Berita  

Penyebab BBM Langka di Bali: Distribusi Terhambat, Panic Buying, dan Penimbunan

Penyebab BBM Langka di Bali: Distribusi Terhambat, Panic Buying, dan Penimbunan
Penyebab BBM Langka di Bali: Distribusi Terhambat, Panic Buying, dan Penimbunan

Sorothari – 17 Oktober 2026 | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bali pada pertengahan Oktober 2026 membuat masyarakat antre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Penyebab BBM langka di Bali bukan karena kekurangan stok nasional, melainkan akibat gangguan distribusi, cuaca buruk, lonjakan konsumsi Pertalite, serta aksi panic buying. Kondisi ini diperparah oleh praktik penimbunan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi yang dilakukan sejumlah oknum.

Menurut keterangan Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, salah satu kapal tanker pengangkut BBM mengalami kesulitan menurunkan jangkar saat proses bongkar muat. Jadwal yang semula ditetapkan pada Senin, 12 Oktober 2026 pukul 06.30 WITA terpaksa mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA. Keterlambatan ini berdampak langsung pada penurunan stok di depo utama seperti Sanggaran dan Manggis, yang kemudian berimbas ke SPBU di Denpasar, Badung, Klungkung, Buleleng, dan wilayah lainnya.

Baca juga:
Aktivitas Gunung Merapi Berstatus Siaga dan Kebijakan Baru Wisata Lereng

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa stok Pertalite nasional mengalami pergeseran dari sebelumnya di atas 20 hari menjadi 16–18 hari. “Secara stok nasional BBM itu di 16–18 hari. Yang terjadi pergeseran dari 16–18 hari itu adalah RON 90 (Pertalite),” ujar Bahlil di Jakarta, Jumat (16/10). Ia menyebut peralihan konsumen dari Pertamax ke Pertalite akibat disparitas harga turut menguras stok. Proses blending di kilang sedang berlangsung dan diperkirakan butuh waktu sepekan untuk memulihkan stok ke level 20 hari.

Kementerian ESDM melalui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa masalah utama terletak pada distribusi, bukan ketahanan stok nasional. Faktor cuaca dan gelombang tinggi menghambat kapal bersandar meski telah tiba di perairan Bali. Sebagai daerah kepulauan yang bergantung pada pasokan dari Jawa Timur, keterlambatan satu atau dua kapal saja sudah cukup menekan rantai pasok.

Selain kendala distribusi, aksi panic buying masyarakat memperparah pengosongan stok di SPBU. Warga berbondong-bondong mengisi bahan bakar secara bersamaan, sebagian bahkan pingsan karena kelelahan menunggu. Ojek online kesulitan beroperasi, jasa rental kendaraan menerima pembatalan pesanan, dan mobilitas sehari-hari terhambat. Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, mengungkapkan bahwa biro perjalanan harus menyesuaikan rencana perjalanan dengan kondisi lalu lintas. Wisatawan yang sudah berada di Bali diarahkan ke destinasi yang lebih dekat dan tidak terlalu padat. “Sementara ini belum ada cancel, tetapi yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya yang tadinya di Bali Selatan, kita bawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit crowded-nya,” kata Winastra di Jimbaran, Kabupaten Badung, Sabtu (17/10/2026).

Baca juga:
Menhub Minta Maskapai Penuhi Hak Penumpang Usai Houthi Serang Bandara Riyadh

Di sisi lain, praktik penimbunan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi turut menjadi penyebab BBM langka di Bali. Polda Bali menetapkan tujuh tersangka dalam kasus penimbunan solar bersubsidi dan penjualan Pertalite dengan harga tinggi. Kabid Humas Polda Bali, Kombes Ariasandy, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi segala bentuk penyalahgunaan BBM bersubsidi. “Tindakan tegas ini kami lakukan demi melindungi hak masyarakat yang memang membutuhkan BBM subsidi tersebut,” ujarnya di Denpasar, Jumat.

Dalam pengungkapan kasus pertama, Ditreskrimsus Polda Bali mengamankan seorang pria berinisial IMS (64) di Tabanan yang diduga menimbun 300 liter solar bersubsidi. Ia memanfaatkan kode batang kendaraan dan kode batang petani untuk membeli solar di SPBU, lalu menampungnya dalam jeriken dan mengangkut menggunakan mobil Suzuki Carry. Pengungkapan berawal dari informasi masyarakat pada Sabtu (10/10) sekitar pukul 00.30 Wita. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti terkait penjualan Pertalite dengan harga tinggi. Kasus ini melibatkan jajaran Ditreskrimsus Polda Bali, Satreskrim Polresta Denpasar, Polres Buleleng, Polres Badung, dan Polres Gianyar.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Badung, I Gusti Lanang Umbara, menyoroti krisis BBM yang memicu antrean panjang dan kemacetan. Ia mendesak pemerintah pusat dan Pertamina segera menambah armada distribusi serta mengambil langkah konkret. “Yang pertama, jelas kami prihatin, sangat prihatin dan sangat menyesalkan kok bisa seperti ini. Sedangkan Bali itu adalah tujuan pariwisata internasional,” kata Lanang Umbara, Jumat (16/10/2026). Menurutnya, gangguan pasokan energi merugikan pekerja, pelaku UMKM, dan pengusaha pariwisata. Ia juga mempertanyakan tata kelola distribusi BBM dan menilai perlu evaluasi serius dari pemerintah pusat.

Baca juga:
Transformasi Digital ASN: BKN Dorong Digitalisasi Manajemen Kepegawaian di Berbagai Daerah

Pemerintah dan Pertamina telah mengupayakan berbagai langkah untuk mengatasi kelangkaan, seperti mengirim pasokan tambahan, menggelar operasi pasar, dan mengoperasikan SPBU secara nonstop. Meski demikian, pemulihan penuh masih menunggu proses blending di kilang dan perbaikan cuaca. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai kapan pasokan akan benar-benar normal kembali. Masyarakat diimbau tidak melakukan panic buying agar distribusi tidak semakin terhambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *