Low Tuck Kwong Borong Kembali Saham BYAN Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik jadi 10,25%

Low Tuck Kwong Borong Kembali Saham BYAN Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik jadi 10,25%
Low Tuck Kwong Borong Kembali Saham BYAN Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik jadi 10,25%

Sorothari – 16 Oktober 2026 | Low Tuck Kwong kembali mencuri perhatian pasar modal Indonesia. Direktur Utama PT Bayan Resources Tbk (BYAN) itu memborong 100.001.000 saham BYAN pada 14 Oktober 2026 dengan harga Rp11.200 per saham, sehingga total nilai transaksi mencapai Rp1,12 triliun. Aksi beli ini membuat kepemilikan Low Tuck Kwong di emiten batu bara tersebut naik dari 9,95% menjadi 10,25%, setara 3.416.667.832 saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi dilakukan untuk tujuan investasi dengan status kepemilikan saham langsung. “Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan saham langsung,” demikian pernyataan dalam keterbukaan informasi BEI. Low Tuck Kwong juga disebut akan tetap mempertahankan kendali atas perusahaan.

Baca juga:
RUPSLB Rombak Manajemen, Willgo Zainar Resmi Menjabat Direktur Utama Krakatau Steel

Pembelian saham tidak hanya dilakukan pada 14 Oktober. Sehari sebelumnya, tepatnya 13 Oktober 2026, Low Tuck Kwong lebih dulu membeli 500.000 saham BYAN pada harga Rp11.200 per saham, dengan nilai sekitar Rp5,6 miliar. Dengan demikian, dalam dua hari berturut-turut, ia mengakumulasi saham BYAN secara signifikan.

Langkah ini menjadi sorotan karena sebelumnya, pada 7 Oktober 2026, Low Tuck Kwong tercatat melepas 10,06 miliar saham BYAN. Aksi itu membuat kepemilikannya turun drastis dari 40,15% menjadi 9,95%. Penjualan tersebut dilakukan setelah PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat (PJBS) dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Dalam transaksi itu, PT Jhonlin Baratama membeli 30,20% saham BYAN atau setara 10,06 miliar saham pada harga Rp2.588 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp26,05 triliun. Setelah itu, Jhonlin Baratama kembali membeli 16,66 juta saham BYAN, sehingga total kepemilikannya menjadi 30,25%.

Baca juga:
Pergerakan Portofolio Global dan Dampak Rebalancing Indeks MSCI terhadap Pasar Saham

Perjanjian antara kedua pihak mengalami perubahan. Pada 5 Oktober 2026, BYAN mengumumkan penandatanganan perubahan perjanjian beli saham bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama. Perubahan tersebut ditandatangani pada 1 Oktober 2026, sebagaimana disampaikan dalam keterbukaan informasi BEI.

Di sisi lain, harga saham BYAN pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, melemah 1,77% menjadi Rp11.100 per saham. Saham BYAN dibuka naik 25 poin ke Rp11.325, dengan rentang harga terendah Rp10.575 dan tertinggi Rp11.325. Frekuensi perdagangan mencapai 2.049 kali dengan volume 6.685.100 saham, dan nilai transaksi harian sekitar Rp1,7 triliun.

Low Tuck Kwong merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Berdasarkan Forbes Billionaires Real Time per 15 Oktober 2026, kekayaannya mencapai US$15,3 miliar atau setara Rp273,83 triliun. Angka itu menempatkannya sebagai orang kaya nomor wahid di Indonesia, mengalahkan Robert Budi Hartono dan Prajogo Pangestu yang masing-masing memiliki kekayaan US$12,9 miliar. Meski demikian, kekayaan Low Tuck Kwong tercatat tergerus US$8,5 miliar sejak awal tahun 2026.

Baca juga:
Prabowo Potong Rantai Pasok dan Efisiensi BUMN, Pupuk Indonesia Langsung Bekerja Maksimal

Aksi korporasi ini menunjukkan dinamika kepemilikan saham di BYAN yang terus berubah. Pasar akan mencermati langkah selanjutnya dari Low Tuck Kwong dan PT Jhonlin Baratama, terutama terkait strategi investasi dan pengendalian perusahaan batu bara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *