Saham BBRI Tertekan di Tengah Arus Beli dan Rekomendasi Analis

Saham BBRI Tertekan di Tengah Arus Beli dan Rekomendasi Analis
Saham BBRI Tertekan di Tengah Arus Beli dan Rekomendasi Analis

Sorothari – 20 Oktober 2026 | Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau bbri saham menjadi sorotan pasar pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Di tengah tekanan jual yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, saham bank pelat merah ini justru mencatatkan pembelian bersih yang besar, meski harganya terparkir di level terendah sejak 2020. Kondisi tersebut mencerminkan pertarungan antara tekanan jual asing dan akumulasi pembelian yang menyerap tekanan pasar.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, saham BBRI membukukan net buy atau pembelian bersih keseluruhan sebesar Rp887,9 miliar dengan harga rata-rata Rp2.468 per saham. Aksi beli tersebut terjadi ketika saham BBRI masih terkunci di batas auto rejection bawah (ARB). Pada sesi II perdagangan sekitar pukul 14.10 WIB, harga saham BBRI anjlok 6,82 persen ke level Rp2.460 per saham. Nilai transaksi saham ini tercatat mencapai Rp1,49 triliun, menunjukkan likuiditas yang tetap tinggi meski harga tertekan.

Baca juga:
Kurs USD Melemah ke 3,8958 Zloty, Rupiah Masih Tertekan Tekanan Global

Hal serupa terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatat net buy Rp994,2 miliar dengan harga rata-rata Rp4.823 per saham. Saham BBCA melemah 6,86 persen ke level Rp4.820 per saham pada waktu yang sama. Kedua saham perbankan besar ini kompak menyentuh batas ARB, namun tetap menjadi incaran aksi beli. Data juga menunjukkan hingga jeda siang, saham BBRI mengalami jual bersih asing sebesar Rp515,17 miliar, sementara BBCA mencatat net sell asing Rp670,83 miliar. Perbedaan antara net buy keseluruhan dan net sell asing mengindikasikan adanya pembelian yang menyerap tekanan jual, meski angka net buy tidak dapat langsung dikaitkan dengan investor domestik secara spesifik.

IHSG Anjlok, Saham Bank BUMN Mulai Bangkit

Tekanan di pasar saham Indonesia pada hari itu tidak hanya menimpa BBRI. IHSG sempat anjlok sekitar 5 persen pada penutupan sesi I, namun memangkas koreksi menjadi sekitar 3,51 persen hingga pukul 15.46 WIB. Perubahan arah ini terjadi seiring berkurangnya tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan milik negara. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bahkan berbalik ke zona hijau dengan kenaikan 0,3 persen, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengurangi koreksinya hingga tersisa sekitar 0,3 persen. Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) juga memangkas pelemahannya dari 6,2 persen menjadi 3,4 persen.

Penguatan serupa terlihat pada saham pertambangan. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memangkas pelemahannya dari 6,2 persen menjadi sekitar 1,6 persen, dan PT Timah Tbk (TINS) dari 6,7 persen menjadi 4,5 persen. Perubahan pergerakan saham-saham tersebut membantu IHSG memangkas koreksi setelah tertekan hebat sejak pembukaan. Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) disebut bersiap memborong saham BUMN yang dinilai memiliki valuasi rendah namun didukung fundamental bisnis yang kuat. Langkah ini mencuat di tengah tekanan pasar yang dalam.

Baca juga:
Wall Street Dibuka Variatif, Sektor Teknologi Tertekan saat Musim Laporan Keuangan Bank

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, IHSG ditutup anjlok ke level 5.196,28, merosot 667,50 poin atau 11,38 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak krisis 1998. Sepanjang pekan lalu, IHSG terkoreksi 14,91 persen atau 908,65 poin dari posisi 6.093,76 menjadi 5.185,11. Tekanan memuncak pada Jumat ketika indeks dibuka melemah 8,01 persen dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt selama 30 menit. Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp2,92 triliun pada sesi pertama Jumat, dengan net sell mingguan mencapai Rp3,34 triliun dan tahun berjalan Rp88,19 triliun.

Valuasi Menarik dan Rekomendasi Analis

Di balik koreksi tajam, saham BBRI dinilai menyimpan potensi besar. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 33 analis menyebut 23 di antaranya atau 70 persen memberikan rekomendasi beli. Target harga saham BBRI dalam 12 bulan ke depan adalah Rp3.848,21, yang berarti berpotensi naik hampir 46 persen dari level Rp2.460. Harga tersebut menjadi yang termurah sejak 2020, sejalan dengan IHSG yang juga menyentuh level terendah sejak era pandemi Covid-19.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen global dan domestik. Selain pengumuman MSCI, pasar juga menghadapi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia, dan arus keluar modal asing. “Penurunan tajam memang membuka peluang pemulihan teknikal, tetapi belum menjamin IHSG telah mencapai titik terendah,” jelas Ardy dikutip Senin (19/10/2026).

Baca juga:
Saham GOTO Tetap Diburu Asing di Tengah Kejatuhan IHSG, Ini Faktanya

Tekanan pasar saham Indonesia terjadi setelah MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan konsistensi reformasi pasar modal. MSCI membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Menurut proyeksi Ardy, jika reklasifikasi benar-benar terjadi, potensi arus keluar dana asing dapat mencapai Rp105 triliun hingga Rp132 triliun atau US$5,8 miliar hingga US$7,3 miliar. Saham BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII disebut paling rentan terdampak.

Hingga saat ini, pergerakan bbri saham masih menjadi perhatian pelaku pasar. Aksi beli di tengah penurunan tajam menunjukkan bahwa saham perbankan besar dinilai memiliki valuasi yang semakin menarik setelah koreksi. Namun, investor tetap perlu mencermati arus dana asing, perkembangan reformasi pasar modal, dan level teknikal IHSG sebelum menentukan strategi. Perkembangan terkait rencana BPI Danantara dan hasil konsultasi MSCI akan menjadi katalis berikutnya yang dinantikan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *