Sorothari – 18 Oktober 2026 | Film Whalefall menghadirkan pendekatan tak lazim dalam dunia perfilman. Sutradara Brian Duffield mengungkapkan bahwa tim produksi menggunakan denyut jantung asli Josh Brolin untuk menghidupkan paus sperma raksasa yang menjadi latar utama cerita. Keputusan ini diambil demi menciptakan pengalaman sinematik yang terasa personal dan menggetarkan.
Whalefall diadaptasi dari novel tahun 2023 karya Daniel Kraus. Ceritanya mengikuti Jay Gardiner (Austin Abrams), seorang mahasiswa yang tenggelam dalam penyesalan setelah kepergian ayahnya, Mitt (Josh Brolin), yang meninggal karena kanker. Mitt adalah seorang penyelam scuba yang penuh semangat namun tidak stabil, dan memilih mengakhiri hidupnya di perairan lepas pantai California. Jay kemudian memutuskan untuk mencari jenazah ayahnya di bawah laut, namun sebuah kejadian tak terduga mengubah misinya menjadi pertarungan hidup dan mati.
Baca juga:Dalam sebuah adegan, Jay ditelan oleh paus sperma raksasa. Selama kurang lebih 90 menit, ia harus bertahan hidup di dalam perut hewan tersebut dengan sisa oksigen yang terbatas. Ia tidak hanya berjuang melawan lingkungan yang semakin hostile, tetapi juga harus menghadapi makhluk lain yang ikut tertelan, termasuk cumi-cumi raksasa. Sepanjang film, penonton dibawa masuk ke dalam pengalaman mencekam sekaligus introspektif tentang hubungan Jay dengan ayahnya.
Yang membuat Whalefall istimewa adalah detail-detail kecil yang membangun keterhubungan antara ayah dan anak. Duffield mengungkapkan bahwa selain menggunakan detak jantung Brolin, tim kreatif juga mendesain luka-luka pada tubuh paus yang menyerupai luka di wajah Mitt. “Kami benar-benar tidak punya rekaman detak jantung paus sperma asli. Jadi kami berpikir, kami butuh detak jantung; dari mana? Lalu kami sadar, kami punya Josh!” ujar Duffield dalam wawancara dengan Variety saat premiere di Teater El Capitan.
Suara detak jantung Brolin direkam dan dipercepat dua kali lipat untuk menciptakan ritme raksasa. Efeknya, paus tersebut seolah memiliki nyawa yang berasal dari sosok Mitt. Dalam film, Jay berkomunikasi dengan roh ayahnya melalui suara Brolin, yang menyatu secara surealis dengan keberadaan paus. Detak jantung itu juga memicu kilatan cahaya di dalam tubuh paus, menambah dimensi visual yang memukau.
Pendekatan ini bukan sekadar gimmick. Whalefall ingin menyampaikan bahwa paus bukanlah monster yang harus ditakuti, melainkan makhluk yang heroik. “Saya pikir dalam banyak hal, paus adalah pahlawan dalam film ini,” kata Duffield kepada Reuters di London pada 5 Oktober. Ia menyebut filmnya sebagai “kebalikan dari Jaws”, karena berharap penonton keluar dengan rasa kagum terhadap paus, bukan ketakutan.
Baca juga:Secara anatomis, premis Whalefall memang mungkin terjadi, meskipun belum pernah tercatat. Paus sperma adalah satu-satunya spesies paus yang memiliki tenggorokan cukup lebar untuk menelan manusia utuh. Namun, tidak ada catatan resmi tentang paus yang benar-benar menelan manusia. “Saya hampir tidak bisa memasukkan lengan saya ke tenggorokan paus fin,” ujar Joy Reidenberg, ahli anatomi komparatif dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York, kepada Science News. Paus fin termasuk dalam keluarga rorqual, yang menelan air dalam jumlah besar namun tenggorokannya sempit.
Meskipun demikian, ada kasus nyata yang mendekati. Pada Juni 2021, Michael Packard, seorang penyelam lobster komersial, sempat masuk ke dalam mulut paus humpback di lepas Cape Cod, Massachusetts. Ia berada di dalam mulut paus selama 30-40 detik sebelum akhirnya dimuntahkan. Packard tidak sampai masuk ke tenggorokan, tetapi kejadian itu menunjukkan bahwa interaksi semacam itu bisa terjadi, walau sangat jarang.
Whalefall juga mengeksplorasi dimensi emosional yang kuat. Jay harus menghadapi trauma masa lalunya, dan paus yang menelannya menjadi metafora dari perut kegelapan yang menyimpan luka. Sutradara Brian Duffield berhasil menyatukan elemen survival thriller dengan drama keluarga yang menyentuh. Austin Abrams memikul beban akting yang berat, karena sebagian besar adegan hanya menampilkan dirinya seorang diri di dalam ruang sempit. Ia harus mengekspresikan rasa takut, frustrasi, kelelahan, dan kerapuhan tanpa banyak dialog. Penampilannya dianggap sebagai salah satu kekuatan utama film ini.
Josh Brolin, meskipun hanya muncul dalam kilasan kenangan dan percakapan imajiner, memberikan kedalaman pada karakter Mitt. Hubungan ayah dan anak yang rumit menjadi inti dari perjalanan emosional Jay. Film ini tidak menggambarkan Mitt sebagai sosok sempurna, melainkan sebagai pria dengan kelebihan dan kekurangan yang meninggalkan bekas mendalam bagi putranya. Dukungan para pemain pendukung seperti Elisabeth Shue, John Ortiz, Jane Levy, dan Emily Rudd menambah lapisan pada dinamika keluarga Gardiner.
Baca juga:Dalam hal bertahan hidup, Jay harus menggunakan segala pengetahuan dan keterampilan menyelamnya. Ia mencoba berbagai cara untuk memaksa paus memuntahkannya, mulai dari merusak dinding lambung hingga memanfaatkan kondisi internal hewan. Ketika cara-cara itu gagal, ia nekat menyalakan campuran gas di dalam perut paus dengan baterai 9 volt dan wol baja, memicu ledakan yang membuka jalan keluar. Adegan pelariannya digambarkan agonis, keras, dan penuh perjuangan, hingga akhirnya ia berhasil keluar dan diselamatkan oleh tim ilmuwan dan personel darurat.
Whalefall dijadwalkan rilis secara global mulai 14 Oktober. Film ini menjadi salah satu dari tiga proyek besar Brolin tahun ini, selain Dune: Part Three yang akan tayang 18 Desember. Brolin menyatakan kegembiraannya atas kembali bergairahnya bioskop. “Pergi ke bioskop pada hari Minggu ketika saya masih awal dua puluhan dan akhir remaja, dan momen ketika lampu dimatikan, adalah pengalaman yang tidak pernah ingin saya lepaskan,” ujarnya. Sementara itu, film terbarunya yang lain, The Dog Stars arahan Ridley Scott, hanya meraup 8 juta dolar AS pada pekan pertama di Agustus, menunjukkan bahwa tidak semua proyeknya sukses secara komersial.
Whalefall menawarkan sesuatu yang berbeda: sebuah kisah bertahan hidup yang tidak hanya menegangkan tetapi juga merenung. Dengan menggabungkan elemen anatomi nyata, sentuhan surealis, dan kedalaman emosi, film ini mengajak penonton untuk melihat paus bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin dari hubungan manusia yang kompleks. Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai tanggal rilis di Indonesia, namun antusiasme penonton global tampaknya sudah terbangun.












