Street Fighter Movie 2026: Nostalgia 1990-an, Aksi Bela Diri, dan Kontroversi Sinematik

Street Fighter Movie 2026: Nostalgia 1990-an, Aksi Bela Diri, dan Kontroversi Sinematik
Street Fighter Movie 2026: Nostalgia 1990-an, Aksi Bela Diri, dan Kontroversi Sinematik

Sorothari – 18 Oktober 2026 | Jakarta – Industri perfilman kembali menyoroti kehadiran street fighter movie yang tayang di bioskop pada pertengahan Oktober 2026. Film adaptasi game legendaris ini disutradarai oleh Kitao Sakurai dan menghadirkan kembali karakter ikonis seperti Ryu, Ken, dan Chun-Li dalam balutan cerita yang berlatar tahun 1993. Menurut laporan dari berbagai sumber, film ini tidak sekadar mengangkat kembali nostalgia permainan arkade, tetapi juga mencoba menawarkan pendekatan sinematik yang berbeda dari adaptasi sebelumnya pada 1994. Namun, street fighter movie ini menuai beragam tanggapan, mulai dari pujian atas keberaniannya mengeksplorasi gaya visual era 90-an hingga kritik terkait konsistensi penyutradaraan dan pengembangan karakter.

Dalam street fighter movie ini, penonton diajak mengikuti kisah Ryu yang diperankan Andrew Koji dan Ken Masters yang diperankan Noah Centineo. Keduanya pernah memiliki hubungan seperti saudara, namun terpisah akibat sebuah peristiwa yang tidak dijelaskan secara rinci. Chun-Li, yang diperankan Callina Liang, muncul sebagai sosok misterius yang mendesak mereka untuk ikut serta dalam Turnamen World Warrior. Di balik turnamen tersebut, tersembunyi konspirasi M. Bison yang mengancam keselamatan banyak pihak. Alur cerita yang sederhana—reuni, kematian seorang guru, konflik, rekonsiliasi, dan pertarungan melawan kejahatan besar—menjadi kerangka utama, tetapi sutradara Kitao Sakurai berusaha merekonstruksi keanehan dan kelebihan sinema tahun 1990-an dengan teknologi tahun 2026.

Baca juga:
Aksi Seru Herjunot Ali Nge-DJ Meriahkan Soundrenaline 2026

Pendekatan unik ini menjadikan street fighter movie sebagai tontonan yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, film ini menampilkan tubuh-tubuh berotot, gaya rambut tidak realistis, kostum aneh, serta ekspresi fisik yang berlebihan. Musik pop era itu mengalun, dan adegan live-action kadang disambung dengan animasi secara tiba-tiba. Namun, yang direkonstruksi bukanlah tahun 1993 secara harfiah, melainkan sebuah masa artifisial yang diingat atau dibayangkan oleh penonton tahun 2026. Menurut ulasan yang beredar, inilah kunci pertama untuk memahami karya ini: sebuah fabrikasi era yang sengaja dibangun untuk membangkitkan sensasi nostalgia sekaligus menguji batas antara realitas dan representasi.

Latar belakang Kitao Sakurai sebagai sutradara komedi alternatif melalui The Eric Andre Show dan Bad Trip turut memengaruhi gaya penyutradaraan dalam street fighter movie. Ia dikenal mampu menciptakan tawa yang merusak tatanan gambar melalui peristiwa tak terduga. Dalam film ini, sensibilitas tersebut terasa kuat, terutama pada adegan pertarungan di kamar hotel antara Ryu dan Ken yang kembali bertemu. Ken yang meledak emosinya melancarkan serangan, sementara Ryu dengan mudah mengelak dan menggunakan bantal serta sofa untuk mempermainkan lawan. Adegan ini menunjukkan bahwa keunggulan fisik tidak diukur dari kekuatan jurus khusus, melainkan dari timing gerakan dan pemanfaatan ruang. Pertarungan dan komedi slapstick dibangun di atas prinsip yang hampir sama, sebuah tradisi yang diwarisi dari Charlie Chaplin, Buster Keaton, hingga Jackie Chan.

Meskipun demikian, film ini tidak selalu berhasil mempertahankan fokus pada komedi fisik tersebut. Alur cerita terus bergerak ke berbagai arah akibat kemunculan karakter yang silih berganti, episode-episode lelucon, konspirasi plot, dan penghormatan terhadap game aslinya. Di sinilah letak kontradiksi mendasar antara gaya penulisannya dan proyek adaptasi waralaba besar. Kritik pun muncul terkait bagaimana film mengelola waktu layar dan pengembangan karakter. Salah satu contohnya adalah adegan pertarungan di sauna antara Ryu dan E. Honda yang berpotensi memberikan materialitas unik dengan menghubungkan ruang lembap dan bobot tubuh, tetapi durasi Honda yang sangat singkat membuat momen tersebut kurang tergarap. Begitu pula dalam konfrontasi antara Ken dan Balrog, di mana arahannya menekankan keringat, darah, dan dampak fisik melalui pemotongan cepat serta gerakan lambat. Namun, penggunaan waktu yang terfragmentasi dikhawatirkan mengurangi pengalaman penonton akan gerakan fisik secara utuh.

Baca juga:
Marvel Studios Akhirnya Garap Shang-Chi 2, Simu Liu Siap Kembali

Aspek casting dalam street fighter movie menjadi perhatian tersendiri. Film ini menghadirkan sejumlah atlet dan pegulat profesional yang telah terlatih secara fisik, seperti Cody Rhodes sebagai Guile, Joe Anoa’i atau Roman Reigns sebagai Akuma, dan Hirooki Goto sebagai E. Honda. Selain itu, Olivier Richters berperan sebagai Zangief, 50 Cent sebagai Balrog, dan Jason Momoa sebagai Blanka. Kehadiran mereka bukan sekadar daya tarik publikasi, melainkan memberikan persuasivitas unik melalui bahasa tubuh yang berbeda dari aktor film biasa. Pegulat profesional memiliki kemampuan untuk menyampaikan peristiwa kepada penonton melalui gerakan tubuh, pergeseran pusat gravitasi, dan reaksi terhadap pukulan. Karakter game fighting memang dibangun dari eksagerasi fisik, dan ketika diterjemahkan ke layar lebar, pertanyaannya adalah apakah eksagerasi tersebut menjadi sekadar cosplay atau memperoleh kehadiran sinematik baru.

Selain para pegulat, street fighter movie juga menampilkan sejumlah aktor dan bintang tamu yang mengejutkan. Alexander Volkanovski, petarung MMA asal Australia, memerankan Joe, karakter yang pertama kali muncul dalam game Street Fighter tahun 1987. Joe adalah petarung karate Amerika berambut pirang dengan celana merah yang tidak banyak dikenal, namun dalam film tahun 2026 ini ia mendapat peran cukup penting, terutama di babak akhir. Volkanovski yang biasanya tampil dengan janggut dan kepala plontos harus mencukur bersih dan mengenakan wig pirang agar mirip dengan Joe dalam game. Menurut profil UFC-nya, Volkanovski memiliki 13 kemenangan knockout, tiga kemenangan submission, dan tujuh penyelesaian di ronde pertama, sehingga koreografi pertarungannya di film ini dapat dipastikan dilakukan oleh ahli.

Pemain lain yang menarik perhatian adalah Callina Liang yang memerankan Chun-Li. Melalui unggahan di Instagram pada 18 Oktober 2026, ia mengungkapkan rasa syukurnya karena telah dipertemukan dengan keluarga baru selama proses pembuatan film. Ia juga bersyukur atas latihan kekuatan yang dijalaninya untuk peran tersebut, mengaku sebelumnya hanya rutin melakukan pilates dan kardio. Callina mengajak para penggemar untuk menonton street fighter movie di bioskop. Ungkapannya tersebut menjadi salah satu sorotan di media sosial dan menambah daya tarik film ini di kalangan penonton muda.

Baca juga:
Sarwendah Unggah Video Call Ruben Onsu, Kuasa Hukum Sebut Bentuk Perlawanan

Film ini juga masuk dalam daftar rekomendasi film akhir pekan dari berbagai media, bersanding dengan judul seperti WhaleFall, Kuasa Gelap Perjanjian Darah, Beware Boiuna, Bapak Paling Jujur, dan Beautiful Pain. street fighter movie diberi label R13+ atau untuk penonton berusia 13 tahun ke atas, dan telah tayang di bioskop sejak pertengahan Oktober 2026. Menurut laporan, film ini mendapat skor 5,5 dari 10 dari /Film, menunjukkan bahwa meskipun memiliki daya tarik nostalgia dan aksi, masih ada perdebatan mengenai kualitasnya secara keseluruhan. Beberapa pengamat menilai bahwa adaptasi ini lebih berani dibandingkan film tahun 1994, terutama dalam hal pendekatan visual dan gaya penyutradaraan, tetapi tetap menghadapi tantangan dalam menyatukan elemen game dan narasi film.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai rencana sekuel atau pengembangan lebih lanjut dari street fighter movie. Namun, antusiasme penggemar game dan film aksi tampaknya tetap tinggi, terutama dengan kehadiran sejumlah bintang dan atlet profesional. Bagi sebagian penonton, film ini menawarkan pengalaman menonton yang unik: sebuah perayaan budaya pop yang membawa kembali semangat tahun 90-an dengan sentuhan teknologi modern. Bagi yang lain, kritik terhadap pengembangan karakter dan konsistensi penyutradaraan menjadi catatan tersendiri. Terlepas dari perdebatan tersebut, street fighter movie telah menjadi salah satu topik hangat di dunia hiburan sepanjang Oktober 2026, dan masih akan menjadi bahan diskusi di kalangan pencinta film maupun gamer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *