Museum Volkenkunde di Belanda. Di antara koleksi penting yang tersimpan di Museum Nasional adalah Arca Kuwera, yang digambarkan duduk di atas bantalan teratai ganda sambil memegang kantong uang, serta Arca Yaksi dalam posisi padmasana. Selain itu, ditemukan pula Arca Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan dharmacakramudra. Koleksi lainnya meliputi kalung dengan bandul berbentuk daun palem dan jambu mete, kelat bahu dengan teknik hias repousse, serta ikat pinggang bermotif lidah api dan untaian ratna.

Penelusuran harta karun sejarah juga berlanjut di Situs Pandegong, Dusun Kwasen, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Pada tahun 2023, Tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur melakukan ekskavasi tahap keempat dan berhasil menyingkap struktur bangunan bata merah kuno berdenah cruciform lengkap dengan tiga candi perwara di sebelah barat candi utama. Selain struktur bangunan, para arkeolog menemukan sejumlah artefak lepas seperti pecahan arca berbahan batu andesit, koin kuno dari Dinasti Tang, pecahan keramik dari Dinasti Song, serta bandul jala berbahan terakota berbentuk bola kecil. Kehadiran koin dan keramik dari dinasti China tersebut menjadi petunjuk kuat adanya hubungan perdagangan dan pertukaran budaya di kawasan Jombang pada masa lampau.

Baca juga:
Rangkaian Agenda Meet Tingkat Global: Dari Diplomasi Irlandia hingga Inovasi Pemerintahan di India

Konsep berburu harta karun tidak hanya terbatas pada benda bersejarah. Aktivitas stamp hunting atau berburu stempel di berbagai tempat wisata juga memberikan sensasi serupa. Di Jepang, kegiatan mengumpulkan stempel dari stasiun kereta dan tempat wisata dikenal sebagai stamp rally. Aktivitas serupa juga bisa ditemukan di berbagai acara, pameran, hingga destinasi wisata yang menyediakan stempel khusus. Setiap lokasi biasanya menawarkan desain berbeda yang membuat koleksi terasa lebih personal. Menurut Christian Jarrett, ahli saraf kognitif dan penulis sains, proses berburu stempel memberikan kesenangan tersendiri saat berhasil menambahkannya ke koleksi. Hal ini juga didukung oleh Dr. Shirley M. Mueller yang menyatakan bahwa mengoleksi sesuatu memberikan kegembiraan dan kesenangan, yang menjadi pendorong bagi seseorang untuk terus melakukannya.

Di sisi lain, istilah harta karun juga muncul dalam konteks sosial yang ironis. Seorang nelayan di Mamuju, Sulawesi Barat, dikagetkan dengan statusnya yang tiba-tiba masuk dalam Desil 10—kelompok ekonomi teratas versi sistem data pemerintah. Padahal, kesehariannya hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan yang pas-pasan. Kejadian ini memicu berbagai tanggapan satire di media sosial, di mana sang nelayan dijuluki sultan bawah laut. Pemerintah sendiri menyatakan bahwa data tersebut masih dalam proses verifikasi dan validasi agar bantuan sosial tepat sasaran.

Baca juga:
Dinamika Terkini New Orleans: Dari Polemik Retribusi Kebersihan hingga Olahraga Komunitas

Dari artefak kuno di Trowulan hingga koin Dinasti Tang di Jombang, dari berburu stempel di berbagai destinasi hingga ironi data kesejahteraan, harta karun hadir dalam berbagai bentuk. Semua itu mengingatkan kita bahwa kekayaan tidak selalu berupa emas dan perak, tetapi juga bisa berupa pengetahuan, pengalaman, dan bahkan kritik sosial yang membangun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *