Berita  

Serangan ke Bandara Riyadh Berdampak pada Perjalanan Umrah dan Keselamatan WNI

Serangan ke Bandara Riyadh Berdampak pada Perjalanan Umrah dan Keselamatan WNI
Serangan ke Bandara Riyadh Berdampak pada Perjalanan Umrah dan Keselamatan WNI

Sorothari – 16 Oktober 2026 | Serangan rudal yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, sejak awal Oktober 2026 tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu aktivitas penerbangan dan perjalanan ibadah umrah. Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengonfirmasi penutupan operasional bandara Riyadh diperpanjang hingga 17 Oktober, yang mengakibatkan lebih dari 3.000 penerbangan terdampak dan terhenti. Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan calon jemaah umrah, terutama karena periode Oktober hingga Januari biasanya menjadi puncak musim perjalanan umrah.

Serangan yang diduga dilancarkan oleh kelompok Houthi tersebut terjadi dalam beberapa gelombang. Serangan paling mematikan dilaporkan pada Sabtu, menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Keesokan harinya, serangan kembali terjadi dan menewaskan seorang warga negara Pakistan serta melukai 11 orang. Sebelumnya, serangan terhadap bandara yang sama juga menewaskan tiga warga Arab Saudi, termasuk seorang pilot. Rangkaian serangan ini meningkatkan eskalasi ketegangan di kawasan dan menarik perhatian internasional.

Baca juga:
Menhub Minta Maskapai Penuhi Hak Penumpang Usai Houthi Serang Bandara Riyadh

Dampak terhadap Perjalanan Umrah

Penutupan bandara Riyadh berdampak langsung pada jemaah umrah, baik yang masih berada di Arab Saudi maupun yang baru akan berangkat. Afsal KH, pengelola agen perjalanan spesialis umrah di Uni Emirat Arab (UEA), mengungkapkan bahwa permintaan perjalanan umrah menurun drastis. Banyak calon jemaah yang memilih untuk menunda keberangkatan atau mengajukan pengembalian dana. Afsal menceritakan pengalamannya saat memimpin rombongan umrah berisi 10 orang yang terdampar di Madinah. Rencana awal rombongan untuk terbang dari Madinah ke Riyadh lalu ke Dubai gagal setelah penerbangan dibatalkan mendadak. Untuk kembali ke UEA, rombongan terpaksa menempuh jalur darat melalui Bahrain dengan biaya tiket pengganti yang melonjak hingga lebih dari 2.500 dirham atau sekitar Rp12,2 juta.

Direktur Pelaksana Arooha Travels, Rashid Abbas, menyebutkan bahwa banyak jemaah yang memilih bersikap wait and see. Calon jemaah baru enggan memesan tiket karena khawatir pembatalan penerbangan. Kondisi ini diperburuk oleh situasi keamanan yang belum stabil.

Imbauan bagi WNI dan Jemaah Umrah

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Arab Saudi, termasuk jemaah umrah, untuk meningkatkan kewaspadaan. Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, meminta WNI tetap tenang, mengutamakan keselamatan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan otoritas setempat. WNI diminta menghindari lokasi rawan, membatasi aktivitas yang tidak mendesak, dan mematuhi aturan yang berlaku.

Baca juga:
TNI AU Terima Enam Jet Tempur T-50i Tambahan Senilai Rp3,4 Triliun dari Korea Selatan

KBRI Riyadh juga mengeluarkan imbauan serupa. WNI diimbau untuk memantau status penerbangan kepada maskapai sebelum berangkat ke bandara, serta menyimpan nomor hotline darurat. Hotline KBRI Riyadh dapat dihubungi di nomor +966 569173990. Selain itu, WNI dapat menghubungi nomor darurat setempat: 911 untuk wilayah Riyadh, Makkah, Madinah, dan Eastern Province, serta 998 untuk wilayah lain di Arab Saudi.

Korban WNI dan Respons Internasional

Dalam serangan di Bandara Riyadh, dua WNI dilaporkan mengalami luka ringan. Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, mengonfirmasi bahwa kedua WNI tersebut adalah mukimin (penduduk tetap) di Arab Saudi, bukan jemaah umrah. Mereka adalah RM (45 tahun) yang dirawat di Rumah Sakit Sulaiman Habib, Al Shahafah, Riyadh, dan ET (32 tahun) yang dirawat di Rumah Sakit Sulaiman Habib, Al-Takhasusi, Riyadh. Keduanya telah diperbolehkan pulang pada hari yang sama, 11 Oktober 2026.

Dari sisi internasional, Korea Selatan mengecam keras serangan Houthi terhadap fasilitas sipil Arab Saudi, termasuk Bandara Riyadh dan kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran. Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil tidak dapat ditoleransi dan harus segera dihentikan. Pernyataan itu disampaikan melalui platform X pada 14 Oktober 2026.

Baca juga:
Subuh Surabaya: Pembangunan Jembatan Candinegoro Dikejar 24 Jam, Target Rampung Desember 2026

Sementara itu, Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman melaporkan keberhasilan mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh. Pada 13 Oktober 2026, tiga pesawat nirawak (UAV) juga berhasil dicegat dan dilumpuhkan di utara Riyadh. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi sempat mengaktifkan sistem peringatan dini nasional di Riyadh pada 11 Oktober 2026, namun ancaman dinyatakan telah berlalu.

Hingga saat ini, situasi di Riyadh masih dalam pantauan ketat. WNI dan jemaah umrah diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, dan Kementerian Luar Negeri RI. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi keamanan yang belum sepenuhnya pulih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *