Inflasi AS Tembus 3,7%, The Fed Siap Naikkan Suku Bunga

Inflasi AS Tembus 3,7%, The Fed Siap Naikkan Suku Bunga
Inflasi AS Tembus 3,7%, The Fed Siap Naikkan Suku Bunga

Sorothari – 15 Oktober 2026 | Inflasi Amerika Serikat kembali menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Berdasarkan laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis pada Rabu, 14 Oktober 2026, indeks harga konsumen (CPI) atau inflasi tahunan AS tercatat naik menjadi 3,7 persen pada September 2026. Angka ini melampaui perkiraan para ekonom yang sebelumnya memproyeksikan inflasi sebesar 3,6 persen, serta meningkat dibandingkan capaian Agustus yang berada di level 3,4 persen.

Kenaikan inflasi ini terutama didorong oleh lonjakan harga energi yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik antara AS dan Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Harga bensin tercatat melonjak 9,1 persen secara bulanan dan 34,2 persen secara tahunan, menyumbang sekitar setengah dari total kenaikan inflasi umum bulan lalu. Sementara itu, harga bahan bakar minyak pemanas melonjak hingga 74,2 persen secara tahunan. Indeks energi secara keseluruhan naik 5,2 persen pada September.

Baca juga:
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS Usai Pengunduran Diri Gubernur BI Perry Warjiyo

Di luar sektor energi, harga pangan relatif stabil tidak berubah secara bulanan dan hanya naik 2,5 persen secara tahunan. Namun, tekanan harga tetap terasa di sektor tempat tinggal yang meningkat 0,4 persen, serta harga mobil dan truk bekas yang naik 0,7 persen. Harga pakaian yang sensitif terhadap tarif impor juga bertambah 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Inflasi inti (core inflation) yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan, lebih tinggi dari proyeksi ekonom yang sebesar 0,2 persen dan 2,5 persen.

Kepala Strategi Makro Carson Group, Sonu Varghese, menilai tekanan inflasi saat ini tidak hanya bersumber dari bahan bakar. Menurutnya, kenaikan harga mulai meluas ke berbagai sektor, sementara dampak penuh dari kenaikan harga diesel dan pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) belum sepenuhnya terlihat. Inflasi CPI sendiri telah melampaui target 2 persen The Fed sejak Maret 2021 dan kembali melonjak setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Dampak pada Pasar Keuangan dan Suku Bunga

Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan ini langsung memicu reksi di pasar keuangan global. Kontrak berjangka saham AS melemah, sementara imbal hasil obligasi naik tajam. Alat FedWatch dari CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada rapat The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada 27–28 Oktober meningkat menjadi sekitar 54 persen. Bahkan, kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun melampaui 96 persen, termasuk peluang hampir berimbang untuk kenaikan sebesar 0,5 poin persentase hingga Desember.

Di pasar domestik, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS langsung tertekan. Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 48 poin atau 0,27 persen ke level Rp17.951 per dolar AS pada perdagangan Kamis (15/10). Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan pelemahan ini dipicu oleh data inflasi AS yang memicu kenaikan ekspektasi suku bunga The Fed. Investor juga masih mengantisipasi data inflasi produsen AS yang akan dirilis malam harinya.

Baca juga:
Rupiah Tertekan Usai Perry Warjiyo Mundur, Berpotensi Tembus Rp 18.000

Tekanan juga dirasakan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, menyatakan IHSG belum mampu menembus level psikologis 6.000 dan masih rentan tertekan. Support penting yang perlu dipertahankan berada di area 5.900 dan 5.850. Jika level tersebut ditembus, risiko pelemahan lanjutan perlu diwaspadai. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai potensi penurunan IHSG diperkirakan terbatas karena indeks telah mencapai area wave (X) dengan level support paling krusial di 5.851.

Konflik Geopolitik dan Tekanan Energi

Konflik antara AS dan Iran serta keterlibatan Rusia-Ukraina menjadi faktor utama di balik lonjakan harga energi. Pemerintah AS telah mengupayakan pengendalian harga energi melalui pengawalan Angkatan Laut di Selat Hormuz dan pelonggaran sebagian sanksi terhadap Rusia untuk membuka keran impor solar. Namun, serangan terhadap kapal tanker di sekitar Timur Tengah masih terus terjadi. Layanan pelacak maritim Kpler melaporkan sedikitnya 18 kapal diserang dalam dua pekan terakhir, menyebabkan transit minyak dan bahan bakar anjlok hingga 54 persen dari level sebelum perang.

Analis Kpler, Matt Smith, menilai Iran tampaknya berusaha menjaga harga minyak tetap tinggi menjelang pemilihan paruh waktu AS dengan meningkatkan serangan, baik secara langsung maupun melalui kelompok Houthi. Dampak konflik ini terlihat dari data Asosiasi Otomobil Amerika (AAA) yang mencatat rata-rata harga bensin harian mencapai 4,33 dolar AS per galon dan solar 6,29 dolar AS per galon. Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy, Patrick DeHaan, mengungkapkan sepanjang 2026 telah tercatat 158 hari dengan rata-rata harga bensin di atas 4 dolar AS per galon, menjadikannya jumlah terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lembaga riset Moody’s Analytics menaksir dampak perang Iran menambah beban pengeluaran rata-rata rumah tangga AS sebesar 2.000 dolar AS.

Harga minyak mentah dunia pun ikut merangkak naik. Minyak Brent tercatat naik 0,45 persen menjadi 106,17 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,07 persen ke level 95,17 dolar AS per barel, menyusul eskalasi serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menargetkan fasilitas energi dan bandara di Riyadh dan Dhahran.

Baca juga:
Pinjaman Baru China Tembus Rp 28.600 Triliun pada Semester I 2026

Dengan inflasi yang masih jauh di atas target dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar kini mencermati langkah The Fed selanjutnya. Kenaikan suku bunga yang lebih agresif berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan risiko arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang seperti Indonesia, yang pada gilirannya akan terus menekan nilai tukar rupiah dan IHSG dalam jangka pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *