Sorothari – 07 November 2026 | Harga emas (gold price) kembali menjadi sorotan pasar global setelah sejumlah lembaga keuangan memproyeksikan bahwa logam mulia ini akan terus mencetak rekor baru dalam beberapa tahun ke depan. Sejak 2020, harga emas telah melonjak dari USD 1.585 per ons menjadi lebih dari USD 4.500 per ons, dan para analis memperkirakan tren kenaikan masih akan berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Ekonom Deutsche Bank dalam studi yang dipublikasikan pada 27 April lalu menemukan bahwa bank-bank sentral di seluruh dunia semakin agresif menambah cadangan emas mereka. China, Rusia, India, dan Turki, serta sejumlah bank sentral di negara berkembang, menjadi pembeli utama. Studi tersebut bahkan memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD 8.000 per ons pada 2031, atau dua kali lipat dari harga saat ini.
Baca juga:Pendorong di Balik Lonjakan Harga Emas
Frank Schallenberger dari Landesbank Baden-Württemberg (LBBW) mengungkapkan sejumlah faktor yang mendorong kenaikan harga emas. Menurutnya, ekspektasi penurunan suku bunga dan melemahnya dolar AS menjadi pemicu utama, ditambah dengan pembelian besar-besaran oleh bank sentral serta tingginya permintaan terhadap koin dan batangan emas.
Selain itu, ada peserta pasar yang relatif baru, yaitu mata uang kripto. Schallenberger menyebut bahwa pelaku kripto kini semakin serius mendiversifikasi aset mereka, termasuk dengan membeli emas. “Jika ini berlanjut, hal ini bisa memberikan momentum tambahan bagi harga emas,” ujarnya kepada DW.
Analis logam mulia Deutsche Bank Research, Michael Hsueh, membedakan pembeli menjadi dua kategori: inelastis dan elastis. Ia mengamati bahwa pembeli inelastis seperti bank sentral telah mendorong keluar pembeli elastis yang lebih sensitif terhadap harga, termasuk pembeli perhiasan. Permintaan yang stabil ini, kata Hsueh, menjadi faktor kunci di balik kekuatan emas antara 2021 dan 2025.
Baca juga:Sementara itu, Thomas Kulp, analis riset di DZ BANK, menilai bahwa pendorong utama reli harga emas dalam beberapa tahun terakhir adalah akumulasi ketidakpastian geopolitik. Daya tarik emas sebagai aset safe haven, di satu sisi, dan statusnya sebagai jaminan independensi, di sisi lain, menjadi pendorong utama permintaan.
Emas memang telah lama dianggap sebagai cara yang andal untuk melindungi kekayaan. Logam ini tidak dapat menghasilkan imbal hasil sendiri dan rentan terhadap spekulasi, tetapi tetap lebih aman dibandingkan menyimpan uang tunai di bawah kasur. Di tengah suku bunga bank sentral yang relatif rendah, investor pun mencari tempat aman untuk menempatkan kekayaan mereka, dan logam mulia menjadi salah satu pilihan.
Proyeksi dan Tantangan ke Depan
Meski proyeksi harga emas sangat optimistis, pasar tetap diwarnai fluktuasi jangka pendek. Namun, tren jangka panjang menunjukkan kenaikan yang konsisten. Para ekonom Deutsche Bank meyakini bahwa akumulasi cadangan emas oleh bank sentral akan terus menjadi penopang utama harga.
Baca juga:Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai diperkirakan tetap tinggi. Investor individu maupun institusi tampaknya akan terus mengalihkan sebagian portofolio mereka ke logam mulia ini.
Hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa tren kenaikan harga emas akan berhenti. Pasar akan mencermati perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral dan pergerakan dolar AS dalam beberapa bulan mendatang. Jika ekspektasi penurunan suku bunga terwujud, harga emas berpotensi kembali mencatat rekor baru.












