Sorothari – 16 Oktober 2026 | Jorge Martin mengakui bahwa bersaing dengan Marc Marquez dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 memiliki tantangan tersendiri dibandingkan ketika ia menghadapi Pecco Bagnaia pada musim-musim sebelumnya. Meski menilai tidak ada perbedaan mendasar, pembalap Aprilia Racing itu menyebut Marquez memiliki kemampuan khusus untuk menghukum setiap kesalahan lawan.
Pernyataan tersebut disampaikan Martin usai balapan MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika, akhir pekan lalu. Saat ini, ia masih memimpin klasemen sementara dengan keunggulan dua poin atas Marquez, dengan hanya lima seri tersisa musim ini. Selisih yang tipis itu menjadi rekor tersendiri karena belum pernah terjadi sebelumnya dua kandidat juara dunia memiliki jarak sedekat itu ketika musim memasuki fase akhir.
Baca juga:Bagi Martin, persaingan musim ini adalah pengalaman ketiganya dalam perebutan gelar juara dunia kelas utama. Ia harus mengakui keunggulan Bagnaia pada 2023 sebelum akhirnya merebut mahkota juara dunia setahun berselang dengan mengalahkan pembalap Ducati tersebut. Dalam dua musim itu, Martin selalu membawa persaingan gelar hingga seri terakhir, meski hasil akhirnya berbeda. Pada 2024, ia sukses menjadi juara dunia meski hanya memenangi tiga balapan, jauh di bawah Bagnaia yang mengoleksi 11 kemenangan. Konsistensi menjadi faktor utama keberhasilan Martin saat itu.
Kini, Martin kembali menghadapi tantangan besar. Lawannya bukan lagi Bagnaia, melainkan Marquez, pembalap yang telah mengoleksi tujuh gelar juara dunia MotoGP dan dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam situasi persaingan ketat. Martin menilai menghadapi Marquez tidak jauh berbeda dibandingkan ketika bersaing dengan Bagnaia. Namun, ia melihat satu aspek yang membuat pembalap Ducati Lenovo Team tersebut lebih berbahaya, yakni kemampuannya menjaga konsistensi dan memanfaatkan kesalahan lawan.
“Bagi saya, tidak banyak yang berubah,” kata Martin saat MotoGP Indonesia. “Tapi Marc punya kemampuan untuk menghukum setiap kesalahan. Jika Anda membuat kesalahan kecil, dia akan langsung memanfaatkannya.”
Martin juga mengungkapkan momen menarik saat balapan sprint di Mandalika. Dalam video ‘Inside Ducati’ yang diunggah di YouTube, ia terlihat berbincang dengan Marquez dan beberapa pembalap lain tentang insiden start yang menyebabkan Bezzecchi dan Raul Fernandez terjatuh. “Saya melihat kalian semua dan berpikir ‘tidak mungkin mereka melakukan itu’,” ujar Martin sambil tertawa. Ia sendiri berhasil melesat dari posisi kelima ke pertama dalam satu tikungan.
Baca juga:Namun, keberuntungan Martin di sprint tidak berlanjut di balapan utama. Ia harus puas finis ketiga setelah mengalami masalah tekanan ban yang membuatnya kehilangan posisi terdepan. Meski demikian, hasil tersebut tetap membawanya kembali memimpin klasemen dari Marquez.
Di tengah persaingan ketat, muncul kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan Martin. Tiga hari setelah balapan Indonesia, ia mengunggah foto dirinya sedang menerima infus dengan keterangan ‘problems’ di media sosial. Foto tersebut memicu spekulasi tentang masalah kesehatan yang mungkin memengaruhi performanya. Sebelumnya, Martin sempat mengalami masalah arm pump atau sindrom kompartemen yang membuatnya hampir menjalani operasi. Namun, ia memutuskan untuk tidak dioperasi dan memilih pemulihan intensif.
Keputusan tersebut sempat menuai kekhawatiran dari agen legendaris MotoGP, Carlo Pernat. “Martin memutuskan untuk tidak operasi, dan mungkin itu pilihan yang tepat karena kejuaraan sangat penting baginya. Tapi dia harus berhati-hati, karena sindrom kompartemen ini bisa menyerang tiba-tiba, hampir tanpa peringatan, dan lengan bisa menjadi tidak bisa digunakan,” ujar Pernat. “Mengenai pilihannya, saya katakan 50% benar dan 50% salah. Kita akan lihat. Saya harap itu keputusan yang tepat.”
Meski demikian, Martin tetap optimistis menyongsong sisa musim. Ia merasa performanya semakin konsisten dan yakin bisa bersaing di setiap sirkuit yang tersisa. “Saya senang bisa meraih podium ketiga berturut-turut dengan Aprilia. Ini luar biasa,” ujarnya. “Saya merasa percaya diri akan cepat di semua balapan yang tersisa. Tentu ada balapan di mana saya berpikir akan kesulitan, dan memang saya kesulitan. Tapi sekarang saya merasa lebih baik.”
Baca juga:Martin juga mengakui bahwa adaptasi dengan motor Aprilia masih berlangsung, terutama karena ia absen sepanjang musim lalu. “Saya benar-benar merasakan efek tidak membalap tahun lalu. Sulit bagi saya untuk menemukan setelan dasar dan elektronik. Ada sirkuit di mana saya merasa lebih baik sejak Jumat, tapi ada juga yang membuat saya kesulitan,” jelasnya.
Dengan lima balapan tersisa, yakni Grand Prix Australia, Malaysia, Qatar, dan dua seri lainnya, persaingan antara Martin dan Marquez diprediksi akan semakin sengit. Keduanya akan berusaha memaksimalkan setiap poin yang tersedia. Martin pun bertekad memberikan yang terbaik. “Saya menantikan istirahat setelah beberapa hari ini, karena ada lima balapan yang sangat penting. Kami akan berusaha maksimal,” pungkasnya.












