Berita  

Langit Palangkaraya Memerah, Greta Thunberg Serukan Krisis Karhutla

Langit Palangkaraya Memerah, Greta Thunberg Serukan Krisis Karhutla
Langit Palangkaraya Memerah, Greta Thunberg Serukan Krisis Karhutla

Sorothari – 18 Oktober 2026 | Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan semakin mendapat perhatian dunia. Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, menyoroti kondisi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, setelah membagikan video yang memperlihatkan langit kota tersebut berwarna oranye pekat akibat kabut asap. Video itu diunggah melalui akun Instagram @gretathunberg dan dengan cepat menarik perhatian publik internasional.

Dalam unggahannya, Greta mendesak masyarakat dunia untuk menyebarkan pesan dari Kalimantan. “Darurat!! Silakan bagikan pesan ini dari Kalimantan Indonesia,” tulis Greta, seperti dikutip dari posting-annya. Ia menilai bahwa krisis kebakaran dan kabut asap masih jauh dari selesai. “Seseram rekaman ini, kenyataan di lapangan jauh lebih buruk daripada apa yang Anda lihat di media sosial,” lanjutnya.

Baca juga:
Letjen TNI Iwan Setiawan Resmi Jabat Pangkostrad, Ini Rekam Jejak Sang Penakluk Everest

Video yang dibagikan Greta memperlihatkan suasana sekitar yang diselimuti warna oranye, sementara orang yang merekam terlihat mengenakan masker respirator dan kacamata pelindung. Kondisi ini menggambarkan betapa pekatnya asap karhutla yang telah menyelimuti Palangkaraya dan sekitarnya.

Kualitas udara di Palangkaraya sendiri telah mencapai tingkat yang sangat berbahaya. Berdasarkan data yang dihimpun, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya mencapai 1.268, dengan partikel halus PM2.5 sebagai pencemar kritis. Angka ini jauh di atas ambang batas aman dan menempatkan kota tersebut dalam kategori berbahaya bagi kesehatan.

Dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 288.540 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla hingga 14 Oktober 2026. Yang lebih memprihatinkan, sebanyak 64.913 kasus di antaranya menimpa balita usia 0-5 tahun. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah kasus terbanyak.

Asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya seperti PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa beracun lainnya. Polutan-polutan ini dapat memicu ISPA, memperburuk asma, serta mengganggu fungsi paru-paru dan sistem kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan seperti balita, anak-anak, dan lansia.

Menanggapi situasi tersebut, Kemenkes telah menyalurkan sekitar 5,3 juta masker ke wilayah terdampak. Selain itu, layanan kesehatan dan logistik juga disiapkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap yang berkepanjangan.

Baca juga:
Pasar Nangka Bungur Sepi, Akses dan Parkir Jadi Kendala Utama

Di sisi lain, organisasi kemanusiaan Rumah Zakat turut memperkuat respons terhadap karhutla di berbagai wilayah. Sejak pertengahan Juli 2026, karhutla di Kalimantan Selatan meningkat dan meluas ke sejumlah wilayah seperti Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, dan Banjarmasin. Sementara di Kalimantan Barat, kebakaran meningkat sejak 16 Juli 2026, bermula di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Relawan Rumah Zakat terlibat dalam upaya pemadaman, termasuk di wilayah Wonodadi dan Katingan, Kalimantan Tengah. Di Katingan, tujuh relawan Rescue Rumah Zakat bersama tim setempat melakukan penanganan titik api dengan metode nozzle tanam. Metode ini dilakukan dengan memasukkan selang ke area gambut untuk menjangkau bara api di bawah permukaan tanah sekaligus mendinginkan area yang masih panas, sehingga risiko api kembali menyala dapat dikurangi.

Selain pemadaman, Rumah Zakat juga mendirikan Pos Segar di Palangka Raya untuk menyediakan air minum, vitamin, buah, dan makanan ringan bagi petugas serta relawan. Mereka juga membagikan 700 masker kepada pengguna jalan di sekitar lampu lalu lintas Tugu Mahir Mahar, disertai edukasi tentang pentingnya menggunakan masker dan menjaga kesehatan saat kualitas udara memburuk.

Hingga 15 Oktober 2026, Rumah Zakat mencatat telah melakukan aksi pemadaman di 40 titik dengan dukungan 100 rol selang pemadam. Mereka juga menyalurkan bantuan berupa 38.740 masker KN95 dan medis, 136 paket vitamin dan obat-obatan, 1.215 cup Pos Segar/Pos Hangat, 1.729 paket makanan siap saji, serta 15.000 liter air bersih. Dukungan lainnya meliputi 155 dus air mineral, 600 paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT), 60 paket alat pelindung diri (APD), 398 kacamata optik, lima item oksigen portabel, dan 200 kaleng Superqurban.

Di tengah situasi darurat ini, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan memantau kualitas udara secara berkala. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengecek kualitas udara, salah satunya melalui aplikasi Google Maps. Pengguna dapat membuka aplikasi, memilih menu “Layers” di pojok kanan atas, lalu memilih “Kualitas Udara” untuk melihat peta sebaran kabut asap beserta angka Indeks Kualitas Udara (AQI) di sekitar lokasi.

Baca juga:
Dinamika Perwira Tinggi Polri: Dari Pengabdian Brigadir Jenderal Polisi hingga Rotasi Kepemimpinan

Sementara itu, Rara Pawang Hujan, yang sempat ramai diminta warganet untuk turun tangan, mengaku telah melakukan doa dan meditasi dari jarak jauh untuk membantu wilayah Kalimantan. Ia menyebut telah memusatkan perhatian agar hujan turun di sejumlah daerah, termasuk Balikpapan dan Palangkaraya. “Aku udah fokus doa, minta berkah Tuhan. Meditasi manifesting minta hujan,” tulis Rara melalui akun Instagram @rarapawang_cahayatarot.

Rara mengklaim hujan sempat turun di Balikpapan pada 13-14 Oktober 2026 dan gerimis di Palangkaraya pada 15 Oktober 2026. “Palangkaraya kemarin 15/10/2026 atas berkah Tuhan & restu semesta doa kita bersama ikhtiar bersama terutama ala aku jarak jauh terkabul hujan ya jam 16.10 WIB, durasi 22 menit deras pas 16.32 dah reda,” tambahnya.

Meski demikian, Rara menegaskan belum bersedia mendatangi lokasi kebakaran secara langsung tanpa jaminan keselamatan. “Di era sekarang pemerintahan hanya mau OMC aja jadinya ya sudah aku gak mau ke lokasi sendiri tanpa jaminan keselamatan diriku lahir batin,” ujarnya. OMC atau Operasi Modifikasi Cuaca merupakan metode teknis untuk memengaruhi kondisi cuaca, yang dalam penanganan karhutla digunakan untuk mendukung penambahan curah hujan apabila kondisi atmosfer memungkinkan.

Hingga saat ini, upaya penanganan karhutla masih terus dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi kemanusiaan, hingga relawan. Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan dan mengikuti perkembangan informasi resmi terkait kualitas udara dan penanganan karhutla.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *