Sorothari – 17 Oktober 2026 | Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat diplomasi budaya serta menjaga warisan budaya dunia. Dalam beberapa hari terakhir, ia memimpin langsung penyelenggaraan Indonesia–Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026 di Yogyakarta dan meninjau proses pemugaran Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Dua agenda besar itu menjadi sorotan publik dan menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga hubungan internasional sekaligus melestarikan cagar budaya.
Dalam seminar bertajuk “Beyond Cultural Exchange” yang menjadi bagian dari rangkaian IPCC 2026, Fadli Zon menekankan pentingnya kerja sama kebudayaan yang berkelanjutan dengan negara-negara Pasifik. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi kawasan saat ini adalah perubahan iklim yang mengancam warisan budaya, terutama bagi masyarakat kepulauan. Kenaikan permukaan air laut di Pasifik Barat Daya, kata dia, berpotensi merusak situs warisan dunia, tradisi, hingga keberlangsungan komunitas lokal.
Baca juga:“Bagi masyarakat Kepulauan Pasifik, warisan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan ketahanan komunitas saling terhubung satu sama lain. Ancaman-ancaman ini dapat menyebabkan kehilangan tradisi, budaya, situs-situs sakral, dan keberlangsungan komunitas,” ujar Fadli Zon dalam siaran pers Kementerian Kebudayaan yang dikutip di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa warisan budaya masyarakat Pasifik tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, perubahan iklim bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga mengancam kehidupan sosial dan budaya. Fadli menyerukan peningkatan kerja sama antarnegara di kawasan Pasifik dalam bidang penelitian, dokumentasi warisan budaya, serta pewarisan pengetahuan kepada generasi berikutnya. “Oleh karena itu, kami turut menyerukan kerja sama dalam penelitian, dokumentasi, dan transmisi pengetahuan antargenerasi di kawasan Pasifik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk mempererat hubungan diplomatik dan meningkatkan kerja sama internasional. Indonesia dan negara-negara Pasifik, menurutnya, memiliki peluang besar untuk membangun sinergi melalui program kolaboratif yang melibatkan seniman, pelaku budaya, dan komunitas kreatif. Diplomasi budaya dinilai menjadi jembatan yang efektif untuk memperkuat posisi Indonesia di kawasan Pasifik.
Respons Fadli Zon soal Konser Andrea Bocelli di Borobudur
Di sela-sela acara IPCC 2026, Fadli Zon juga menanggapi pencabutan rekomendasi izin penyelenggaraan konser penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, di kawasan Candi Borobudur. Konser tersebut dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober 2026. Fadli mengaku belum mengetahui keputusan kepolisian tersebut dan meminta publik menunggu perkembangan lebih lanjut. “Saya belum tahu itu. Kita tunggu saja nanti hasil dari Kementerian Pariwisata,” kata Fadli saat diwawancarai seusai acara Indonesia Pacific Cultural Connect di Yogyakarta, Rabu (14/10/2026) malam.
Meski demikian, Fadli menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan pada prinsipnya mendukung setiap kegiatan yang dapat memajukan kebudayaan dan mengembangkan ekonomi berbasis budaya. Menurutnya, penyelenggaraan konser di kawasan cagar budaya dapat memberikan dampak positif apabila mampu mendukung pemajuan kebudayaan Indonesia. “Kalau kami sih pada dasarnya dan pada prinsipnya, segala sesuatu yang memajukan kebudayaan kita, memajukan ekonomi budaya kita, itu tentu akan menguntungkan bagi kita semua,” ujarnya.
Fadli juga menilai rencana konser Andrea Bocelli di Borobudur memiliki tujuan yang baik. Ia meminta masyarakat melihat persoalan tersebut secara menyeluruh karena polemik yang muncul bisa dipengaruhi oleh kesalahpahaman maupun informasi yang tidak tepat. “Ini kan ada panitianya, dan saya melihat bahwa maksud dan tujuannya sangat baik. Nanti kita lihatlah, kadang-kadang terjadi salah persepsi, salah informasi, ya, dan hoaks, kadang-kadang yang dibesar-besarkan,” imbuhnya.
Baca juga:Pemugaran Yasti dan Konservasi Mahastupa Borobudur
Selain menghadiri IPCC 2026, Fadli Zon menyempatkan diri meninjau langsung proses pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan struktur dan material candi tetap mengikuti kaidah konservasi. Menurut Fadli, pemugaran ini bertujuan menjaga kestabilan bangunan, mempertahankan keaslian material, serta memastikan pelestarian Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia dapat terus berlangsung.
“Batu andesit tentu harus ada konservasi. Iklim kita berubah, dan kondisi hujan sekarang berbeda dengan seratus atau dua ratus tahun lalu. Karena itu, kita perlu memastikan penanganan yang tepat agar batu dan relief Borobudur tetap terjaga,” kata Fadli dalam keterangan Kementerian Kebudayaan yang diterima Antara, Kamis (15/10/2026).
Fadli menjelaskan bahwa pemugaran yasti dilakukan untuk mengembalikan kestabilan bagian puncak stupa induk yang mengalami pergeseran susunan batu. Sementara itu, konservasi Mahastupa difokuskan pada penanganan penggaraman dan pelapukan yang dapat memengaruhi ketahanan material candi. Kementerian Kebudayaan melaksanakan pekerjaan tersebut melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB). Langkah ini diambil setelah pemantauan dan kajian teknis pada Agustus 2026 menemukan pergeseran susunan batu, rongga, serta rekahan pada bagian yasti dan harmika. Pemeriksaan juga mengidentifikasi kerusakan material di bagian stupa induk.
Dalam pemugaran yasti, tim berfokus memulihkan kestabilan struktur dengan mengutamakan pemakaian material asli. Adapun pekerjaan konservasi Mahastupa mencakup penanganan penggaraman, pelapukan, rongga, dan rekahan pada batu. Penggaraman yang terlihat sebagai lapisan putih di permukaan batu dapat berkaitan dengan pergerakan air dan kandungan garam di dalam material. Karena itu, penanganannya harus menggunakan metode yang sesuai agar kerusakan tidak semakin meluas dan keaslian batu tetap dipertahankan.
“Relief-relief Borobudur yang sudah berusia lebih dari seribu tahun memerlukan penanganan yang tepat. Kita perlu memastikan perawatannya berkelanjutan, sehingga relief tetap terjaga ketajamannya dan batu tidak melunak atau mengalami kerusakan. Ini salah satu pekerjaan konservasi yang penting dan perlu dilakukan berdasarkan kajian yang cermat,” ujar Fadli.
Fadli Zon mengungkapkan bahwa pemugaran Mahastupa atau Yasti Candi Borobudur ditargetkan rampung pada 24 Oktober 2026. Pekerjaan ini menjadi perhatian karena bagian tersebut belum kembali dipugar sejak penanganan pada masa kolonial yang dipimpin Van Erp pada 1907-1911. Menurutnya, pemugaran Borobudur yang pernah dilakukan pada 1973-1983 di bawah pimpinan Soekmono tidak mencakup bagian tersebut. “Ini pertama kalinya kita lakukan pemugaran Borobudur untuk Mahastupa atau Yasti,” ujarnya saat ditemui dalam penutupan IPCC 2026 di Museum Benteng Vredeburg, Rabu malam (14/10/2026).
Baca juga:Fadli menjelaskan dirinya telah melihat langsung kondisi Mahastupa, termasuk bagian dalam stupa. Dari pemeriksaan tersebut, ia menemukan sejumlah bagian yang perlu diperkuat karena mengalami pergeseran. Selain itu, penggunaan semen pada masa lalu diduga meninggalkan residu kapur pada batu candi. Residu tersebut disebut berkaitan dengan munculnya bercak putih pada permukaan batu akibat proses penggaraman. Menurut Fadli, proses tersebut juga dapat menyebabkan batu melunak sehingga sejumlah bagian perlu mendapat penanganan lebih lanjut. “Sehingga banyak, batu di sana itu perlu diperkuat, harus ada yang diisi lagi, dan juga strukturnya, terutama di Mahastupa juga, perlu diperkuat,” jelasnya.
Selain memperkuat struktur Mahastupa, penanganan juga dilakukan terhadap bercak putih akibat penggaraman pada relief Candi Borobudur. Menurut Fadli, proses tersebut menggunakan laser yang dioperasikan secara manual. Upaya ini diharapkan dapat membersihkan bercak putih tanpa merusak permukaan batu yang sudah berusia lebih dari seribu tahun.
Dengan berbagai langkah tersebut, Fadli Zon menunjukkan komitmen pemerintah dalam melestarikan warisan budaya Indonesia sekaligus memperkuat diplomasi budaya di kawasan Pasifik. Ke depan, Kementerian Kebudayaan akan terus mengawal proses pemugaran Borobudur hingga tuntas dan memastikan setiap kebijakan budaya berjalan sesuai kaidah konservasi serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas.












