Sorothari – 07 November 2026 | Kapal pesiar residensial Villa Vie Odyssey resmi meninggalkan Kamboja tanpa membawa penumpang, Rabu (4/11/2025), setelah operasionalnya dihentikan akibat lonjakan harga bahan bakar. Kapal yang dikelola Villa Vie Residences itu sebelumnya sempat bersandar di Pelabuhan Sihanoukville, Teluk Thailand, sejak 23 Oktober 2025, sebelum 203 penumpangnya diminta turun secara mendadak pada 28 Oktober 2025. Kepergian kapal meninggalkan sekitar 100 penumpang yang masih bertahan di Sihanoukville, sementara sisanya memilih melanjutkan perjalanan ke wilayah lain di Kamboja atau ke luar negeri.
Villa Vie Odyssey merupakan kapal pesiar yang dipromosikan sebagai rumah terapung bagi para pensiunan dan pelancong jangka panjang. Kapal berkapasitas 650 penumpang ini mengangkut 156 kru, meski tidak diketahui pasti berapa jumlah kru yang ikut berlayar saat kapal meninggalkan Sihanoukville. Menurut Tang Sochetkresna, Direktur Departemen Pariwisata Provinsi Preah Sihanouk, kapal berangkat pada Selasa malam (3/11/2025) waktu setempat dengan hanya membawa kru dan personel lainnya. Ia mengaku tidak mengetahui tujuan berikutnya kapal tersebut.
Baca juga:Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa kapal kemungkinan besar menuju Singapura, pusat maritim utama di Asia Tenggara, untuk kemudian dilelang. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai tujuan akhir maupun rencana masa depan kapal. Kreditur yang berbasis di Norwegia, Ness, Risan & Partners AS, dilaporkan telah mengambil alih kendali atas kapal sejak 1 November 2025. Kreditur tersebut bertanggung jawab atas biaya operasional, termasuk gaji kru, bahan bakar, operasi kapal, dan keamanan. Para penghuni kapal diberi waktu hingga akhir pekan untuk mengambil barang-barang pribadi sebelum akses ke kapal dibatasi.
Pendiri dan ketua eksekutif Villa Vie, Mike Petterson, mengatakan perusahaannya sedang mencari mitra operasional dan skema restrukturisasi untuk bisa mengambil kembali kendali atas kapal. Proses tersebut diperkirakan memakan waktu 30 hingga 90 hari, dan kreditur disebut terbuka terhadap proposal yang didukung secara finansial. Namun, upaya sekelompok penghuni untuk membeli kapal gagal setelah kreditur menolak memberikan pembiayaan, meskipun proposal tersebut telah menarik komitmen dari 169 penghuni yang bersedia menanamkan dana tambahan.
Baca juga:Krisis keuangan yang melanda Villa Vie Residences telah berlangsung setidaknya tiga bulan sebelum kapal terdampar di Kamboja. Dokumen yang ditinjau CBS News menunjukkan bahwa perusahaan telah meminta kontribusi tambahan dari para penghuni untuk menopang operasional. Salah satu penghuni yang dilaporkan membayar US$350.000 untuk kabin, tetapi hanya menghabiskan 26 hari di atas kapal, mengaku pasrah dengan kemungkinan kehilangan investasinya. Penghuni lain khawatir jaminan perusahaan tentang masa depan kapal justru menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis. Dalam pesan kepada penghuni, Villa Vie memperkirakan proses kebangkrutan Chapter 11 dapat membutuhkan sekitar US$3 juta pada 60 hari pertama, dan perusahaan sedang mempertimbangkan pembiayaan debitur-dalam-kepemilikan serta kontribusi penghuni sebagai bagian dari rencana restrukturisasi.
Di sisi lain, para penumpang asal Australia juga terdampak. Lisa McKay, seorang pensiunan guru asal Queensland, telah menyerahkan AU$63.500 dari dana pensiunnya untuk mewujudkan impian pensiun di atas kapal pesiar mewah tersebut. Namun, ia baru mengetahui bahwa kapal terdampar dan operasionalnya dihentikan setelah penumpang dipaksa turun di Kamboja. McKay mengaku khawatir uangnya tidak akan kembali. Ia seharusnya bergabung dengan kapal dalam beberapa pekan ke depan.
Baca juga:Villa Vie Odyssey memulai pelayaran keliling dunia dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024, dan telah berlayar setidaknya 755 hari sebelum operasionalnya dihentikan. Kapal ini dijual sebagai komunitas residensial terapung yang memungkinkan pelanggan menyewa atau membeli kabin untuk tinggal jangka panjang atau permanen. Beberapa penumpang mengaku telah membayar lebih dari US$300.000 untuk suite yang dimaksudkan sebagai rumah mereka seumur hidup. Sebelum krisis, perusahaan induk Villa Vie, Residential Cruise Holdings, tengah mengupayakan akuisisi kapal pesiar lain dan mengembangkan dua proyek kapal residensial tambahan. Kini, prioritas utama perusahaan adalah menyelesaikan masalah Villa Vie Odyssey. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian mengenai nasib para penumpang maupun masa depan kapal.












