Sorothari – 14 Oktober 2026 | Film Empat Musim Pertiwi akhirnya tayang di bioskop Indonesia setelah melalui proses riset dan pengembangan selama delapan tahun. Karya sutradara Kamila Andini ini mengangkat isu kekerasan seksual dan pergulatan para penyintas, serta menjadi medium untuk membuka diskusi publik mengenai perlindungan hukum bagi perempuan.
Produser Ifa Isfansyah mengungkapkan bahwa gagasan awal film ini lahir pada 2017, saat Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) masih dalam tahap pembahasan. Seiring berjalannya waktu, cerita dalam film terus berkembang hingga akhirnya diproduksi. Riset intensif dilakukan pada 2022 hingga 2023, termasuk pematangan naskah dan persiapan teknis sebelum pengambilan gambar.
Baca juga:“Secara riset memang membutuhkan waktu lama. Tema yang diangkat cukup sensitif, dan dari sisi sutradara juga perlu menggali lebih dalam secara subjeknya. Dari sisi produser, film dengan skala produksi dan skill seperti ini membutuhkan kesiapan pembiayaan yang matang, mengingat ini bukan sekadar film hiburan komersial,” ujar Ifa dalam acara screening di XXI Empire Yogyakarta, Selasa (13/10/2026).
Kamila Andini menggunakan pendekatan visual yang memadukan gaya realis, fiksi, dan metafora untuk menggambarkan kompleksitas batin serta pergolakan emosi para karakter. Simbol-simbol seperti macan, perdukunan, hingga UFO digunakan untuk memperkuat pesan tentang kondisi perempuan yang tertekan sekaligus harapan akan kebebasan. Pendekatan ini dipilih karena pengalaman batin para penyintas sulit disampaikan melalui penceritaan sederhana.
Film Empat Musim Pertiwi dibintangi oleh Putri Marino sebagai karakter utama Pertiwi. Putri meraih penghargaan Face of Asia Awards dari majalah Marie Claire Korea Selatan saat Busan International Film Festival (BIFF) 2026 dan masuk nominasi Best Performance di Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026. Ia mengaku perannya memberi refleksi mendalam tentang kekuatan perempuan.
“Melihat betapa kuatnya Pertiwi dan juga rapuhnya Pertiwi, tapi dia juga bisa menjadi kekuatan untuk orang-orang di sekitarnya. Aku belajar banyak hal tentang kekuatan dari film ini,” ungkap Putri.
Baca juga:Selain Putri Marino, film ini juga dibintangi oleh Hargi Sundari sebagai Ibu Pertiwi dan Niken Ayu sebagai Niken muda. Hargi Sundari menilai perannya sebagai ibu memberi perspektif tentang penderitaan dan harapan seorang ibu terhadap anaknya. “Pertiwi yang kecil adalah korban, sementara Pertiwi dewasa adalah sosok yang menginginkan perubahan. Itu pergulatan batin seorang ibu,” katanya.
Film ini merupakan ko-produksi enam negara: Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Dukungan juga datang dari Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros, serta sponsor Oriflame. Kolaborasi lintas negara ini menunjukkan bahwa isu perempuan dan ketidakadilan sosial adalah persoalan universal.
Reza Rahadian memberikan tanggapan positif terhadap film tersebut. Ia menilai Empat Musim Pertiwi memiliki beragam lapisan cerita yang mengangkat kekuatan perempuan dari berbagai sudut pandang. “Film yang indah dan kuat. Film ini berbicara banyak tentang kekuatan perempuan dari berbagai macam lapisan, perspektif seorang ibu, perspektif seseorang yang mungkin dianggap orang yang aneh atau bahkan mereka yang tidak diterima di masyarakat,” kata Reza.
Menurut Ifa, meski regulasi terkait kekerasan seksual telah disahkan, pendampingan terhadap korban dan pembicaraan mengenai persoalan ini masih perlu terus dilakukan. Film menjadi salah satu medium untuk membuka ruang pembicaraan tersebut. “Ceritanya berkembang terus sampai sekarang disahkan pun sebenarnya kita masih terus harus mendampingi. Itu yang kami rasa memang harus mulai ada film-film yang berani membicarakan isu itu,” katanya.
Baca juga:Film Empat Musim Pertiwi telah tayang di bioskop Indonesia sejak 8 Oktober 2026 dan masih dapat disaksikan di bioskop-bioskop terdekat.












