Sorothari – 05 Oktober 2026 | Ancaman gempa megathrust kembali menjadi sorotan di Indonesia. Berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara Timur, memiliki potensi mengalami guncangan dahsyat akibat aktivitas subduksi lempeng tektonik. Meskipun waktu terjadinya belum dapat diprediksi, para ahli mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan untuk meminimalkan risiko bencana.
Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang merupakan pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif. Zona subduksi, tempat lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua, menjadi sumber utama gempa megathrust. Energi yang terakumulasi selama proses penguncian (locking) antarlempeng dapat dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gempa besar yang berpotensi memicu tsunami.
Baca juga:Potensi di Sumatera: Megathrust Mentawai M8,9
Salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius adalah zona megathrust Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai di Sumatera Barat. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengingatkan bahwa zona tersebut memiliki potensi menghasilkan gempa berkekuatan besar yang diperkirakan dapat mencapai magnitudo 8,9. Kajian menggunakan data Global Navigation Satellite System (GNSS) pada 2018 hingga 2021 menunjukkan wilayah tengah Sumatera, termasuk Kepulauan Mentawai, terus mengalami perubahan bentuk kerak bumi akibat pergerakan dan tekanan antarlempeng tektonik.
“Waktunya belum dapat diprediksi. Namun, jumlah korban dapat dikurangi jika kita siap siaga,” ujar Daryono. Ia menekankan bahwa ketidakpastian waktu kejadian bukanlah alasan untuk panik, melainkan justru menjadi alasan untuk bersiap.
Risiko di Jawa: Empat Segmen Megathrust
Di selatan Pulau Jawa, setidaknya terdapat empat segmen megathrust yang diidentifikasi dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, yaitu Megathrust Selat Sunda-Banten, Megathrust Jawa Barat, Megathrust Jateng-Jatim, dan Megathrust Bali. Pesisir selatan Jawa Timur, misalnya, berhadapan langsung dengan jalur pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Aktivitas di zona ini menjadi salah satu penyebab gempa yang kerap terjadi, seperti gempa M6,2 di laut tenggara Pacitan pada 6 Februari 2026, M5,3 di lokasi yang hampir sama pada 27 Juni, dan M5,0 di selatan Malang pada 14 September.
Meskipun Kota Tangerang tidak berada tepat di atas zona Megathrust Selat Sunda, ancaman guncangan gempa besar dari kawasan Banten tetap perlu diwaspadai. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Mahdiar, menyatakan bahwa risiko yang paling perlu diwaspadai adalah guncangan tanah (ground shaking) yang dapat berdampak pada bangunan dan infrastruktur. “Kesiapsiagaan perlu diperkuat sejak sekarang, terutama dengan memahami risiko dan mengetahui langkah penyelamatan diri ketika gempa terjadi,” kata Mahdiar pada Senin (5/10/2026).
Baca juga:Gempa Beruntun di Sumba dan Aceh: Tidak Saling Terkait
Pada Minggu (4/10/2026) pagi, dua gempa terjadi dalam selang waktu 41 menit 41 detik, masing-masing di Sumba Barat Daya (M5,9) dan Aceh Jaya (M5,7). Edukator Kebencanaan sekaligus Anggota IABI, Daryono, menjelaskan bahwa kedua gempa tersebut tidak memiliki hubungan sebab-akibat meskipun waktunya berdekatan. “Sumbernya terpisah ribuan kilometer dan mekanisme tektoniknya berbeda,” terangnya.
Gempa Sumba tercatat pada kedalaman 30 kilometer dengan mekanisme sesar turun (normal fault) yang menunjukkan adanya proses peregangan kerak bumi. Sementara itu, gempa Aceh memiliki kedalaman 55 kilometer dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) yang berkaitan dengan proses kompresi pada sistem subduksi megathrust Sumatra. Perbedaan tersebut menegaskan bahwa gempa di dua lokasi berbeda tidak dapat dianggap saling memicu hanya karena waktunya berdekatan.
Pentingnya Kesiapsiagaan Masyarakat
Menghadapi ancaman gempa megathrust, para ahli dan pemerintah daerah terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain memastikan bangunan dalam kondisi aman, mengetahui titik berkumpul, dan membicarakan rencana evakuasi bersama anggota keluarga. “Kesiapsiagaan juga perlu dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk keluarga,” tutup Mahdiar.
Daryono juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak spekulasi mengenai kapan gempa besar akan terjadi. Ilmu pengetahuan hingga kini belum mampu menentukan secara tepat tanggal, waktu, dan lokasi terjadinya gempa besar. Oleh karena itu, fokus utama haruslah pada upaya mitigasi dan kesiapsiagaan, bukan pada rasa takut yang berlebihan.
Baca juga:Dengan memahami risiko dan terus memperkuat kesiapsiagaan, diharapkan dampak dari gempa megathrust dapat diminimalkan, baik dari segi korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur.












