Sorothari – 18 Oktober 2026 | Serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, telah memicu penutupan bandara dan gangguan besar pada operasional penerbangan internasional. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi meminta maskapai penerbangan untuk memenuhi hak-hak penumpang yang terdampak. “Maskapai telah kami imbau untuk melakukan penanganan dengan tepat kepada para penumpang yang terdampak gangguan operasional penerbangan,” kata Dudy di Jakarta, Sabtu (17/10/2026). Serangan Houthi ke Bandara Riyadh ini dilaporkan menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, serta memaksa otoritas setempat menutup bandara sejak awal Oktober 2026.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa kelompok Houthi telah melancarkan lebih dari 20 serangan terhadap sejumlah bandara di wilayah Saudi sejak awal Oktober. Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, dalam konferensi pers yang disiarkan televisi Saudi, Alekhbariya News, pada Kamis (15/10/2026), menyebutkan bahwa serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tersebut menimbulkan korban jiwa, korban luka, kerusakan properti, hingga gangguan lalu lintas penerbangan. “Serangan Houthi terhadap Kerajaan telah meningkat sejak awal Oktober, menyusul eskalasi yang dilakukan oleh kelompok yang berafiliasi dengan Iran itu terhadap Arab Saudi sejak Juli,” ujar Al-Maliki seperti dilansir Anadolu Agency.
Baca juga:Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi salah satu lokasi yang paling terdampak. Menurut Al-Maliki, bandara itu telah menjadi sasaran dalam 20 serangan Houthi sejak awal Oktober. Serangan paling mematikan dilaporkan terjadi pada akhir pekan sebelumnya, ketika rudal yang diluncurkan kelompok Houthi menghantam gedung terminal bandara. Sedikitnya 17 orang tewas dan 333 orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan terhadap bandara itu pada periode 7 hingga 11 Oktober. Besarnya jumlah korban menjadikan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid sebagai salah satu insiden paling serius dalam rangkaian serangan yang menargetkan fasilitas penerbangan sipil di Arab Saudi pada Oktober ini. Selain Riyadh, sejumlah bandara lain di Arab Saudi juga dilaporkan menjadi sasaran serangan Houthi, dengan korban jiwa dan luka-luka di beberapa lokasi.
Penutupan bandara Riyadh akibat serangan Houthi ini berdampak pada sejumlah penerbangan internasional, termasuk pembatalan dan penyesuaian rute. Qatar Airways, misalnya, membatalkan sejumlah penerbangan rute Doha-Riyadh maupun sebaliknya pada 9–17 Oktober 2026, dengan pengalihan penumpang melalui sejumlah kota alternatif di Arab Saudi. Emirates juga membatalkan sejumlah penerbangan menuju dan dari Riyadh. Maskapai lain menerapkan penyesuaian koneksi, pengalihan rute, pembatalan penerbangan, atau penghentian sementara layanan menuju Riyadh. Sementara itu, penerbangan dari dan ke Arab Saudi yang dilayani dengan penerbangan reguler langsung oleh Garuda Indonesia dan Saudia masih berjalan normal.
Menhub Dudy menegaskan bahwa penanganan penumpang yang terdampak mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 30 Tahun 2021 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Penumpang Angkutan Udara. “Keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi prioritas utama, termasuk kepatuhan terhadap instruksi otoritas bandar udara, otoritas penerbangan, dan pengendali lalu lintas udara,” ujarnya. Ia juga meminta perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi yang berpengaruh terhadap perjalanan penumpang terus dipantau dan diantisipasi dengan baik.
Baca juga:Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bergerak cepat memantau perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi pascaserangan Houthi yang menyasar Bandara Riyadh. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir menyampaikan bahwa pemerintah telah menjalin komunikasi langsung dengan otoritas Arab Saudi serta negara-negara sekitar untuk mengingatkan besarnya populasi Warga Negara Indonesia (WNI) di kawasan tersebut. “Kita tentunya terus memantau situasi di sana, ya. Kita sudah menyampaikan kepada pihak Saudi dan pihak negara tetangga bahwa jumlah WNI di sana cukup besar,” kata Arrmanatha di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Menlu menjelaskan bahwa kesiapsiagaan seluruh jajaran diplomatik Indonesia di kawasan Timur Tengah telah ditingkatkan sejak terjadi lonjakan eskalasi konflik beberapa bulan sebelumnya. “Tentunya sejak terjadinya perang di Iran dan dengan Amerika beberapa bulan lalu, ya, sejak itu ini, di Hormuz, seluruh perwakilan kita di sana itu pada siaga,” ujarnya. Ia juga memastikan komunikasi antara KBRI/KJRI di lapangan dan kantor pusat di Jakarta berjalan secara real-time untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko akibat ketegangan kawasan. Pemerintah berjanji akan terus memperbarui informasi terkait kondisi keamanan terkini serta mengimbau seluruh WNI di Arab Saudi untuk tetap waspada dan mengikuti arahan resmi dari perwakilan Republik Indonesia setempat.
Hingga saat ini, situasi di Bandara Riyadh masih dalam pemantauan. Maskapai diimbau untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang yang terdampak, sementara pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memastikan keselamatan WNI.
Baca juga:











