Sorothari – 19 Oktober 2026 | Transaksi akuisisi 30,25 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama menjadi sorotan pasar modal Indonesia. Aksi korporasi yang disepakati pada 16 September 2026 itu dinilai berpotensi memengaruhi penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap status pasar saham Indonesia, yang saat ini berada di kategori emerging market. Kekhawatiran ini mencuat setelah MSCI membuka peluang menurunkan klasifikasi Indonesia menjadi standalone market, sebagian karena praktik transparansi dan perlindungan investor minoritas yang dianggap belum optimal, termasuk dalam kasus Bayan Resources.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa akuisisi saham Bayan Resources merupakan salah satu indikator kurangnya prioritas terhadap transparansi dan perlindungan investor minoritas. “Sejak freeze MSCI pada 27 Januari 2026, perubahan di aturan bursa hanya dilakukan secara administratif, sementara praktiknya makin jauh dari ideal,” ujar Bhima saat dihubungi awak media, Senin (19/10/2026). Ia juga menyoroti tidak adanya sanksi tegas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap perusahaan yang melakukan praktik terlarang di bursa, serta rendahnya komposisi free float saham yang dimiliki segelintir pihak.
Baca juga:Bhima menambahkan, rencana Danantara yang ingin membeli saham BEI dalam konteks demutualisasi bursa turut menambah beban penilaian independensi pasar modal. Menurutnya, Danantara sebagai state backup entity membuat persoalan ini semakin serius karena dapat memicu keluarnya dana asing secara masif jika Indonesia benar-benar turun ke standalone market. Ia pun mendesak direksi BEI dan OJK untuk mengundurkan diri apabila tidak mampu memperbaiki kinerja pasar saham.
Dampak terhadap Saham dan Pasar
Pada perdagangan Senin (19/10/2026), saham-saham yang terindikasi terkait Haji Isam mayoritas melemah. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merosot 775 poin atau 7 persen ke level 10.375. Pelemahan juga dialami PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang turun 150 poin atau 6,6 persen ke level 2.120, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) melemah 135 poin atau 6,8 persen ke level 1.850, dan RANS turun 10 poin atau 6,8 persen ke level 138. Sementara itu, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) terpantau stagnan di level 6.850.
Tekanan terhadap saham Bayan Resources dan emiten terkait tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap status Indonesia di MSCI. Analis pasar modal menilai perubahan struktur kepemilikan yang signifikan dapat memengaruhi likuiditas saham di mata investor global. Penurunan status dalam indeks MSCI biasanya terjadi jika emiten tidak lagi memenuhi kriteria transparansi dan likuiditas, sehingga menjadi sinyal bagi investor untuk mengevaluasi portofolio.
Baca juga:Respons BEI dan Aspek Perbankan
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pihaknya telah meminta keterbukaan informasi dari perusahaan tercatat terkait transaksi tersebut. Namun, ia menegaskan kewenangan BEI terbatas pada aturan pasar modal, sedangkan penilaian mengenai boleh atau tidaknya pemberian kredit merupakan ranah perbankan. “Yang terkait dengan keterbukaan informasi, itu sudah kami mintakan keterbukaan informasi. Jadi selebihnya tentu itu adalah pengaturan di perbankan terkait boleh atau tidaknya transaksi seperti itu,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Senin (19/10/2026).
Jeffrey juga menegaskan bahwa bursa tidak dapat membatalkan transaksi yang telah menjadi kesepakatan para investor. Menurutnya, sebagian transaksi dilakukan oleh individu, bukan korporasi, sehingga permintaan penjelasan BEI ditujukan kepada perusahaan tercatat. Meski demikian, BEI tetap dapat meminta penjelasan lebih lanjut sesuai prosedur operasional standar yang berlaku.
Isu pemberian kredit Bank Mandiri yang dikaitkan dengan akuisisi saham Bayan Resources oleh Haji Isam turut menjadi perhatian. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak perbankan mengenai hal tersebut. Pasar menantikan kejelasan transaksi dan dampaknya terhadap stabilitas pasar modal Indonesia.
Baca juga:Sebagai langkah antisipasi, pelaku pasar disarankan memantau keterbukaan informasi di BEI dan mengedepankan diversifikasi investasi. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa OJK dan BEI masih terus berkoordinasi untuk memastikan transparansi transaksi, sementara MSCI dijadwalkan memberikan evaluasi lanjutan dalam waktu dekat.












