Pertumbuhan Airbnb di Italia dan Puerto Rico Picu Perdebatan Regulasi

Pertumbuhan Airbnb di Italia dan Puerto Rico Picu Perdebatan Regulasi
Pertumbuhan Airbnb di Italia dan Puerto Rico Picu Perdebatan Regulasi

Sorothari – 16 Oktober 2026 | Fenomena penyewaan jangka pendek melalui platform seperti Airbnb terus menunjukkan pertumbuhan signifikan di berbagai belahan dunia, memicu perdebatan mengenai regulasi dan dampaknya terhadap pasar perumahan serta industri perhotelan tradisional. Di Italia, khususnya di kawasan South Tyrol (Südtirol), pertumbuhan Airbnb tercatat hampir tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan rata-rata nasional, sementara di Puerto Rico, platform ini melaporkan peningkatan reservasi di kota-kota kecil yang sebelumnya kurang dikenal.

Menurut studi yang dirilis oleh Federalberghi, asosiasi pengusaha hotel Italia, pada Oktober 2026, jumlah properti yang ditawarkan melalui Airbnb di South Tyrol pada Agustus 2026 mencapai 9.351 unit. Angka ini melonjak 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pertumbuhan Airbnb di seluruh Italia hanya sebesar 7,2 persen pada periode yang sama. Studi bertajuk “Turismo e shadow economy” ini juga mengungkapkan bahwa 88,2 persen dari seluruh daftar properti di South Tyrol merupakan unit hunian utuh, bukan kamar pribadi. Lebih lanjut, 87,8 persen dari properti tersebut dikelola oleh tuan rumah yang memiliki lebih dari satu properti, dan lebih dari dua pertiga properti tersedia untuk disewa selama lebih dari enam bulan dalam setahun. Angka-angka ini berada di atas rata-rata nasional Italia.

Baca juga:
Japfa Optimalkan Manajemen Talenta Regional dengan Workday, Indonesia Jadi Pilot Project

Kota Meran mencatat jumlah daftar properti Airbnb terbanyak di South Tyrol dengan 505 unit, disusul oleh Bolzano (340), Kastelruth (339), Abtei (279), dan Brixen (261). Terkait kepatuhan regulasi, studi Federalberghi menemukan bahwa 688 daftar properti Airbnb di South Tyrol, atau sekitar 7,4 persen, tidak mencantumkan nomor identifikasi nasional (CIN) yang diwajibkan. Meskipun demikian, tidak disebutkannya nomor tersebut dalam daftar tidak secara otomatis berarti properti tersebut tidak terdaftar secara resmi.

Menanggapi pertumbuhan pesat ini, Asosiasi Hotel dan Restoran South Tyrol (HGV) menyerukan tindakan pengawasan yang lebih ketat. Presiden HGV, Klaus Berger, menekankan bahwa meskipun sewa jangka pendek merupakan bagian dari penawaran pariwisata, dampaknya terhadap komunitas lokal harus dipertimbangkan secara serius. “Selain kebutuhan tamu, kebutuhan akan tempat tinggal bagi penduduk setempat juga harus diperhatikan,” ujar Berger. Direktur HGV, Raffael Mooswalder, menyoroti dominasi tuan rumah multi-properti. “Jika hampir sembilan dari sepuluh daftar berasal dari penyedia yang mengelola beberapa properti, sebagian besar pasar ini berbeda dari penyewaan sesekali hunian pribadi,” jelasnya. HGV mendesak adanya kontrol yang konsisten terhadap peraturan yang berlaku, pendataan yang lebih baik mengenai penggunaan hunian untuk pariwisata, dan persaingan yang adil bagi semua penyedia akomodasi.

Sementara itu, di Italia secara nasional, ketegangan antara industri hotel dan platform sewa jangka pendek semakin memanas. Presiden Federalberghi, Bernabò Bocca, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita ANSA, menuntut penerapan aturan yang sama untuk sewa jangka pendek seperti yang berlaku untuk hotel. Salah satu usulannya adalah penerapan masa inap minimum lima malam. “Selama mereka diizinkan menyewakan untuk satu malam saja, mereka bergerak di pasar kami dan harus tunduk pada aturan yang sama seperti kami,” tegas Bocca. Bocca mengkritik bahwa tuan rumah pribadi dapat menawarkan properti mereka secara selektif selama periode permintaan tinggi tanpa harus menanggung biaya operasional setinggi hotel. Ia menyebut praktik ini sebagai persaingan tidak sehat, namun menegaskan bahwa dirinya tidak menuntut larangan total terhadap sewa liburan, melainkan regulasi yang lebih baik.

Baca juga:
Harga Emas Hari Ini Kamis 23 Juli 2026: Antam, Galeri24, dan UBS Kompak Naik

Asosiasi penyewa jangka pendek Italia, AIGAB, mengecam pernyataan Federalberghi sebagai serangan berulang dan tidak pantas terhadap industri mereka. AIGAB berargumen bahwa sewa liburan seringkali memenuhi kebutuhan yang berbeda dari hotel, terutama bagi keluarga yang mencari lebih banyak ruang, privasi, dan biaya yang lebih rendah. Mereka juga menekankan bahwa pendapatan dari sewa properti merupakan tambahan finansial penting bagi banyak rumah tangga Italia. Pemerintah Italia dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan perwakilan industri hotel dan sewa liburan pada 22 Oktober untuk membahas proposal regulasi Eropa.

Di sisi lain Samudra Atlantik, Airbnb di Puerto Rico melaporkan tren berbeda. Berdasarkan data internal perusahaan, kota San Germán mencatat pertumbuhan reservasi tertinggi di Puerto Rico pada tahun 2025, dengan peningkatan hampir 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi bagian dari laporan Destinasi Wisata Baru Airbnb untuk Amerika Latin, yang menunjukkan minat wisatawan yang meningkat terhadap destinasi di luar kawasan pesisir utama. Empat kota lain yang masuk dalam daftar destinasi baru tersebut adalah Jayuya, Coamo, Barranquitas, dan Maunabo. Secara keseluruhan, reservasi di kota-kota ini meningkat lebih dari 25 persen antara tahun 2024 dan 2025, sementara pencarian naik rata-rata 10 persen.

Airbnb juga mengungkapkan bahwa sekitar 55 persen dari pengeluaran wisatawan untuk barang dan jasa, tidak termasuk akomodasi, dibelanjakan di lingkungan yang sama dengan tempat mereka menginap. Rata-rata pengeluaran per orang mencapai sekitar 290 dolar AS per hari. Sekitar 70 persen tamu yang disurvei melaporkan menghemat uang dengan memilih akomodasi melalui Airbnb, dan 60 persen dari mereka menggunakan sebagian dari penghematan tersebut untuk membelanjakan lebih banyak barang dan jasa lainnya. Data ini juga menunjukkan peran tuan rumah sebagai sumber rekomendasi; sekitar 60 persen tamu menerima rekomendasi restoran dari tuan rumah, dan 35 persen mendapat saran tentang tempat atau aktivitas luar ruangan. Hampir 60 persen dari rekomendasi tersebut mengarah ke tempat usaha yang berlokasi di lingkungan yang sama dengan tempat tinggal mereka.

Baca juga:
IHSG Anjlok 32,97% Sepanjang 2026, Sekuritas Sesuaikan Strategi Bisnis

Sementara itu, di tingkat global, Airbnb terus memperluas layanan bagi para tuan rumahnya. Peluncuran alat penetapan harga dinamis (dynamic pricing) baru-baru ini dipandang oleh analis sebagai langkah awal menuju model waralaba lunak (soft franchise), mirip dengan cara kerja grup hotel besar seperti Hilton, Marriott, atau IHG dengan pemilik properti. Menurut catatan riset dari Bernstein, alat yang memungkinkan tuan rumah melihat kisaran harga yang direkomendasikan berdasarkan permintaan dan penawaran ini merupakan langkah signifikan. Saat ini, layanan tersebut diberikan secara gratis kepada tuan rumah, yang pada umumnya membayar komisi sekitar 15,5 persen. Bernstein menulis bahwa perusahaan “secara stabil memperluas area yang berada lebih dekat dengan pengelolaan aset itu sendiri,” dan menambahkan bahwa alat penetapan harga hanyalah contoh paling jelas, dan kemungkinan akan diikuti oleh penawaran lain seperti konsultasi desain, perangkat lunak manajemen properti, komunikasi tamu, koordinasi kebersihan, asuransi, dan perangkat keras rumah pintar. Langkah-langkah ini, menurut analis, bisa jadi lebih sesuai untuk tuan rumah individu yang tidak memerlukan distribusi multi-platform.

Perdebatan mengenai regulasi Airbnb dan platform serupa diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan pertumbuhan sektor ini. Di Italia, pertemuan antara pemerintah dan pemangku kepentingan pada akhir Oktober akan menjadi momen krusial dalam menentukan arah kebijakan ke depan, sementara di Puerto Rico, fokus saat ini adalah pada bagaimana pertumbuhan pariwisata dapat didistribusikan secara lebih merata ke seluruh wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *