Sorothari – 07 November 2026 | Nilai tukar rupiah hari ini kembali menunjukkan pelemahan. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/11/2026), rupiah berada di level Rp18.089 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.082 per dolar AS. Pelemahan tipis ini terjadi di tengah sentimen penghindaran risiko global yang masih membayangi pasar keuangan, meskipun data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 dinilai cukup kuat untuk menahan pelemahan lebih dalam.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah ditutup melemah tipis akibat tekanan sentimen risk-off global. Namun, ia menegaskan bahwa data produk domestik bruto (PDB) kuartal III Indonesia yang kuat menjadi penopang sehingga pelemahan tidak berlanjut lebih jauh. “Rupiah ditutup melemah tipis tertekan sentimen risk-off global. Namun, data PDB kuartal III Indonesia yang kuat menahan pelemahan lebih besar,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Baca juga:Meski demikian, pergerakan rupiah hari ini tidak lepas dari tekanan eksternal dan domestik yang masih berlanjut. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa pada perdagangan Senin (9/11/2026), rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp18.080 hingga Rp18.130 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan, ia memproyeksikan kurs rupiah berada di antara Rp17.920 dan Rp18.220 per dolar AS, dengan target bulan November melemah hingga Rp18.500 per dolar AS.
Ibrahim mengungkapkan bahwa prospek rupiah diperberat oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia imbas tren harga minyak yang tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko beban subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Ketika kebijakan fiskal dinilai berisiko, belanja pemerintah terus meningkat, dan arah kebijakan ekonomi dianggap kurang konsisten, pasar akan meminta premi risiko lebih tinggi, yang membuat tekanan terhadap nilai tukar (rupiah) semakin besar,” imbuhnya.
Selain itu, arus keluar modal asing yang masih berlanjut turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan. Ibrahim menambahkan bahwa investor cenderung lebih berhati-hati karena khawatir terhadap pelemahan rupiah, risiko inflasi impor, dan ketahanan fiskal pemerintah. Akibatnya, meskipun pertumbuhan ekonomi cukup kuat, kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih sehingga rupiah masih rentan mengalami tekanan.
Dalam sepekan terakhir, rupiah sebenarnya mencatat penguatan 67 poin atau 0,36 persen terhadap dolar AS, dari Rp18.156 pada 2 November menjadi Rp18.089 pada 6 November 2026. Pada pembukaan pekan, Senin (2/11/2026), rupiah dibuka melemah 11 poin ke Rp18.158 dan ditutup melemah 9 poin ke Rp18.156 per dolar AS. Selanjutnya, Selasa (3/11/2026), rupiah dibuka menguat 4 poin ke Rp18.152 namun ditutup melemah tipis 4 poin di Rp18.160 per dolar AS.
Baca juga:Pada Rabu (4/11/2026), rupiah sempat menguat 50 poin ke Rp18.110, tetapi penguatan tak berlangsung lama karena penutupan justru melemah 8 poin di Rp18.168 per dolar AS. Kemudian, Kamis (5/11/2026), rupiah melesat 87 poin ke Rp18.081 dan ditutup menguat 86 poin di Rp18.082 per dolar AS. Terakhir, Jumat (6/11/2026), rupiah merosot 29 poin ke Rp18.111 dan ditutup melemah 7 poin di Rp18.089 per dolar AS.
Di sisi lain, pelemahan rupiah hari ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang melemah, seperti yuan China 0,06 persen, peso Filipina 0,07 persen, ringgit Malaysia 0,26 persen, dolar Singapura 0,26 persen, dan yen Jepang 0,12 persen. Sementara itu, won Korea Selatan menguat 0,29 persen dan dolar Hong Kong terapresiasi 0,02 persen. Adapun seluruh mata uang utama negara maju kompak melemah terhadap dolar AS, dengan euro turun 0,28 persen, poundsterling melemah 0,31 persen, dolar Australia terkoreksi 0,80 persen, dolar Kanada terdepresiasi 0,32 persen, dan franc Swiss melemah 0,09 persen.
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menilai bahwa sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) bukanlah faktor fundamental utama pelemahan rupiah. Menurutnya, faktor geopolitik memiliki pengaruh lebih besar. “Kalau kita lihat faktor-faktor lebih besar yang mempengaruhi justru adalah geopolitik, kalau geopolitiknya membaik active fund (pemodal asing) ini masih masuk ke pasar saham Indonesia. Tapi kalau geopolitiknya memburuk itu dia cenderung keluar,” ucap Irman saat media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh, dikutip Sabtu (7/11/2026).
Irman menambahkan bahwa keluarnya arus modal asing di pasar saham tidak serta-merta menjadi faktor fundamental bagi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan studi yang dilakukannya, sensitivitas arus keluar modal asing di pasar saham per US$100 juta hanya menyebabkan depresiasi rupiah sebesar Rp11-12 dari level sebelumnya. Menurutnya, dana yang keluar dari pasar saham belum tentu meninggalkan Indonesia karena bisa saja diputar kembali ke instrumen lain yang berisiko rendah di pasar keuangan domestik. “Kalau pasar saham dia bisa lakukan asset rotation dulu sebelum dia keluar, sehingga sensitivitas rupiah kita itu lebih kecil. Artinya kalau kita lihat direct channel dari outflows yang keluar dari pasar saham, dampaknya harusnya lebih kecil,” kata Irman.
Baca juga:Meski rupiah telah melemah 8,45 persen sepanjang tahun 2026, Irman melihat adanya kabar baik dari pasar obligasi. Pada Oktober 2026, pasar obligasi Indonesia mencatatkan arus modal masuk sebesar US$500 juta. Selain itu, ia juga melihat peluang perbaikan dari sisi harga minyak dunia. Meredanya ketegangan geopolitik dan normalisasi rantai pasok berpotensi meningkatkan pasokan minyak global. Apabila konflik geopolitik mengalami deeskalasi dan fasilitas pengolahan minyak kembali beroperasi, negara-negara OPEC+ berpotensi meningkatkan produksi sehingga pasar minyak global dapat mengalami kelebihan pasokan.
Namun, penurunan harga minyak mentah tidak serta-merta membuat inflasi konsumen turun secara cepat. Hal ini disebabkan produk turunan minyak, seperti diesel, masih menghadapi kendala distribusi, logistik, dan kapasitas kilang. Dengan demikian, penurunan inflasi global diperkirakan berlangsung secara bertahap, dan bank sentral AS juga belum memiliki ruang yang cukup besar untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Bagi Indonesia, kombinasi harga energi yang relatif tinggi, suku bunga AS yang bertahan pada level tinggi, defisit transaksi berjalan, serta potensi keluarnya arus modal asing menjadi faktor yang perlu diwaspadai, terutama dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.
Irman Faiz sendiri memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di Rp18.032 per dolar AS pada akhir tahun 2026. Mata uang Garuda diperkirakan masih akan tertekan oleh faktor eksternal, mulai dari geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga energi, meningkatnya ekspektasi inflasi, hingga tingginya imbal hasil US Treasury. Dengan demikian, pergerakan rupiah hari ini dan dalam beberapa waktu ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global dan kebijakan domestik.












