Sorothari – 12 Oktober 2026 | Kualitas udara Jambi hari ini kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Data dari Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 21.00 WIB mencatat 335 titik panas di Provinsi Jambi, menjadikannya salah satu daerah penyumbang asap terbesar di Pulau Sumatera. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi warga.
Gubernur Jambi Al Haris mengakui bahwa arah angin menjadi faktor utama yang memperparah situasi. “Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah arah angin yang semuanya terkunci dan menuju ke Jambi,” ujarnya saat memantau titik api dan pergerakan angin melalui layar monitor aplikasi SiPongi di Posko Udara Satgas Karhutla Jambi, Sabtu (10/10/2026). Menurutnya, titik api terpantau di sejumlah wilayah, termasuk Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tebo. Tim satgas terus berupaya memadamkan api melalui jalur darat, seperti penyiraman dan pembuatan sekat kanal, terutama di kawasan yang sulit dijangkau. Namun, Al Haris menekankan bahwa penanganan api berbeda dengan mengatasi asap yang sudah menyebar. “Semua tim bekerja. Kalau ada api yang membakar, InsyaAllah tim berusaha untuk memadamkannya. Tapi kalau sudah berupa kabut asap, tim tidak bisa apa-apa, kecuali Allah yang bisa menghentikannya,” katanya.
Baca juga:Dampak kabut asap terhadap kesehatan mulai terlihat di fasilitas kesehatan. RSUD Raden Mattaher Jambi mencatat sebanyak 55 pasien bronkopneumonia selama tiga bulan terakhir, terdiri dari 40 pasien anak-anak dan 15 pasien dewasa. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Raden Mattaher Jambi, dr. Anton Trihartanto, menyampaikan bahwa data tersebut merupakan catatan pelayanan rumah sakit, bukan angka kasus yang dipastikan disebabkan oleh karhutla. “Secara medis, ISPA merupakan istilah untuk infeksi saluran pernapasan akut yang dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah. Sementara itu, bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk pneumonia, yakni infeksi atau peradangan pada paru-paru yang terutama mengenai bronkus dan alveolus,” jelasnya. Anton menambahkan bahwa penyakit penyerta atau komorbid dapat menjadi faktor pemberat pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan. “Di tengah kondisi kabut asap karhutla, kualitas udara menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Asap kebakaran mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu iritasi serta peradangan saluran pernapasan,” ungkapnya.
Penanganan karhutla melalui udara, seperti operasi water bombing, belum dapat dilakukan secara optimal. Al Haris menyebut jarak pandang di Jambi masih sekitar 1.000 meter, sedangkan standar yang dibutuhkan untuk penerbangan tersebut di atas 1.800 meter. “Kendala kita yang pertama, kita tidak bisa melakukan langkah-langkah water bombing karena sampai hari ini jarak pandang kita masih di angka 1.000 meter. Padahal, standar penerbangan itu harus di atas 1.800 meter,” jelasnya. Ia berharap arah angin berubah dan hujan segera turun untuk membantu mengurangi dampak karhutla serta memperbaiki kualitas udara.
Baca juga:Sementara itu, kabut asap dari Jambi dan Sumatera Selatan juga berdampak ke provinsi tetangga. Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto menyebut asap yang menyelimuti Riau berasal dari provinsi tetangga. “Ini adalah kiriman dari tetangga,” ujarnya. Data BMKG pada Sabtu, 10 Oktober 2026, mencatat 2.531 hotspot di Sumatera hingga pukul 23.00 WIB, dengan Sumatera Selatan menyumbang 1.887 titik dan Jambi 335 titik. Riau hanya mencatat tiga titik panas. Meskipun Riau nihil kebakaran aktif, kabut asap tetap bertahan karena terbawa angin dari daerah lain.
Secara nasional, Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan titik panas di Kalimantan Tengah, dari 122 menjadi 288 titik dalam sehari. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan 170 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat di wilayah terdampak kabut asap pada Agustus hingga pertengahan September 2026, dengan lebih dari 40 ribu kasus terjadi pada anak-anak. Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun. Kabut asap juga menyebabkan sejumlah sekolah di Malaysia ditutup dan menurunkan kualitas udara di Malaysia serta Singapura hingga kategori tidak sehat.
Baca juga:Para pegiat lingkungan menilai penanganan krisis ini membutuhkan kemauan politik, perbaikan tata kelola hutan, dan akuntabilitas lintas negara. Direktur Eksekutif Auriga Nusantara Timer Manurung mengatakan, kabut asap lintas batas yang berulang tidak dapat dilepaskan dari deforestasi dan kebijakan politik yang mendorong eksploitasi hutan. “Kebijakan politik pemerintah telah melegitimasi eksploitasi dan memicu meluasnya kebakaran hutan serta deforestasi di Indonesia,” katanya dalam diskusi di Bangkok Climate Action Week 2026. Ia menilai, kebijakan pengelolaan hutan kerap tidak melibatkan masyarakat adat secara bermakna, sehingga pengetahuan tradisional yang dapat berkontribusi dalam pencegahan kebakaran sering terabaikan.












