Kemenag Perluas Program Sahabat KBC di Madrasah, Survei Nasional hingga Penguatan Karakter

Kemenag Perluas Program Sahabat KBC di Madrasah, Survei Nasional hingga Penguatan Karakter
Kemenag Perluas Program Sahabat KBC di Madrasah, Survei Nasional hingga Penguatan Karakter

Sorothari – 18 Oktober 2026 | Program madrasah Kemenag Sahabat KBC (Kurikulum Berbasis Cinta) terus diperluas sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter di lingkungan madrasah. Inisiatif yang digagas Kementerian Agama Republik Indonesia ini tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa. Implementasi program madrasah Kemenag Sahabat KBC pun mulai melibatkan berbagai pihak, mulai dari guru, siswa, hingga kantor wilayah Kemenag di daerah.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan pendekatan pendidikan yang dikembangkan Kemenag melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025. KBC bukan mata pelajaran baru dan bukan pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan nilai esensial yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran serta kegiatan pembelajaran yang sudah ada. Pendekatan ini dilatarbelakangi masih adanya sikap intoleran, kebiasaan saling menyalahkan, serta kebencian terhadap orang lain karena perbedaan keyakinan.

Baca juga:
Dinamika Kebijakan Sekolah Nasional: Dari Revitalisasi Pasca-Bencana NTT hingga Evaluasi Program MBG

Menurut Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Guru Inpassing Nasional Provinsi Banten, Fahru Rijal, KBC berfungsi sebagai ruh yang melengkapi proses pendidikan. “KBC bukan pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan sebagai ruh atau nilai esensial yang melengkapi dan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran serta kegiatan pembelajaran yang sudah ada,” kata Fahru, Sabtu (17/10/2026), seperti dilaporkan Radar Banten.

Penerapan KBC bertujuan memperkuat karakter peserta didik sekaligus merespons berbagai persoalan sosial, seperti perundungan atau bullying dan intoleransi. Pendekatan ini juga diharapkan dapat membangun generasi yang berkarakter, toleran, dan memiliki kepedulian sosial dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Fahru menambahkan bahwa KBC mendorong perubahan pola pikir dalam proses pembelajaran, dari yang semula berorientasi pada nilai akademis menjadi pembentukan karakter melalui keteladanan guru dan interaksi positif sehari-hari.

Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta bertumpu pada lima pilar atau Panca Cinta. Kelima pilar tersebut meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai sumber spiritualitas, cinta kepada ilmu untuk mendorong pembelajaran sepanjang hayat, serta cinta kepada diri sendiri dan sesama yang menumbuhkan empati, kolaborasi, dan kerukunan. Selanjutnya, terdapat cinta lingkungan yang menanamkan kesadaran untuk merawat alam sebagai ciptaan Tuhan, serta cinta tanah air yang mendorong nasionalisme, toleransi, dan persatuan.

Pendekatan ini juga mengedepankan compassionate teaching atau pembelajaran yang mengutamakan kasih sayang, kepedulian, dan pemahaman terhadap peserta didik, bukan pendekatan yang mengandalkan hukuman maupun perlakuan kasar. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keimanan, akhlak mulia, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Di tingkat madrasah, dukungan terhadap program madrasah Kemenag Sahabat KBC diwujudkan melalui partisipasi dalam Survei Nasional SAHABAT KBC. Madrasah Aliyah Negeri 2 Parigi, Sulawesi Tengah, misalnya, mengikuti survei tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag. Kegiatan ini melibatkan guru dan siswa untuk menghimpun informasi tentang kondisi pendidikan di madrasah.

Sebagaimana dilaporkan Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari surat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag. MAN 2 Parigi mengikutsertakan dua orang guru, yaitu Ibu Setiarum, S.Pd. dan Ibu Khairunnisa, S.Pd., yang merupakan 5 persen dari total guru yang ada. Selain itu, 16 siswa dari kelas X dan XI juga berpartisipasi, sesuai ketentuan partisipasi sebesar 5 persen dari total siswa. Guru dan siswa yang terpilih memberikan tanggapan sesuai dengan kondisi dan pengalaman pendidikan mereka.

Baca juga:
Dinamika Beasiswa LPDP: Alur Seleksi, Sosialisasi Daerah, hingga Kiprah Global Awardee

Keterlibatan guru dan siswa dalam survei ini dinilai penting untuk memahami kondisi pendidikan di MAN 2 Parigi. Melalui survei, diharapkan diperoleh data dan informasi yang berguna untuk evaluasi kebijakan pendidikan Islam. Partisipasi tersebut menunjukkan komitmen madrasah untuk mendukung program Kementerian Agama serta mendorong partisipasi aktif dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Sementara itu, di Kabupaten Pandeglang, Kantor Kemenag setempat mendorong penguatan implementasi KBC di lingkungan madrasah. Program ini diharapkan mampu memperkuat pendidikan karakter sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran. Fahru Rijal turut mendampingi guru dan kepala madrasah di Pandeglang dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta.

Selain penguatan karakter, Kemenag juga menyiapkan langkah strategis lain untuk meningkatkan mutu madrasah. Kementerian Agama bekerja sama dengan British Council meluncurkan program penguatan pembelajaran Bahasa Inggris bagi 6.000 guru Madrasah Ibtidaiyah di Jakarta, Selasa (14/10/2026). Inisiatif bertajuk Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP) ini merupakan persiapan menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa kelas III hingga VI mulai tahun 2027.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar penambahan mata pelajaran. “Penerapan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah bukan sekadar menambah mata pelajaran, melainkan bagian dari upaya kita mempersiapkan generasi madrasah agar mampu mengakses pengetahuan global dan berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka, tanpa kehilangan nilai-nilai inti dan karakter mereka,” ujarnya, seperti dilaporkan Republika.co.id.

Program STEPS-CoP mengedepankan pendekatan Community of Practice (CoP) atau komunitas praktik untuk membangun pengembangan profesional guru yang berkelanjutan dan berbasis kolaborasi antarrekan sejawat. Sebagai langkah awal, program ini menyelenggarakan Training of Trainers yang diikuti oleh 68 pemimpin CoP dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, lembaga pengawas madrasah, dan pusat pelatihan guru. Para fasilitator ini nantinya akan menggerakkan komunitas belajar di 34 kota dan kabupaten.

Untuk memastikan peningkatan kapasitas berjalan terarah, program ini memanfaatkan EnglishScore dari British Council dan Self-Assessment Tool (SAT). Kedua instrumen tersebut digunakan untuk memetakan kemampuan awal Bahasa Inggris dan keterampilan pedagogis guru, sehingga pengembangan profesional dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. “Guru tidak hanya membutuhkan pelatihan lain yang berakhir begitu sesi selesai. Kita membutuhkan ruang berkelanjutan untuk mendiskusikan tantangan nyata di kelas, berbagi praktik yang berhasil, dan belajar dari sesama pendidik,” tegas Menag Nasaruddin Umar.

Baca juga:
Lulus S3, Ashanty Targetkan Jadi Dosen Ngajar Ilmu Komunikasi Tahun Ini: Tahun Depan Jadi Tetap

Direktur British Council untuk Indonesia sekaligus Direktur Asia Tenggara, Summer Xia, menjelaskan bahwa persiapan menghadapi kebijakan ini bukan sekadar tentang penerapan mata pelajaran baru. “Ketika kita berinvestasi pada guru, kita berinvestasi pada berbagai peluang yang akan terbuka bagi generasi pembelajar di masa depan,” ujarnya. Direktur Asia Pasifik British Council, Kate Joyce, menekankan pentingnya kolaborasi ini mengingat besarnya skala pendidikan madrasah di Indonesia. Saat ini, terdapat lebih dari 26.800 Madrasah Ibtidaiyah di seluruh Indonesia.

Kemenag juga mendorong para pimpinan madrasah, orang tua, dan masyarakat luas untuk membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran bahasa Inggris sejak dini. Program STEPS-CoP diharapkan dapat menjadi model pengembangan kapasitas guru yang berkelanjutan dan dapat direplikasi dalam skala yang lebih luas, sehingga secara bertahap mampu memberdayakan lebih banyak guru di seluruh Indonesia.

Dengan berbagai langkah tersebut, program madrasah Kemenag Sahabat KBC bersama inisiatif pendukung lainnya diharapkan terus memperkuat karakter peserta didik, meningkatkan mutu pembelajaran, dan mempersiapkan generasi madrasah menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai inti. Survei nasional dan pelatihan guru menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memastikan kebijakan pendidikan Islam berjalan efektif di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *