Berita  

IQAir Catat Udara Palembang dan Pekanbaru Berbahaya akibat Karhutla

IQAir Catat Udara Palembang dan Pekanbaru Berbahaya akibat Karhutla
IQAir Catat Udara Palembang dan Pekanbaru Berbahaya akibat Karhutla

Sorothari – 18 Oktober 2026 | Kualitas udara di sejumlah kota di Indonesia memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pantauan platform pemantau udara IQAir pada pertengahan Oktober 2026 menunjukkan kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, berada dalam kategori berbahaya. Sementara itu, Pontianak, Kalimantan Barat, dan Pekanbaru, Riau, berada dalam kategori sangat tidak sehat. Data IQAir yang diakses pada Kamis (15/10/2026) pukul 07.30 WIB mencatat konsentrasi PM2.5 di Palembang mencapai 158,8 kali nilai panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka tersebut menempatkan Palembang sebagai salah satu wilayah dengan kualitas udara terburuk saat itu.

Selain Palembang, IQAir juga mencatat kualitas udara di Pontianak dengan indeks kualitas udara (AQI US) sebesar 248. Konsentrasi PM2.5 di kota tersebut mencapai 34,6 kali nilai panduan tahunan WHO. Adapun Pekanbaru mencatat AQI US 216 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 28,2 kali nilai panduan tahunan WHO. Di Kalimantan Tengah, Pangkalan Bun mencatat AQI US 170, sedangkan Balikpapan, Kalimantan Timur, mencapai 173. Keduanya masuk kategori tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 masing-masing 16,7 dan 17,3 kali nilai panduan tahunan WHO.

Baca juga:
Kualitas Udara Palembang Hari Ini Memburuk, OMC Dry Ice Mulai Perbaiki Asap Karhutla

Meski demikian, prakiraan IQAir menunjukkan kualitas udara di sejumlah kota tersebut masih berpotensi berada dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya sepanjang hari. Indeksnya diprediksi turun pada waktu tertentu, tetapi penurunan indeks belum tentu menandakan udara telah aman untuk dihirup. Kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan tetap perlu waspada.

Pemantauan di Palembang dan Pekanbaru

Di Palembang, pantauan IQAir pada Kamis (15/10/2026) pukul 06.00 WIB menunjukkan angka kualitas udara yang sangat tinggi di sejumlah titik. Kawasan Musi Dua mencapai 1.922, Universitas Sriwijaya mencatat 1.951, GP PLM 1.914, Sukarami 1.447, dan Demang Lebar Daun 1.386. Angka-angka tersebut menunjukkan kondisi pencemaran udara yang serius di sejumlah titik pemantauan Kota Palembang.

Pada Jumat (16/10/2026) pagi, kabut asap masih menyelimuti Palembang. Data IQAir yang dikutip dalam laporan mencatat angka kualitas udara mencapai 629 di Musi 2, disusul Bukit dengan 529, Sukarami 501, dan Demang Lebar Daun 431. Pada pukul 05.00 WIB, angka indeks kualitas udara dilaporkan mencapai 699. Kabut asap masih terlihat tebal hingga pukul 07.00 WIB.

Warga Palembang merasakan dampak langsung dari buruknya kualitas udara. Fitri, warga kawasan Angkatan 66, mengeluhkan flu, demam, sakit kepala, serta mata perih akibat paparan kabut asap. “Selain flu berat dan demam, mata juga sangat perih. Pasti semua orang juga merasakan hal yang sama. Apalagi pengendara motor, itu tersiksa. Selain napas sesak, mata juga perih,” ujarnya seperti dikutip dalam laporan.

Baca juga:
Subuh Keliling Polri di Berbagai Daerah, dari Pesan Kamtibmas hingga Kabut Asap Palembang

Sementara itu, di Pekanbaru, data BMKG mencatat PM2.5 mencapai 188,4 mikrogram per meter kubik pada Jumat (16/10/2026) pukul 17.00 WIB. Angka tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat. Pada pukul 18.00 WIB, IQAir mencatat AQI US sebesar 228 di Pekanbaru dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 152,6 mikrogram per meter kubik. Perbedaan angka antara BMKG dan IQAir tidak otomatis berarti salah satu lembaga keliru. Waktu pembaruan, lokasi sensor, dan metode pengukuran dapat memengaruhi hasil pemantauan.

Data BMKG memperlihatkan konsentrasi partikel halus tetap tinggi sepanjang Jumat. Pada pukul 11.00 WIB, laman resminya mencatat PM2.5 sebesar 183,5 mikrogram per meter kubik. Angka berikutnya dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan pembaruan sensor. Sebelumnya, pada Rabu (14/10/2026), PM2.5 di Pekanbaru tercatat mencapai 147 mikrogram per meter kubik pukul 08.00 WIB dan juga dikategorikan sangat tidak sehat.

Dampak Kesehatan dan Imbauan

Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan polusi udara dalam konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta sesak napas. Risiko gangguan kesehatan juga dapat meningkat pada orang yang terpapar dalam waktu lama. Masyarakat yang memiliki riwayat asma, penyakit paru kronis, maupun gangguan jantung perlu lebih berhati-hati karena polusi udara dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka. Anak-anak, bayi, lansia, dan kelompok rentan lainnya juga perlu mendapat perlindungan ekstra ketika kualitas udara memburuk.

Untuk mengurangi paparan, masyarakat disarankan menghindari olahraga atau aktivitas fisik berat di luar ruangan, menutup jendela ketika udara luar tercemar, serta menjaga agar asap tidak mudah masuk ke dalam rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker respirator seperti N95 atau KN95 sangat direkomendasikan. Apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala pernapasan yang semakin berat, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Baca juga:
Pantauan Kualitas Udara Hari Ini: Karhutla Picu Kategori Bahaya di Sumatra dan Kalimantan

Selain IQAir, masyarakat dapat memantau kualitas udara melalui aplikasi Info BMKG dan ISPUNet. Info BMKG menampilkan konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah Indonesia dengan lima kategori, mulai dari Baik, Sedang, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, sampai Berbahaya. Aplikasi ini juga menyediakan informasi terkait karhutla, seperti titik panas, citra satelit, serta potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, ISPUNet dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menampilkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari stasiun pemantauan yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk jenis polutan yang paling dominan.

Kondisi kualitas udara yang terus memburuk menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan bersama. Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan kualitas udara melalui IQAir dan aplikasi pemantau lainnya, serta mengikuti panduan kesehatan dari instansi berwenang demi mengurangi risiko dampak polusi terhadap kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *