Berita  

Karhutla Kalimantan Meluas, 64.913 Balita Terkena ISPA dan Aksi Protes Meledak

Karhutla Kalimantan Meluas, 64.913 Balita Terkena ISPA dan Aksi Protes Meledak
Karhutla Kalimantan Meluas, 64.913 Balita Terkena ISPA dan Aksi Protes Meledak

Sorothari – 16 Oktober 2026 | Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kian mengkhawatirkan. Asap pekat yang menyelimuti sejumlah wilayah tidak hanya merusak kualitas udara, tetapi juga memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada balita. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga Rabu (14/10/2026) pukul 16.00 WIB, sebanyak 288.540 kasus ISPA terjadi akibat karhutla di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Dari jumlah itu, 64.913 di antaranya adalah balita.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, Then Suyanti, merinci bahwa 219.559 penderita berusia di atas 5 tahun, sedangkan 63.711 lainnya anak di bawah 5 tahun. Kasus terbanyak dilaporkan di Kalimantan Selatan dengan 74.636 penderita, disusul Sumatra Selatan 74.458 penderita. Kualitas udara di 12 kabupaten/kota terdampak karhutla bahkan masuk kategori berbahaya. Wilayah tersebut meliputi enam kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, satu di Kalimantan Selatan, dua di Jambi, dua di Sulawesi Selatan, dan satu di Riau.

Baca juga:
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026: Suara Nyata untuk Perubahan Nyata

Di media sosial, para orang tua yang anaknya terdampak ISPA ramai menyuarakan keprihatinan. Monica, seorang ibu di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menceritakan bayinya yang berusia 10 bulan mengalami batuk hingga muntah setelah terus-menerus terpapar asap karhutla. Menurut Monica, batuk si kecil mulai muncul tiga bulan lalu saat asap mulai pekat, namun dua minggu terakhir kondisinya memburuk. “Setiap malam dan subuh, bayi saya batuk sampai muntah,” ujarnya dalam unggahan video di Instagram pribadinya, @monicaaidenjenar. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari membawa bayi ke dokter spesialis anak, pemberian obat, pijat batuk pilek, hingga nebulizer. Monica juga rutin membawa bayinya ke rumah aman asap untuk terapi oksigen setiap pekan. Meski telah memasang dua air purifier dan menghidupkan AC di kamar, indikator air purifier tetap berwarna merah setiap subuh.

Senada dengan Monica, akun Instagram @tehprem juga membagikan video seorang bayi yang mengalami muntah berdarah akibat paparan asap karhutla. Kisah-kisah ini menyoroti dampak kesehatan yang serius dari bencana lingkungan tersebut.

Krisis lingkungan yang dipicu badai El Nino ini disebut sebagai salah satu musim kebakaran terparah dalam beberapa tahun terakhir. Lahan gambut dan hutan kering berubah menjadi lautan api yang sulit dipadamkan, memicu bencana kesehatan lintas provinsi bahkan hingga menembus batas negara tetangga. Asap racun dilaporkan mengepul hingga Singapura dan memaksa peliburan sekolah di sejumlah negara bagian Malaysia. Data Kemenkes per 13 Oktober menunjukkan angka penderita ISPA melesat tajam menembus 283.270 kasus di tujuh provinsi terdampak, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan catatan 9 September lalu yang sebanyak 113.336 kasus.

Gelombang demonstrasi pun meletus di berbagai wilayah Indonesia. Massa menuntut pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional, melakukan pemadaman lebih masif, menghukum berat perusahaan pembakar lahan, serta memberikan jaminan keselamatan bagi warga terdampak. Aksi unjuk rasa membara terjadi di Kalimantan Tengah pada 15 Oktober 2026, bertepatan dengan kunjungan kerja Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Pangkalan Bun. Perwakilan dari 15 desa bersama kelompok relawan pemadam kebakaran mengepung bundaran jalan utama. Mereka menuntut pengerahan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang mustahil diakses jalur darat.

Baca juga:
Cuaca Akhir Pekan Lebih Dingin dan Berangin, Peringatan Angin Kencang di Beberapa Wilayah

Yusuf, seorang kepala desa setempat, mengungkapkan penderitaan warganya yang telah berbulan-bulan terperangkap asap. “Mata pencaharian warga lumpuh, sekolah-sekolah diliburkan, dan para relawan bekerja siang malam tanpa henti. Kami hanya ingin diakui dan didengar oleh negara,” tegas Yusuf seperti dikutip dari Detikcom. Jeritan senada disampaikan Alfan, kepala desa lainnya, yang mendesak kehadiran nyata pemerintah pusat.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sebaran asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra telah mencapai atmosfer Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Banten. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan konsentrasi asap di ibu kota sangat bergantung pada jumlah titik panas (hotspot) dan kualitas udara di daerah asal. “Yang terbakar makin banyak atau makin turun? Kalau hari ini makin turun, maka tentunya asapnya juga makin sedikit,” kata Guswanto kepada wartawan, Jumat (16/10/2026). Ia menambahkan dampak sebaran asap dapat dipantau melalui indikator kualitas udara. “Kalau makin naik, berarti paparannya makin tinggi. Tapi kalau air quality-nya makin bersih, berarti paparannya hanya di udara tingkat atas, atmosfer bagian atas,” ungkapnya. Meski demikian, Guswanto mengimbau masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan dan mengenakan masker. “Pakai masker, batasi kegiatan di luar ruangan dulu, lebih baik. Kalau olahraga, nge-gym saja di gym. Tidak usah lari di luar ruangan,” jelasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menyatakan pihaknya terus memantau kualitas udara secara real time melalui penambahan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU). Langkah ini untuk memastikan akurasi data dan mengantisipasi dampak buruk bagi warga Jakarta.

Di sisi lain, perusahaan perkebunan Salim Ivomas Pratama (SIMP) angkat bicara terkait karhutla yang melanda sejumlah wilayah operasinya. Corporate Secretary SIMP, Meyke Ayuningrum, menegaskan perseroan konsisten menerapkan kebijakan larangan pembakaran (zero burning policy) dan membersihkan lahan secara mekanis. SIMP juga memantau titik api menggunakan data satelit dari NOAA dan NASA, lalu mencocokkannya dengan peta konsesi resmi. “Sampai dengan saat ini, tidak ada dampak material terhadap kegiatan usaha atau kelangsungan usaha perseroan,” tegas Meyke. Perusahaan juga melengkapi setiap perkebunan dengan kendaraan dan peralatan pemadam kebakaran, serta melatih karyawan dalam prosedur tanggap darurat. Kolaborasi dengan masyarakat sekitar juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pencegahan kebakaran.

Baca juga:
Menteri PU Dody Hanggodo Klarifikasi Penggunaan Private Jet: Milik Kemenhub, Bukan Swasta

Pemerintah terus berupaya menangani karhutla, khususnya di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bahkan bermalam di lokasi untuk memastikan percepatan pemadaman. Tim gabungan yang terdiri dari TNI-Polri, BPBD, BMKG, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan masyarakat dibagi menjadi tiga kelompok: pembuka akses jalan, pembangun sumur bor, dan pemadam api. Salah satu capaian penting adalah terbukanya jalan setapak sepanjang 1,8 kilometer menuju Shelter Pesalat. “Akses jalan sudah berhasil kita tembus sekitar 1,8 kilometer menuju Shelter Pesalat, dan kita juga menentukan titik-titik sumber air, penempatan flexible tank atau portable tank, serta sumur bor,” ujar Raja Antoni, Jumat (16/10/2026).

Menhut bersama jajaran meninjau jalur baru dengan berjalan kaki dari Tanjung Harapan ke Shelter Pesalat. Di sekitar shelter, tim menyiapkan embung untuk menampung air yang akan disalurkan ke titik kebakaran. Pekerjaan berlanjut hingga malam dengan pemasangan mesin pompa air. “Dibagi dua tim yang memasang. Kita pasang malam ini, biar besok bisa langsung dipakai, kita bermalam biar dipastikan terpasang,” kata Raja Antoni. Ketersediaan sumber air dan akses memadai menjadi kunci operasi pemadaman di kawasan taman nasional tersebut.

Hingga saat ini, karhutla di Kalimantan masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis ini, termasuk menetapkan status bencana nasional agar penanganan lebih terkoordinasi dan sumber daya dapat dimobilisasi secara maksimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *