Sorothari – 16 Oktober 2026 | Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, kembali menyoroti risiko besar yang membayangi pasar keuangan global. Dalam laporan riset terbarunya yang berjudul The Numbers Behind the Bond Bear Market, ia memperingatkan bahwa pasar obligasi Amerika Serikat masih menghadapi tekanan berkelanjutan akibat melonjaknya pasokan utang pemerintah dan korporasi, sementara permintaan dari pembeli tradisional seperti China dan Jepang justru melemah. Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran yang lebih luas terhadap stabilitas pasar keuangan, terutama di sektor kecerdasan buatan (AI) yang disebutnya rentan terhadap guncangan likuiditas.
Dalio menilai bahwa kombinasi antara lonjakan penerbitan obligasi dan menurunnya minat investor asing dapat menciptakan ketidakseimbangan pasokan-permintaan yang sulit dipertahankan. “Bear market obligasi kemungkinan masih memiliki jalan panjang untuk dilalui,” tulisnya dalam unggahan di LinkedIn, seperti dikutip Bloomberg. Ia menambahkan bahwa pasar sedang berada dalam fase di mana kenaikan imbal hasil justru memperburuk beban utang, menciptakan lingkaran setan yang hanya bisa dihentikan ketika suku bunga tinggi cukup melemahkan ekonomi dan pasar keuangan untuk menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan.
Baca juga:Beban Utang AS dan Perubahan Struktur Penerbitan
Menurut laporan Dalio, hingga akhir September 2026, total utang pemerintah federal AS telah mencapai sekitar 40 triliun dolar AS, dengan surat berharga yang dapat diperdagangkan (marketable Treasury securities) mencapai 32 triliun dolar AS, naik 8% dari tahun sebelumnya. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Departemen Keuangan AS telah menerbitkan sekitar 1,5 triliun dolar AS dalam bentuk surat utang neto, dan diperkirakan mencapai 2,1 triliun dolar AS hingga akhir tahun.
Yang menjadi perhatian utama Dalio adalah perubahan komposisi penerbitan. Jika sebelumnya surat utang jangka pendek (Treasury Bills) hanya sekitar 20% dari total utang yang belum dibayar, kini porsinya melonjak menjadi sekitar 50% dari ekspektasi penerbitan, dan diperkirakan berlanjut hingga 2027. Hal ini mencerminkan lemahnya permintaan terhadap obligasi jangka panjang, sehingga pemerintah terpaksa mengandalkan instrumen jangka pendek yang lebih mudah dijual namun memperbesar risiko refinancing. Dalam kondisi suku bunga tinggi, utang yang jatuh tempo harus dibiayai ulang dengan biaya yang lebih mahal, yang pada gilirannya memperbesar defisit anggaran.
Dalio memperkirakan bahwa dalam skenario ekonomi normal, rata-rata beban utang federal per rumah tangga AS akan meningkat dari sekitar 240.000 dolar AS menjadi 270.000 dolar AS dalam dua tahun ke depan. Jika ditambah dengan utang rumah tangga dan swasta lainnya, total beban per rumah tangga bisa mencapai sekitar 430.000 dolar AS. Angka ini belum memperhitungkan kemungkinan resesi. Jika terjadi resesi sedang hingga berat, defisit bisa membengkak lebih jauh akibat stimulus pemerintah.
Permintaan Asing Melemah, Ketergantungan pada Investor Domestik Meningkat
Selain masalah pasokan, Dalio menyoroti perubahan struktural pada sisi permintaan. Saat ini, investor asing memegang sekitar 9,3 triliun dolar AS surat utang AS, atau sekitar 32% dari total marketable Treasury, menjadikannya kelompok pemegang terbesar. Federal Reserve memegang sekitar 14%. Namun, laju pembelian investor asing melambat dibandingkan pertumbuhan penerbitan utang pada 2025-2026, sehingga pasar semakin bergantung pada investor domestik untuk menyerap pasokan baru.
Dalio secara khusus menyebut China dan Jepang sebagai pemain kunci. Kedua negara memiliki aset keuangan dolar dalam jumlah besar, tetapi motif mereka mulai bergeser dari akumulasi menjadi pengurangan eksposur. Untuk China, Dalio menilai data resmi kepemilikan surat utang AS mungkin meremehkan posisi sebenarnya, karena banyak dana China yang dipegang melalui pusat keuangan lepas pantai dan perantara lainnya. Sementara itu, Jepang memiliki insentif untuk mendorong investor domestik mengurangi kepemilikan 1,1 triliun dolar AS dalam Treasuries dan memulangkan modal guna mendukung yen dan pasar obligasi Jepang. Kenaikan imbal hasil di Jepang akan memperkuat dorongan tersebut.
Baca juga:Dalio juga mengingatkan bahwa pemerintah AS harus me-roll over sekitar 10 triliun dolar AS obligasi yang jatuh tempo tahun ini, ditambah 2,1 triliun dolar AS pinjaman baru. Dengan volume sebesar itu, bahkan penurunan kecil dalam keinginan investor untuk menginvestasikan kembali dana mereka dapat menciptakan celah pendanaan yang signifikan. “The bond bear market is likely to have a long way to go,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa ia telah lama menyarankan investor untuk menjual obligasi dan beralih ke emas.
Peringatan Likuiditas di Sektor AI
Di sisi lain, Dalio juga menyoroti risiko yang mengintai di sektor AI. Dalam sebuah analisis yang mengutip pendapatnya, ia memperingatkan bahwa ilikuiditas dapat menjadi pemicu utama crash di sebagian industri AI. “Illiquidity will crash the AI industry,” ujarnya, seperti dikutip Seeking Alpha. Yang dimaksud bukanlah hilangnya teknologi itu sendiri, melainkan reset valuasi besar-besaran pada saham-saham yang kenaikan harganya lebih didorong oleh gelombang modal daripada fundamental.
Analisis tersebut menyoroti bahwa banyak aliran dana ke saham AI tidak didasari fundamental, melainkan mengikuti momentum, pembobotan indeks, dan produk tematik. Struktur ini memperkuat dinamika harga saat pasar naik, tetapi dapat memicu penjualan dipercepat ketika likuiditas tiba-tiba mengering. Dalam fase seperti itu, spread bid-ask melebar tajam dan volume perdagangan anjlok, memaksa investor menjual dalam kondisi “buyers strike” di mana hampir tidak ada pihak yang berani mengambil risiko. Saham AI lapis kedua, saham pertumbuhan dengan valuasi tinggi, dan instrumen dengan market breadth sempit menjadi yang paling rentan.
Dalio menyoroti kombinasi berbahaya dari market breadth yang sempit, leverage tinggi di sebagian investor, dan konsentrasi besar dalam portofolio institusi. Dalam kondisi stres, likuiditas tidak lagi menjadi konsep abstrak, melainkan terwujud dalam mekanisme nyata seperti forced selling dari struktur berleverage, margin call, rebalancing indeks dan ETF, serta berkurangnya kapasitas market maker. Jika faktor-faktor ini bertemu dengan perubahan sentimen dari euforia menjadi penghindaran risiko, penurunan harga bisa jauh lebih besar daripada kerusakan fundamentalnya.
Peringatan Dalio ini muncul di tengah tahun yang sulit bagi obligasi. Indeks Bloomberg yang melacak Treasuries mencatat kerugian sekitar 2,4% sepanjang tahun, dan menuju penurunan tahunan pertama sejak 2022. Kenaikan harga energi dan ketahanan ekonomi telah mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga, sementara banjir penerbitan utang pemerintah dan korporasi menambah tekanan. Meskipun demikian, sejumlah investor dan strategis, termasuk dari BlackRock dan Morgan Stanley Investment Management, justru menjadi lebih optimistis setelah imbal hasil Treasury 10 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir seperempat abad, mendekati 5,4%.
Baca juga:Di tengah perbedaan pandangan tersebut, Dalio tetap pada posisinya. Ia menilai bahwa bobot utang AS, yang diukur dari total pinjaman dan biaya layanan utang terhadap pendapatan pemerintah, telah mencapai level tertinggi sejak Perang Dunia II dan akan memburuk dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu, dalam pertemuan terpisah di Beijing pada Rabu (15/10), Dalio bertemu dengan He Lifeng, anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis China dan direktur Kantor Komisi Sentral untuk Urusan Keuangan dan Ekonomi. Dalam pertemuan itu, He Lifeng menyatakan bahwa dengan tahun 2026 menandai tahun pertama periode Rencana Lima Tahun ke-15 China (2026-2030), ekonomi China telah mempertahankan momentum baik yang ditandai dengan inovasi berkelanjutan, optimalisasi, dan pertumbuhan yang solid. Dalio menyampaikan optimisme terhadap prospek dan peluang pembangunan ekonomi China, serta menyatakan kesediaannya untuk terus berperan aktif dalam memajukan kerja sama ekonomi dan perdagangan AS-China.
Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Dalio menyuarakan kekhawatiran mendalam tentang pasar keuangan global, ia tetap melihat potensi di ekonomi tertentu. Namun, peringatannya tentang pasar obligasi dan risiko likuiditas di sektor AI menjadi sinyal bahwa investor perlu waspada terhadap perubahan kondisi makro yang bisa datang lebih cepat dari perkiraan. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Departemen Keuangan AS maupun Federal Reserve terkait laporan Dalio tersebut.












