Berita  

Harga TBS Sawit Jambi Turun, Karhutla Landa Konsesi, dan ISPA Tembus 11.539 Kasus

Harga TBS Sawit Jambi Turun, Karhutla Landa Konsesi, dan ISPA Tembus 11.539 Kasus
Harga TBS Sawit Jambi Turun, Karhutla Landa Konsesi, dan ISPA Tembus 11.539 Kasus

Sorothari – 12 Oktober 2026 | Provinsi Jambi menghadapi sejumlah persoalan dalam beberapa pekan terakhir. Di satu sisi, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di provinsi ini mengalami penurunan. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan konsesi, memicu kualitas udara yang memburuk dan melonjaknya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Berdasarkan data yang dirilis, harga TBS sawit di Jambi untuk periode 9 hingga 15 Oktober 2026 ditetapkan dengan harga tertinggi sebesar Rp3.621,16 per kilogram untuk tanaman pada kelompok umur 10–20 tahun. Angka ini turun sebesar Rp137,15 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya. Penetapan harga tersebut mencakup berbagai kelompok umur tanaman, mulai dari 3 tahun hingga 25 tahun, dengan harga tertinggi pada kelompok produktif 10–20 tahun.

Baca juga:
Karhutla Kalimantan Meluas, 64.913 Balita Terkena ISPA dan Aksi Protes Meledak

Sementara itu, harga minyak sawit mentah (CPO) tercatat sebesar Rp14.425,47 per kilogram, dan harga inti sawit atau kernel sebesar Rp11.754,29 per kilogram. Indeks K yang digunakan dalam formula penetapan harga TBS ditetapkan sebesar 93,49 persen. Informasi ini disampaikan oleh InfoSAWIT dalam pemberitaannya pada 11 Oktober 2026.

Karhutla di Konsesi Perusahaan

Di tengah fluktuasi harga sawit, kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian serius. Analisis citra satelit Sentinel-2 pada 6-8 Oktober 2026 mengidentifikasi kebakaran di kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit di Jambi. Secara keseluruhan, luas areal yang teridentifikasi terbakar mencapai 42.455 hektare di provinsi tersebut.

Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, menyatakan temuan kebakaran di areal konsesi perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan. “Temuan kebakaran di areal konsesi harus menjadi perhatian serius. Kita perlu memastikan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, termasuk apakah ada aktivitas pembukaan lahan dan siapa pihak yang melakukan aktivitas tersebut,” kata Rudi dalam keterangan resminya, Jumat (9/10/2026).

Menurut Rudi, kebakaran di areal konsesi tidak serta-merta membuktikan bahwa pemegang izin menjadi penyebabnya. Ada kemungkinan aktivitas pihak lain berlangsung di dalam kawasan tersebut sehingga diperlukan verifikasi untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Berdasarkan analisis KKI Warsi, sekitar 13.505 hektare areal terbakar berada di kawasan hutan produksi, sementara kebakaran di areal konsesi perkebunan sawit tercatat sekitar 4.000 hektare.

Baca juga:
Trotoar Daan Mogot Jakbar Diawasi ETLE, Pemotor Bandel Bakal Ditilang

Rudi menegaskan bahwa penelusuran penyebab kebakaran penting dilakukan sejak awal. Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, aktivitas pembukaan lahan yang tidak jelas statusnya berpotensi memicu sengketa penguasaan lahan yang dapat berkembang menjadi konflik tenurial. “Jangan sampai penanganan hanya dilakukan ketika api muncul, kemudian selesai setelah api padam. Penyebab kebakaran dan aktivitas yang berlangsung di lokasi juga harus ditelusuri agar persoalan yang sama tidak terus berulang,” ujarnya.

Kualitas Udara dan Dampak Kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan di Jambi turut mempengaruhi kualitas udara. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa kualitas udara di sebagian wilayah Sumatera, termasuk Jambi, berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kementerian Perhutanan Indonesia melaporkan bahwa pada Jumat (9/10/2026) terdapat 15 titik panas di Jambi, meningkat dari tiga titik pada hari sebelumnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengungkapkan bahwa perkembangan kasus gangguan kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius. “Berdasarkan data surveilans yang kami pantau, ISPA menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk,” kata Doni, Jumat (8/10/2026).

Data dari Dinas Kesehatan Kota Jambi mencatat total kasus ISPA mencapai 11.539 kasus selama periode pemantauan. Jumlah kasus harian mengalami fluktuasi tajam, dengan angka tertinggi 501 kasus pada 26 Agustus 2026. Memasuki Oktober, kasus harian tercatat antara 229 hingga 323 kasus. Selain ISPA, kasus diare tercatat sebanyak 1.362 kasus dan konjungtivitis sebanyak 517 kasus selama periode 24 Agustus hingga 9 Oktober 2026.

Baca juga:
Aksi Menteri PKP Maruarar Sirait Pacu Program Hunian dari Penanganan Bencana hingga Tata Ruang

Meskipun demikian, Doni menekankan bahwa data tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh karhutla. “Meski ketiga penyakit tersebut tercatat selama periode kabut asap, data Dinas Kesehatan Kota Jambi ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus ISPA, diare, dan konjungtivitis disebabkan langsung oleh karhutla,” katanya.

Secara nasional, jumlah titik panas menurun 67 persen menjadi 387 titik pada 9 Oktober 2026, dari 1.176 titik pada hari sebelumnya. Namun, Kementerian Perhutanan mengingatkan bahwa kondisi cuaca kering yang berkepanjangan masih meningkatkan risiko kebakaran baru, terutama di lahan gambut. Sebanyak 61 pesawat masih dikerahkan untuk operasi pemadaman, termasuk pengeboman air dan pengubahsuaian cuaca, di enam wilayah prioritas.

Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap dampak karhutla, terutama terkait kesehatan, dan mendorong penanganan yang komprehensif agar persoalan serupa tidak berulang di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *