Sorothari – 16 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami tekanan sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), IHSG melemah 29,79% secara year to date (YTD) hingga September 2026. Kondisi tersebut berlanjut hingga 15 Oktober 2026, di mana IHSG tercatat telah anjlok 32,97% di sepanjang tahun ini. Pelemahan ini memaksa sejumlah perusahaan sekuritas untuk melakukan penyesuaian strategi bisnis agar tetap bertahan di tengah pasar yang volatil.
Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), IHSG ditutup merosot 1,33% ke level 5.863. Sepanjang sesi, tercatat 108 saham menguat, 567 saham terkoreksi, dan 120 saham stagnan. Nilai transaksi saham sore itu mencapai Rp 13,44 triliun dengan volume 35,24 miliar saham dan frekuensi 1,69 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG berada di posisi Rp 10.298 triliun. Secara year to date, IHSG telah tergelincir 32,19% dan dalam sebulan terakhir turun 9,26%.
Baca juga:Seluruh sebelas sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona merah. Sektor konsumer siklikal mencatat penurunan terbesar, yaitu 3,20%. Salah satu saham di sektor ini, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), turun 9,62% ke Rp 470. Bursa saham Asia juga seluruhnya melemah: Indeks Hang Seng turun 1,03%, Nikkei terkoreksi 4,90%, Shanghai Composite turun 1,59%, dan Straits Times tergelincir 0,49%.
Pada sesi pertama hari yang sama, IHSG sudah ditutup melemah 2,16% ke 5.814. Hanya 80 saham menguat, 621 saham terkoreksi, dan 89 tidak bergerak. Investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 182,94 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing antara lain PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 34,93 miliar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 25,86 miliar, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp 18,11 miliar. Nilai transaksi siang itu mencapai Rp 8,57 triliun dengan volume 22,43 miliar saham dan frekuensi 1,09 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG siang itu Rp 10.225 triliun. Sektor energi menjadi yang terburuk dengan penurunan 3,71%, dan saham PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 4,85% ke Rp 3.920.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa koreksi IHSG membuat investor menghindari risiko dan cenderung wait and see atau mengalihkan dana ke instrumen berisiko lebih rendah. “Menghadapi volatilitas tersebut, perusahaan sekuritas menerapkan serangkaian langkah strategis untuk menjaga keaktifan transaksi dan menjaga stabilitas pendapatan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (15/10/26).
Baca juga:Menurut Nafan, penurunan harga saham secara luas turut mengurangi kapitalisasi pasar dan rata-rata nilai transaksi harian. Hal ini berpotensi menekan pendapatan komisi transaksi (brokerage fee) perusahaan sekuritas. Tekanan tidak hanya pada bisnis perantara pedagang efek, tetapi juga pada lini penjaminan emisi (underwriting) yang berpotensi melambat karena emiten menunda aksi korporasi seperti IPO dan penerbitan obligasi hingga pasar kondusif. Selain itu, perusahaan sekuritas dengan portofolio investasi internal (proprietary trading) berpotensi mengalami penurunan nilai wajar aset akibat koreksi harga saham.
Di sisi lain, pasar keuangan Indonesia juga menunjukkan pelemahan di instrumen lain. Harga emas Antam 24 karat pada Kamis (15/10/2026) turun Rp 13.000 per gram menjadi Rp 2.561.000 per gram. Harga buyback emas Antam juga turun Rp 13.000 per gram ke level Rp 2.370.000 per gram. Dalam sepekan terakhir, harga emas Antam bergerak dalam rentang Rp 2.561.000–2.594.000 per gram, sedangkan dalam sebulan terakhir berada di rentang Rp 2.561.000–2.638.000 per gram. Nilai tukar rupiah juga disebut semakin tak berdaya melawan dolar Amerika Serikat, menambah tekanan pada ekonomi Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sekuritas berupaya menjaga kinerja dengan berbagai strategi, seperti meningkatkan layanan digital, memperkuat riset, dan mengembangkan produk alternatif investasi. Namun, tantangan tetap besar mengingat pasar masih dibayangi ketidakpastian global dan domestik. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai langkah lanjutan dari otoritas bursa terkait upaya menstabilkan pasar. Para pelaku pasar pun masih menantikan sentimen positif yang dapat mendorong pemulihan IHSG.
Baca juga:











