Sorothari – 15 Oktober 2026 | Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA hingga SLB di seluruh Indonesia menggunakan metode penilaian yang disebut Item Response Theory Two-parameter Logistic Model, atau IRT 2PL. Metode ini memberikan bobot pada setiap butir soal sesuai tingkat kesulitannya, sehingga peserta tidak dirugikan oleh variasi paket soal yang berbeda. Dengan sistem ini, dua siswa yang menjawab benar jumlah soal yang sama bisa mendapatkan skor yang berbeda. Hal ini bergantung pada tingkat kesulitan soal yang berhasil mereka selesaikan.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan dalam unggahan resmi di akun Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan bahwa penilaian IRT tidak sekadar menghitung jumlah jawaban benar. Metode ini mempertimbangkan seberapa sulit soal dan seberapa baik soal tersebut mampu membedakan tingkat penguasaan peserta terhadap materi. Artinya, siswa yang mengerjakan soal-soal dengan tingkat kesulitan tinggi dan memperoleh banyak jawaban benar akan diestimasi memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan siswa yang mengerjakan soal-soal dasar dengan jumlah jawaban benar yang sama.
Baca juga:Namun, Toni menegaskan bahwa hal ini tidak berarti setiap soal sulit otomatis mendapatkan bonus nilai lebih besar. Kemampuan akademik siswa ditakar melalui pengolahan seluruh jawaban dan karakteristik soal yang telah dianalisis. Dengan demikian, skor TKA yang dilaporkan dalam skala 200-800, misalnya skor 600, tidak berarti siswa menjawab benar 60 persen soal, melainkan menunjukkan hasil pada skala pelaporan TKA yang sudah disesuaikan.
Peserta TKA 2025 dan Mapel Favorit
Pada tahun akademik 2025, tercatat sebanyak 3.518.167 siswa kelas 12 SMA, SMK, dan MA mendaftar TKA. Peserta terbanyak berasal dari SMA dengan 1,75 juta peserta, diikuti SMK dengan 1,59 juta peserta, dan MA sebanyak 506 ribu peserta. Data ini menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pelaksanaan TKA sebagai salah satu instrumen evaluasi kemampuan akademik.
Menurut hasil TKA 2025 yang dipublikasikan di laman TKA Kemendikdasmen, mata pelajaran pilihan yang paling banyak dipilih siswa SMA/sederajat adalah Projek Kreatif dan Kewirausahaan (PKW). Sebanyak 1.281.878 siswa memilih mapel ini. Rerata nasional untuk PKW mencapai 56,34. Sebanyak 6,97 persen peserta memperoleh nilai istimewa, 19,91 persen baik, 23,93 persen memadai, dan 49,19 persen kurang.
Baca juga:Pada capaian kurang, siswa sudah mampu menentukan konsep dasar produksi, pemasaran, dan distribusi serta mengidentifikasi komponen proposal usaha dan berbagai jenis Hak Kekayaan Intelektual. Sementara itu, siswa pada kategori nilai memadai sudah mampu menentukan tahapan produksi dan pengembangan produk, merumuskan strategi pemasaran dan distribusi, mengidentifikasi komponen proposal usaha, serta menerapkan konsep kewirausahaan yang meliputi perhitungan biaya produksi, pemanfaatan peluang usaha, pengendalian mutu produk, dan klasifikasi HKI.
Bagi murid yang masuk kategori baik, dinilai sudah mampu mengaplikasikan perencanaan dan pengembangan produk, merancang strategi pemasaran dan distribusi, menentukan upaya perbaikan mutu, menilai potensi usaha, menentukan harga jual, menyelesaikan permasalahan HKI, serta menyusun laporan usaha sederhana secara sistematis. Khusus bagi murid dengan nilai istimewa, mereka sudah mampu mengevaluasi strategi produksi, pengembangan produk, pemasaran, dan distribusi; menyusun rekomendasi perbaikan mutu; mengembangkan rancangan usaha inovatif; menganalisis aspek HaKI; menilai kelayakan harga jual; serta menganalisis laporan usaha dan merumuskan tindak lanjut yang relevan.
Meskipun mapel pilihan Antropologi dan Geografi tidak meraih jumlah pendaftar terbanyak, peserta yang memilih kedua mapel tersebut mencapai rata-rata tertinggi, masing-masing 70,43 dan 70,36. Hal ini menunjukkan bahwa minat siswa terhadap mapel tertentu tidak selalu sejalan dengan capaian rata-rata nilai.
Baca juga:Pelaksanaan TKA dengan metode penilaian IRT 2PL diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kemampuan akademik siswa. Sistem ini juga diharapkan dapat mendorong siswa untuk tidak hanya mengejar jumlah jawaban benar, tetapi juga kualitas penyelesaian soal. Ke depannya, Kemendikdasmen terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap pelaksanaan TKA agar semakin relevan dengan kebutuhan pendidikan nasional.












