Sorothari – 13 Oktober 2026 | Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 yang jatuh pada 10 Oktober lalu menjadi momentum penting bagi berbagai elemen masyarakat di Indonesia untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu kesehatan jiwa. Tahun ini, tema global “Lived experiences heard: real voices, real change” atau “Pengalaman Hidup Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata” menjadi benang merah dari rangkaian kegiatan yang digelar di sejumlah daerah, mulai dari Banda Aceh, Surakarta, Banyuwangi, hingga Hamburg, Jerman.
Di Banda Aceh, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Aceh bersama PPDS Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar serangkaian acara pada 10–11 Oktober 2026. Kegiatan diawali dengan acara seremonial yang dihadiri oleh jajaran pengurus, tenaga kesehatan, mahasiswa, serta pasien dan keluarga. Ketua Panitia Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, dr. Insan Sarami, Sp.KJ, melaporkan bahwa rangkaian kegiatan dirancang untuk memberikan ruang bagi pasien dan masyarakat dalam menyampaikan pengalaman serta mendapatkan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan jiwa.
Baca juga:Ketua PDSKJI Cabang Aceh, dr. Khairiyadi, Sp.KJ, dalam sambutannya menekankan pentingnya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan jiwa serta membangun lingkungan yang lebih terbuka dan bebas stigma. Salah satu momen simbolis adalah pemotongan tumpeng yang menandai rasa syukur dan kebersamaan dalam memperingati hari penting ini. Suasana kemudian dimeriahkan dengan lomba senam beregu paling atraktif yang diikuti pasien dan peserta lainnya, menunjukkan bahwa aktivitas bersama dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan dan meningkatkan kepercayaan diri.
Puncak kegiatan di Banda Aceh adalah sesi storytelling di mana pasien diberikan ruang untuk menyampaikan cerita dan pengalaman hidup mereka secara langsung. Melalui sesi ini, pengalaman hidup pasien tidak hanya dipandang dari sisi diagnosis atau gejala, melainkan sebagai cerita manusia yang penuh perjuangan, harapan, dan kebutuhan untuk didengarkan. Ruang tersebut menjadi pengingat bagi tenaga kesehatan bahwa pelayanan kesehatan jiwa harus mengedepankan empati dan penghargaan terhadap martabat pasien. Pada hari kedua, Minggu 11 Oktober, kegiatan berlanjut di Car Free Day Banda Aceh untuk membawa pesan kesehatan jiwa lebih dekat kepada masyarakat luas.
Sementara itu, di Kota Surakarta, warga Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Disabilitas Mental Griya Peduli PMI Kota Surakarta memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia dengan menggelar jalan sehat. Kegiatan ini diikuti dengan penuh antusiasme oleh para warga. Kepala LKS Griya Peduli PMI Kota Surakarta, Eni Wulandari, mengatakan bahwa jalan sehat bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari pendampingan untuk mendukung kesejahteraan warga. “Selain untuk memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, kegiatan jalan sehat ini juga bertujuan menjaga kesehatan fisik sekaligus memberikan kesempatan kepada para warga untuk berekreasi dan menikmati suasana di luar lingkungan griya,” jelas Eni.
Baca juga:Menurutnya, kegiatan positif yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat mendukung proses pemulihan warga, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu mereka membangun kembali interaksi sosial dengan lingkungan sekitar. Eni menekankan bahwa proses pemulihan tidak hanya membutuhkan pendampingan dari lembaga, tetapi juga dukungan keluarga dan penerimaan masyarakat. Lingkungan yang positif dan inklusif menjadi faktor penting agar penyandang disabilitas mental dapat menjalani kehidupan dengan lebih bermartabat.
Di Banyuwangi, Jawa Timur, peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia diisi dengan kegiatan yoga sesi relaksasi yang dipandu oleh instruktur pada Minggu, 11 Oktober 2026. Kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental melalui relaksasi dan peregangan tubuh. Suasana yang tenang dan fokus pada pernapasan menjadi simbol bahwa merawat jiwa dapat dilakukan dengan cara sederhana namun bermakna.
Tidak hanya di dalam negeri, perhatian terhadap kesehatan mental juga digaungkan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg, Jerman. Konsul Jenderal RI di Hamburg, Renata Siagian, mendorong Warga Negara Indonesia (WNI) untuk saling mendengar dan menguatkan, terutama bagi mereka yang mungkin sedang berjuang dengan kesehatan mental di negeri orang. “Ada seseorang yang mungkin sedang berjuang, tetapi tidak tahu kepada siapa harus bercerita,” kata Renata dalam keterangan tertulis, Selasa, 13 Oktober 2026.
Baca juga:KJRI Hamburg menggelar lokakarya bertema “Rekat Bersama, Merawat Jiwa” di Aula KJRI Hamburg pada 10 Oktober 2026. Lokakarya ini merupakan kolaborasi antara KJRI Hamburg, Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan Life Architekture. Renata menegaskan bahwa langkah nyata ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang bertujuan merawat jiwa serta membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan saling mendukung bagi masyarakat Indonesia yang berdomisili di wilayah Jerman Utara. “Kegiatan ini menghadirkan ruang yang merangkul warga Indonesia untuk saling mendengarkan dan saling menguatkan,” jelasnya.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun ini menegaskan bahwa mendengarkan pengalaman nyata orang-orang yang hidup dengan persoalan kesehatan mental merupakan langkah awal menuju perubahan yang bermakna. Melalui berbagai kegiatan di Aceh, Solo, Banyuwangi, dan Hamburg, pesan tentang pentingnya empati, dukungan sosial, dan penghapusan stigma terus digaungkan. Masyarakat diajak untuk lebih peduli dan memahami bahwa kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari kesejahteraan secara keseluruhan, dan setiap individu berhak untuk didengar.












