Sorothari – 18 Oktober 2026 | Kualitas udara Palembang hari ini masih berada dalam kategori berbahaya akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Sumatera Selatan. Berdasarkan pemantauan IQAir pada Sabtu pagi, kawasan Sukarami mencatat indeks kualitas udara (AQI) 674, disusul Universitas Sriwijaya 340 dan Musi Dua 338. Sementara itu, Demang berada di angka 285 dan GP Palembang 283, keduanya masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena partikel halus PM2.5 dapat menembus saluran pernapasan hingga paru-paru, memicu iritasi, batuk, sesak napas, dan memperburuk penyakit jantung serta paru kronis.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyatakan buruknya kualitas udara berkaitan dengan asap karhutla di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya. “Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih buruk. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dianjurkan,” ujarnya. Imbauan ini terutama ditujukan bagi anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung.
Baca juga:Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak asap karhutla di Sumatera Selatan. Operasi yang berlangsung pada 16–25 Oktober 2026 ini menggunakan bahan semai dry ice atau es kering untuk menipiskan asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Metode ini disesuaikan dengan kondisi atmosfer, dan apabila mendukung pertumbuhan awan hujan, operasi dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl).
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa penggunaan dry ice secara khusus ditujukan untuk memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan mengganggu kestabilan lapisan inversi. “Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terperangkap di dekat permukaan akibat lapisan inversi. Melalui OMC menggunakan dry ice, kami mencoba memengaruhi kondisi atmosfer agar lapisan tersebut melemah dan pergerakan udara menjadi lebih baik. Dengan demikian, konsentrasi asap di dekat permukaan diharapkan dapat berkurang,” kata Thomas kepada wartawan, Minggu (18/10).
Berdasarkan data sementara BMKG, pelaksanaan OMC dengan dry ice menunjukkan perubahan konsentrasi partikulat halus PM2.5. Konsentrasinya turun dari 660 pada pagi hari, yang masuk kategori berbahaya, menjadi 208 pada sore hari setelah sortie penerbangan kedua, meskipun kualitas udara masih berada dalam kategori sangat tidak sehat. Jarak pandang atau visibility juga meningkat dari sekitar 300 meter pada pukul 09.00 WIB menjadi 2.800 meter pada sore hari.
Baca juga:Pada hari pertama, OMC dilakukan melalui satu sortie penerbangan dengan membawa sekitar 800 kilogram dry ice di wilayah sekitar Palembang. Hari berikutnya, penerbangan direncanakan dua sortie dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca. Thomas menuturkan, operasi akan terus dievaluasi berdasarkan dinamika atmosfer. Jika lapisan inversi menipis dan ada potensi awan hujan, penyemaian dry ice dapat dipadukan dengan garam untuk mendukung pembentukan hujan. “Operasi ini tidak menggunakan satu pendekatan untuk semua kondisi. Ketika lapisan inversi masih kuat, dry ice digunakan untuk membantu mengganggu kestabilan lapisan tersebut. Apabila kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan, penyemaian dapat dikombinasikan dengan NaCl,” jelasnya.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan penanganan karhutla dilakukan melalui kerja sama lintas instansi. Unsur yang terlibat meliputi TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, Manggala Agni Kemenhut, Masyarakat Peduli Api, hingga relawan. Satgas Darat terus melakukan pemadaman untuk mengendalikan sumber api dan asap, sementara Satgas Udara mendukung dari udara, dan OMC menjadi langkah pendukung untuk merespons kondisi atmosfer.
Di sisi lain, kualitas udara Jakarta pada Minggu pagi juga tidak sehat dengan indeks 180 dan konsentrasi PM2.5 sebesar 96,5 mikrogram per meter kubik, atau 19,3 kali lebih tinggi dari nilai panduan tahunan WHO. Jakarta menempati urutan ketiga terburuk se-Indonesia setelah Palembang (708) dan Pontianak (196). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan Dinas Kesehatan menyiagakan 31 rumah sakit umum daerah, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu untuk menangani penyakit akibat cuaca. BMKG menyebut sebaran asap karhutla mulai menjauhi Jabodetabek, meski sempat masuk pada Jumat (16/10) namun tidak berdampak pada kualitas udara permukaan.
Baca juga:Hingga saat ini, OMC dry ice masih berlanjut dan hasilnya akan terus dipantau. Masyarakat diimbau memantau perkembangan kualitas udara melalui aplikasi IQAir dan mengikuti informasi resmi dari instansi terkait. Pembatasan aktivitas luar ruangan, khususnya bagi kelompok rentan, perlu menjadi perhatian selama kondisi udara belum membaik.












