Dinamika Pedagang di Indonesia: Penertiban Humanis hingga Strategi Bertahan di Tengah Harga Naik

Dinamika Pedagang di Indonesia: Penertiban Humanis hingga Strategi Bertahan di Tengah Harga Naik
Dinamika Pedagang di Indonesia: Penertiban Humanis hingga Strategi Bertahan di Tengah Harga Naik

Sorothari – 17 Oktober 2026 | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa penertiban pedagang kaki lima (PKL) di trotoar dan bahu jalan akan dilakukan dengan pendekatan humanis. Komitmen ini disampaikan menyusul berbagai operasi penertiban yang menyasar lapak pedagang di sejumlah kawasan ibu kota. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, menyatakan bahwa pihaknya mengutamakan penyediaan tempat relokasi yang layak sebelum memindahkan para pedagang. “Pendekatan kami humanis—menyediakan tempat yang layak terlebih dahulu sebelum memindahkan,” ujar Chico saat dihubungi awak media, Jumat (16/10/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah maraknya penertiban yang dilakukan petugas gabungan di beberapa lokasi. Pada pertengahan Oktober 2026, petugas menertibkan 30 lapak pedagang di sepanjang Jalan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Sehari sebelumnya, 22 lapak pedagang di kawasan Pasar Koja Baru, Jalan Bhayangkara, Jakarta Utara, juga ditertibkan. Wakil Camat Koja, Shalih Nopiansyar, menjelaskan bahwa penataan itu melibatkan 75 personel gabungan dengan tujuan mengembalikan fungsi fasilitas umum, memperlancar arus lalu lintas, serta menjaga kebersihan saluran air.

Baca juga:
IHSG Anjlok 32,97% Sepanjang 2026, Sekuritas Sesuaikan Strategi Bisnis

Meski demikian, Pemprov DKI mengakui bahwa opsi relokasi ke Lokasi Binaan (Lokbin), pasar Perumda Pasar Jaya, atau zona khusus PKL memiliki keterbatasan kapasitas. Alhasil, tidak semua pedagang dapat langsung dipindahkan. Chico mencontohkan keberhasilan relokasi ratusan PKL di kawasan Kramat Jati ke pasar resmi dan Lokbin, lengkap dengan pembebasan retribusi selama enam bulan. Kebijakan ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi penataan pedagang di ibu kota.

Pedagang Tempe di Sukabumi Terpaksa Perkecil Ukuran

Di Kota Sukabumi, para pedagang tempe menghadapi tantangan berbeda. Kenaikan harga kedelai impor memaksa mereka melakukan penyesuaian agar usaha tetap bertahan. Berdasarkan pemantauan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi di Pasar Pelita dan Pasar Tipar Gede pada Jumat (16/10/2026), harga kedelai impor kini mencapai Rp 11.500 per kilogram. Kasi Perdagangan Dalam Negeri Diskumindag Kota Sukabumi, Moh Rifki, mengungkapkan bahwa kenaikan ini dipicu oleh cuaca ekstrem di negara produsen serta lonjakan biaya logistik global.

Sebagian besar pasokan kedelai impor berasal dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Harga yang sebelumnya normal di Rp 11.000 per kilogram perlahan naik ke Rp 11.400, lalu Rp 11.500. Daripada menaikkan harga jual yang berisiko membuat pelanggan kabur, para pedagang memilih memperkecil ukuran tempe. Maman (45), pedagang tempe di Pasar Pelita, mengaku dilematis. “Kalau harga tempe dinaikkan, pembeli suka protes dan malah sepi. Jadi modalnya kita akali dengan memperkecil ukurannya sedikit, potongannya dikurangi beberapa milimeter supaya tidak tekor,” ujarnya. Saat ini tempe papan/batang dijual Rp 6.500 per batang atau Rp 13.000 per kilogram.

Diskumindag Kota Sukabumi juga mencatat pergerakan harga bahan pokok lainnya. Telur ayam negeri naik dari Rp 25.000/kg menjadi Rp 26.000/kg, kacang tanah impor naik dari Rp 45.000/kg menjadi Rp 48.000/kg, sedangkan minyak goreng curah turun dari Rp 21.500/kg menjadi Rp 21.000/kg. Sementara itu, beras premium (Rp 14.880/kg), daging sapi (Rp 150.000/kg), daging ayam broiler (Rp 40.000/kg), dan cabai merah keriting (Rp 80.000/kg) terpantau stabil.

Baca juga:
Trade Expo Indonesia 2026: Target Transaksi Rp313 Triliun, Hilirisasi Jadi Kunci

Pengawasan Timbangan di Surabaya demi Lindungi Konsumen

Di Surabaya, Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Dinkopumdag) menggelar operasi tera ulang timbangan pedagang di Pasar Siwalankerto. Kegiatan ini bertujuan memastikan alat ukur yang digunakan pedagang akurat sehingga hak konsumen dan pedagang sama-sama terlindungi. Penera UPTD Metrologi Legal, Dicky Hermawan, menjelaskan bahwa pemeriksaan meliputi ketepatan timbangan, kemampuan penggunaan, dan kelayakan alat. “Tujuannya adalah supaya para pedagang tertib ukur dalam menggunakan alat ukurnya berupa timbangan, sehingga hak pedagang dan konsumen saling terlindungi,” ujar Dicky.

Dari 21 unit timbangan meja dan elektronik serta 81 anak timbangan yang diuji, sekitar 7–8 timbangan ditemukan tidak memenuhi standar. Beruntung, petugas menyediakan layanan reparatur gratis sehingga timbangan yang bermasalah dapat diperbaiki dan digunakan kembali. Kegiatan jemput bola ini rutin dilakukan dua kali seminggu. Rudi (50), pedagang bawang di pasar tersebut, menyambut positif program ini karena membantu pedagang yang biasanya hanya memperbaiki timbangan dengan ilmu seadanya. Jadwal dan informasi tera ulang dapat diakses melalui akun Instagram Dinkopumdag.

Kisah Inspiratif Pedagang Tekstil yang Jadi Konglomerat

Dari dunia pedagang, kisah sukses Gautam Adani menjadi sorotan. Pria kelahiran Ahmedabad, Gujarat, 24 Juni 1962, ini adalah anak seorang pedagang tekstil kecil, Shantilal Adani. Meski sempat kuliah jurusan perdagangan di Gujarat University, Adani memilih putus kuliah dan merantau ke Mumbai dengan modal pas-pasan. Ia memulai karier sebagai pemilah berlian di Mahendra Brothers, lalu mendirikan firma pialang berlian di Zaveri Bazaar hanya dalam dua hingga tiga tahun.

Pada awal 1980-an, Adani diminta sang kakak, Mansukhbhai Adani, mengelola unit manufaktur plastik di Ahmedabad. Dari situ ia terjun ke perdagangan komoditas internasional, mengimpor polimer cair (PVC) untuk industri kecil. Visinya membangun infrastruktur fisik membawanya mengembangkan pelabuhan di Mundra, Gujarat. Kini kekayaan bersihnya mencapai US$ 79,3 miliar hingga US$ 89,2 miliar atau setara Rp 1.607 triliun (kurs Rp 18.009 per US$), menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di Asia. Perjalanan hidup Adani membuktikan bahwa latar belakang sebagai pedagang bukan penghalang untuk meraih sukses global.

Baca juga:
Investor Asing Borong Saham BBCA, IHSG Melaju Menuju Level 6.700

Dinamika yang dihadapi para pedagang di Indonesia maupun dunia menunjukkan beragam tantangan dan peluang. Dari penertiban yang mengedepankan dialog, penyesuaian ukuran produk akibat kenaikan bahan baku, pengawasan alat ukur, hingga kisah sukses yang menginspirasi, semuanya mencerminkan peran vital pedagang dalam perekonomian. Pemerintah dan pemangku kepentingan terus berupaya menciptakan ekosistem yang adil dan mendukung keberlanjutan usaha para pedagang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *