Berita  

Suhu di Jateng Tembus 37 Derajat Celsius, Warga Keluhkan Panas Menyengat

Suhu di Jateng Tembus 37 Derajat Celsius, Warga Keluhkan Panas Menyengat
Suhu di Jateng Tembus 37 Derajat Celsius, Warga Keluhkan Panas Menyengat

Sorothari – 17 Oktober 2026 | Suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, dalam sepekan terakhir tercatat sangat tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum di beberapa daerah menembus 37 derajat Celsius. Warga pun mengeluhkan cuaca panas yang menyengat, bahkan ada yang menyebutnya seperti simulasi neraka.

BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang memprediksi wilayah Jawa Tengah akan cerah hingga berawan pada Jumat, 16 Oktober 2026, dengan suhu udara maksimal mencapai 37 derajat Celsius. Prakirawan BMKG, Arif N, mengingatkan bahwa musim kemarau masih berlangsung hingga pertengahan Oktober. “Musim kemarau masih berlangsung hingga pertengahan Oktober ini, waspada kebakaran hutan dan lahan karena banyak tanaman kering dan tidak ada hujan sepanjang hari,” ujarnya.

Baca juga:
Kabut Asap Karhutla Kian Pekat, Pemerintah Belum Tetapkan Bencana Nasional

Pantauan di Kota Semarang, Jumat siang, menunjukkan banyak warga yang beraktivitas di luar ruangan menggunakan payung atau jaket untuk melindungi diri dari sengatan matahari. Hembusan angin pun terasa panas, terutama saat mengendarai sepeda motor. Seorang warga, Fauzi (29), mengaku panas sangat menyengat saat berjalan kaki dari kawasan Gergaji menuju Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jateng, sekitar 2 kilometer, pada siang hari.

“Kayak simulasi neraka, panas banget. Kerasa panasnya dari jam 11.00 WIB. Aku jalan ke Perpusda 2 km terus udah panas banget, makanya pakai payung, pakai sunscreen berlapis,” kata Fauzi kepada detikJateng di Jalan Pahlawan, Jumat (16/10/2026). Setibanya di Perpusda, ia langsung meminum sebotol air putih karena kepanasan. “Karena aku takut kena heat stroke. Sedih banget padahal aku suka jalan tapi panasnya nggak kuat, jadi males jalan tapi tetap dihadapi,” ucapnya.

Fauzi mengaku cuaca panas menyengat telah dirasakannya sejak September. Bahkan, ia sempat bermimpi hujan turun di Semarang karena tidak tahan dengan panas. “Panas ini kerasa panas banget dari September sampai aku mimpi hujan di Semarang karena saking panasnya. Sebelumnya udah hujan dua kali sih, tapi nggak ngaruh,” ujarnya. Ia juga prihatin dengan daerah yang terdampak karhutla. “Panas di Semarang aja sudah menyengat, apalagi di daerah yang terdampak karhutla, pasti udah kayak neraka. Semoga bisa cepat hujan, khususnya di sana, supaya karhutla padam,” lanjutnya.

Warga lainnya, Lina (27), juga mengeluhkan cuaca panas. Menurutnya, panas semakin terasa ketika keluar dari ruangan berpendingin udara atau AC. Keluhan serupa datang dari pekerja lapangan di Yogyakarta. Syofyan, seorang pekerja lapangan, mengaku harus membawa baju ganti saat bekerja untuk menjaga kenyamanan. “Kalau dibandingkan tahun lalu, rasanya bisa berbeda-beda. Yang paling terasa itu ketika matahari terik dari pagi sampai siang dan hujan belum juga turun,” kata Syofyan saat dihubungi detikJogja, Kamis (15/10/2026).

Baca juga:
Kasus Asusila Kepala Sekolah Pekalongan dan Guru SD Berujung Pencopotan Jabatan

Syofyan juga merasa mudah lelah, sakit kepala, dan cepat capek setelah terlalu lama beraktivitas di bawah terik matahari. “Jelas terasa di badan. Kalau terlalu lama di bawah matahari, kepala sering sakit. Biasanya badan juga lebih cepat capek, keringat banyak keluar, dan rasanya ingin terus minum,” ujarnya. Kondisi tersebut terkadang mengganggu konsentrasinya bekerja. “Kadang konsentrasi juga berkurang karena badan sudah telanjur lelah. Kalau pekerjaan masih banyak, mau tidak mau harus pintar mengatur tenaga dan mencari waktu untuk istirahat sebentar,” sambungnya.

Analis Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Rahmad Tauladani, menjelaskan bahwa cuaca panas di Jogja dipengaruhi oleh dampak El-Nino yang menyebabkan kemarau panjang. “Dampak yang dirasakan di wilayah Indonesia adalah berkurangnya potensi hujan sehingga mengalami musim kemarau yang panjang,” ungkapnya.

BMKG mencatat beberapa daerah dengan suhu maksimum tertinggi dalam sepekan terakhir, antara lain Jawa Barat 37,8 derajat Celsius, Jawa Tengah 37,8 derajat Celsius, Papua Selatan 37,4 derajat Celsius, dan Kalimantan Selatan 37,4 derajat Celsius. Menurut BMKG, posisi semu matahari di sekitar ekuator dan tutupan awan yang minim turut mendukung tingginya suhu udara. “Posisi semu matahari di sekitar ekuator dan tutupan awan yang minim turut mendukung suhu udara tinggi,” kata BMKG, Jumat (16/10/2026).

BMKG mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena banyak tanaman kering dan tidak ada hujan sepanjang hari. Selain itu, potensi banjir rob masih terjadi di wilayah pesisir. Warga diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, menggunakan pelindung seperti payung atau topi, serta memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi dan heat stroke.

Baca juga:
Warga Wailamung Sikka Tewas Digigit Babi Hutan saat Berburu

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai perkiraan kapan musim hujan akan tiba. BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan akan memberikan informasi terbaru. Masyarakat diimbau untuk mengikuti arahan dari pihak berwenang dan menjaga kesehatan di tengah cuaca panas ekstrem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *