Sorothari – 07 November 2026 | Hakikat time atau waktu telah lama menjadi teka-teki yang menyita perhatian para pemikir, baik dari kalangan filsuf maupun fisikawan. Meski secara intuitif manusia memahami apa itu waktu, upaya untuk menjelaskannya secara tepat kerap berujung pada kebingungan. Persoalan ini bukan sekadar soal konsep, melainkan juga soal artikulasi: bagaimana menarik batas yang tepat antara pengalaman dan deskripsi ilmiah tentang waktu.
Dalam tradisi filsafat Barat, Santo Agustinus dari Hippo telah merumuskan paradoks waktu lebih dari 1.600 tahun silam. Ia menyatakan, “Apa itu waktu? Jika tidak ada yang bertanya, aku tahu; tetapi jika aku harus menjelaskannya kepada penanya, aku tidak tahu.” Ungkapan ini menggambarkan betapa sulitnya merumuskan waktu secara linguistik dan konseptual, meski pengalaman sehari-hari terasa jelas.
Baca juga:Hampir seribu tahun sebelumnya, Heraclitus dari Ephesus memberikan wawasan yang tajam tentang perubahan. Menurut catatan Plato dalam dialog Cratylus, Heraclitus menyatakan bahwa segala sesuatu berada dalam gerak dan tidak ada yang diam. Ia membandingkannya dengan aliran sungai: seseorang tidak dapat memasuki air yang sama dua kali. Sekilas pernyataan ini terdengar paradoksal, tetapi Heraclitus justru memperjelas bahwa sungai sebagai entitas tetap ada meskipun airnya terus berganti setiap saat. Hal yang sama berlaku bagi segala yang ada, termasuk manusia yang melangkah ke sungai: identitasnya tetap, tetapi setiap momen yang dijalaninya berbeda.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa waktu terasa begitu nyata dan melekat dalam pengalaman, namun tetap menjadi momok bagi setiap pemikir yang mencoba menjelaskannya. Para fisikawan modern mengukur waktu dengan presisi tinggi, sementara para filsuf terus mendebatkan apakah waktu bersifat absolut, relasional, atau bahkan ilusi. Ketegangan antara pengalaman subjektif dan deskripsi objektif inilah yang membuat waktu tetap menjadi misteri yang menarik untuk dikaji.
Baca juga:Hingga kini, belum ada konsensus tunggal yang mampu menjembatani pemahaman intuitif dan penjelasan ilmiah tentang waktu. Perdebatan di antara para ahli menunjukkan bahwa upaya memahami waktu bukan hanya soal menemukan definisi, tetapi juga soal mengenali batas-batas bahasa dan konsep yang digunakan manusia. Seperti diakui banyak pemikir, waktu mungkin akan terus menjadi teka-teki yang menantang, bahkan ketika kita merasa begitu akrab dengannya.
Baca juga:











