Sorothari – 15 Oktober 2026 | Jules Koundé menjadi pemain Prancis dengan caps terbanyak dalam sejarah FC Barcelona setelah mencatatkan 194 penampilan. Namun, di balik pencapaian tersebut, masa depannya di Camp Nou mulai dipertanyakan seiring menurunnya statusnya sebagai pemain inti di bawah asuhan Hansi Flick.
Pemain berusia 27 tahun itu melampaui rekor Eric Abidal saat Barcelona menang atas Getafe pada akhir pekan lalu. Koundé bahkan menyumbang satu gol dalam pertandingan tersebut. Namun, tiga laga sebelumnya ia hanya duduk di bangku cadangan, menandai perubahan peran yang cukup signifikan sejak kedatangannya dari Sevilla pada 2022.
Baca juga:Pelatih Hansi Flick secara terbuka mengakui persaingan ketat di lini belakang. “Saya sangat menghargainya. Tapi kami selalu memikirkan tim. Setiap pemain harus paham bahwa ia bisa saja memulai dari bangku cadangan. Kami punya skuad yang sangat berbakat, dan untuk memenangkan trofi, hal ini fundamental,” ujar Flick seusai laga.
Koundé sendiri menegaskan kesiapannya bersaing. “Saya merasa baik secara fisik dan mental. Di babak kedua, saya tidak bisa meninggalkan lapangan tanpa mencetak gol,” katanya, menandakan determinasi untuk kembali menjadi pilihan utama.
Krisis Identitas Posisi
Situasi Koundé semakin rumit karena perbedaan pandangan mengenai posisi terbaiknya. Ia selalu mengidentifikasi diri sebagai bek tengah. Pada Agustus lalu, ia menegaskan, “Saya lebih merasa sebagai pemain poros, karena itulah posisi di mana saya tumbuh.” Namun, di Barcelona, ia lebih sering dimainkan sebagai bek kanan, posisi yang kini diisi oleh Joao Cancelo.
Ketidakcocokan ini disebut-sebut sebagai sumber ketegangan dengan Hansi Flick. Media Spanyol bahkan melaporkan bahwa Koundé merasa kesal dengan rumor kedatangan bek tengah baru seperti Aymeric Laporte atau Cristian Romero, meskipun kabar tersebut masih perlu dikonfirmasi.
Baca juga:Spekulasi Transfer dan Minat Liverpool
Dengan situasi yang tidak menentu, rumor kepindahan pun merebak. Klub-klub Premier League seperti Liverpool, Arsenal, Chelsea, Manchester United, dan Manchester City dikabarkan memantau perkembangannya. Liverpool bahkan disebut-sebut siap menawarkan 70 juta euro untuk memboyongnya.
Namun, Paris Saint-Germain, klub yang sempat dikaitkan, justru tidak menunjukkan minat. Menurut laporan, pelatih Luis Enrique dan direktur olahraga Luis Campos lebih memprioritaskan pemain muda potensial, sehingga Koundé tidak masuk dalam rencana jangka pendek.
Di Balik Layar: Kerja Keras dan Disiplin
Di tengah hiruk-pikuk bursa transfer, Koundé memberikan gambaran langka tentang etos kerjanya. Dalam wawancara dengan media Katalan, ia mengaku tidak pernah menjadi pemain yang “super berbakat sejak kecil”. “Saya bukan pemain super berbakat yang terbang tinggi,” kenangnya. Justru, kerja keras dan disiplin yang menjadi kunci kesuksesannya.
Ibunya, yang membesarkannya di Bordeaux setelah pindah dari Paris saat ia berusia satu tahun, menanamkan budaya disiplin dan pentingnya pendidikan. Koundé mengaku hingga kini masih berlatih hingga tiga kali sehari, dengan sesi tambahan sebelum dan sesudah latihan tim, demi memperbaiki detail kecil dan meminimalkan risiko cedera.
Baca juga:Ia juga membandingkan dirinya dengan rekan setim muda, Pau Cubarsí (17 tahun), yang memiliki ketenangan luar biasa. “Saya tidak memiliki kematangan seperti itu di usianya,” akunya. Perjalanan Koundé membuktikan bahwa bakat saja tidak cukup; disiplin dan kerja keraslah yang mempertahankan karier di level tertinggi.
Ancaman Keamanan: Upaya Perampokan Digagalkan
Di luar lapangan, Koundé juga menjadi sasaran kejahatan. Mossos d’Esquadra, kepolisian Katalonia, membongkar kelompok kriminal yang merencanakan perampokan di kediamannya di Gavà. Kelompok yang sama sebelumnya telah merampok rumah rekan setimnya, kiper Joan Garcia, pada Januari 2025.
Tiga orang ditangkap pada 1 Oktober lalu, dengan total lebih dari 30 catatan kriminal. Polisi masih menyelidiki kemungkinan keterkaitan kelompok ini dengan kasus perampokan lain di berbagai wilayah Spanyol. Koundé selamat dari ancaman tersebut berkat penggerebekan dini oleh pihak berwenang.












