Sorothari – 13 Oktober 2026 | Konglomerat asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, kembali menjadi pusat perhatian di pasar modal Indonesia. Dalam sepekan terakhir, sederet aksi korporasi signifikan dilakukan oleh kelompok usahanya, mulai dari akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) hingga rencana diversifikasi bisnis PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) ke sektor bahan bakar minyak (BBM). Tidak hanya itu, aksi penggadaian saham perusahaan perkebunan sawitnya, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), kepada Bank Mandiri juga turut memicu sorotan publik.
Langkah paling mencolok adalah penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat antara PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik Haji Isam, dengan pemilik lama Bayan Resources, Dato’ Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Kesepakatan yang diumumkan pada 6 Oktober 2026 itu mencakup 10,08 miliar lembar saham BYAN dengan harga Rp2.588 per saham. Jika transaksi rampung, Jhonlin Baratama akan menguasai 30,25 persen saham BYAN, menjadikannya pemegang saham terbesar kedua setelah keluarga Low Tuck Kwong yang kepemilikannya susut menjadi 9,95 persen.
Baca juga:Meskipun terjadi perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan, manajemen BYAN menegaskan bahwa kegiatan operasional dan rencana pengembangan bisnis perseroan tidak akan berubah. Direksi BYAN, Jenny Quantero, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (12/10/2026), menyatakan bahwa perseroan tetap berfokus pada keberlangsungan operasional dan pengembangan bisnis sesuai strategi yang telah ditetapkan. Ia juga memastikan bahwa anak usaha di bidang pertambangan telah memperoleh persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), sehingga target produksi dapat dipenuhi. Hingga saat ini, belum ada pembahasan mengenai potensi sinergi bisnis antara Bayan dan Jhonlin Baratama.
Ekspansi TEBE ke Sektor BBM
Tidak hanya di sektor tambang batu bara, Haji Isam juga mulai merambah bisnis energi baru. PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), emiten logistik batu bara yang 76,91 persen sahamnya dikuasai oleh PT Dua Samudera Perkasa (milik Haji Isam), mengumumkan rencana diversifikasi usaha ke perdagangan bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini direspons positif oleh pasar, tercermin dari lonjakan harga saham TEBE hingga sekitar 56 persen dalam sebulan terakhir.
Dalam riset yang diterbitkan pada 12 Oktober 2026, Trimegah Research Team menyebut kenaikan saham TEBE terutama dipicu oleh respons pasar terhadap paparan publik terbaru perseroan. Dalam paparan tersebut, TEBE mengungkapkan strategi untuk memperluas bisnis di luar batu bara, termasuk dengan menambah lini perdagangan BBM. Valuasi saham TEBE pun disebut telah menembus 90 kali laba, menunjukkan ekspektasi tinggi investor terhadap prospek bisnis baru ini.
Baca juga:Gadai Saham PGUN untuk Fasilitas Kredit
Di sisi lain, aksi korporasi Haji Isam juga menyentuh sektor perkebunan kelapa sawit. PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) memberikan penjelasan kepada bursa terkait penggadaian saham oleh tiga pemegang saham utamanya—PT Araya Agro Lestari (AAL), PT Citra Agro Raya (CAR), dan PT Baramega Citra Mulia Persada (BCMP)—kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Total saham yang digadaikan mencapai sekitar 5,3 miliar lembar, yang merupakan 100 persen kepemilikan masing-masing perusahaan tersebut di PGUN.
Direktur PGUN, Tamlikho, dalam keterbukaan informasi pada 12 Oktober 2026, menjelaskan bahwa debitur fasilitas kredit tersebut bukanlah PGUN, melainkan afiliasi perseroan, yaitu PT Jhonlin Baratama. Akta gadai saham ditandatangani pada 28 September 2026, dan proses pengajuan kredit dilakukan sepenuhnya antara Jhonlin Baratama dan Bank Mandiri. PGUN menegaskan tidak memberikan jaminan perusahaan (corporate guarantee), tidak menjaminkan aset, dan tidak menerima aliran dana dari fasilitas kredit tersebut.
“Tidak ada dana dari fasilitas kredit tersebut akan mengalir ke Perseroan, baik dalam bentuk pinjaman pemegang saham, penyetoran modal, maupun pembiayaan rencana usaha atau aksi korporasi Perseroan,” ujar Tamlikho. Ia juga menambahkan bahwa tidak ada imbalan yang diberikan PGUN kepada AAL, CAR, dan BCMP atas penjaminan saham itu. Hingga kini, rincian nilai fasilitas kredit yang diterima Jhonlin Baratama belum diungkapkan ke publik.
Baca juga:Rangkaian aksi korporasi ini menunjukkan langkah agresif Haji Isam dalam memperkuat posisinya di berbagai sektor, mulai dari energi, logistik, hingga perkebunan. Pasar pun terus mencermati perkembangan lebih lanjut, terutama terkait penyelesaian akuisisi saham BYAN dan dampaknya terhadap persaingan industri batu bara nasional.












