Gianni Infantino Hadapi Tekanan Reformasi dan Kucuran Dana Rp391 Miliar untuk PSSI

Gianni Infantino Hadapi Tekanan Reformasi dan Kucuran Dana Rp391 Miliar untuk PSSI
Gianni Infantino Hadapi Tekanan Reformasi dan Kucuran Dana Rp391 Miliar untuk PSSI

Sorothari – 17 Oktober 2026 | Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menjadi sorotan setelah ia menyampaikan permintaan maaf kepada anggota Dewan FIFA atas kegagalan komunikasi terkait proyek kontroversial FIFA Forward Enterprise. Meski demikian, dukungan tetap mengalir, salah satunya dari Presiden Federasi Sepak Bola Mauritania, Ahmed Yahya, yang menegaskan bahwa Infantino masih merupakan sosok yang tepat untuk memimpin organisasi sepak bola dunia tersebut. Di saat yang sama, FIFA mengumumkan alokasi dana solidaritas sebesar 25 juta dolar AS atau sekitar Rp391 miliar untuk masing-masing dari 211 asosiasi anggota, termasuk PSSI, sebagai bagian dari program surplus 2027-2030.

Permintaan maaf Infantino disampaikan dalam rapat Dewan FIFA yang berlangsung di Zurich, Swiss, pada Kamis, 15 Oktober. Ia mengakui adanya kesalahan dalam proses komunikasi dan konsultasi terkait rencana pembentukan perusahaan patungan yang bertujuan mengelola kepentingan komersial kompetisi FIFA dan membuka pintu bagi investor swasta. Proyek bernama FIFA Forward Enterprise itu disebut-sebut berpotensi meraup sekitar 4,2 miliar dolar AS, namun menuai penolakan keras dari sejumlah federasi dan konfederasi karena dianggap kurang melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan.

Baca juga:
Fajar/Fikri Tumbangkan Juara Dunia, Melaju ke Final Denmark Open 2026

“Kami meminta maaf atas kesalahan yang terjadi dalam pengelolaan dan komunikasi, yang telah menimbulkan banyak konsekuensi,” ujar Infantino dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa proposal tersebut tidak pernah dimaksudkan sebagai kesepakatan final dan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan yang dapat didistribusikan kepada 211 asosiasi anggota, tanpa menggantikan sumber dana yang sudah ada. Infantino juga memastikan bahwa FIFA Forward Enterprise telah dibatalkan secara definitif dan tidak akan diajukan lagi dalam bentuk lain.

Meskipun permintaan maaf telah disampaikan, sejumlah perwakilan dari Eropa masih belum puas. Debbie Hewitt, Ketua Federasi Sepak Bola Inggris (FA), mengkritik kurangnya jawaban yang memadai atas pertanyaan spesifik yang diajukan. Ia bahkan menyatakan bahwa jika Infantino tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan, maka ia dinilai tidak layak untuk memimpin FIFA. Kritik serupa juga datang dari perwakilan Jerman yang menuntut transparansi lebih besar dan perubahan dalam kepemimpinan sepak bola dunia.

Di tengah tekanan tersebut, Ahmed Yahya, yang juga merupakan anggota Dewan FIFA, secara terbuka membela Infantino. Menurutnya, Infantino adalah presiden yang tepat dan mayoritas anggota menginginkan ia tetap menjabat. Yahya menyambut baik permintaan maaf Infantino dan menilai bahwa Dewan FIFA kini berfokus pada solusi positif untuk kemajuan sepak bola global. Ia juga memuji langkah perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim yang dinilai mampu mendatangkan pendapatan penting bagi negara-negara kecil.

“Saya yakin Gianni Infantino adalah presiden yang tepat. Mayoritas menginginkan Gianni Infantino tetap memimpin. Setelah akhirnya menarik usulan ini, Presiden Gianni Infantino meminta maaf kepada para anggota Komite Eksekutif. Setelah itu, berlangsung perdebatan yang bertanggung jawab, dan persoalan ini kurang lebih dikesampingkan,” kata Yahya. Ia menambahkan bahwa saat ini ada usulan untuk memberikan 25 juta dolar kepada setiap asosiasi, yang jika dibagikan selama empat tahun, jumlah itu 25 kali lipat dari dana yang tersedia sepuluh tahun lalu.

Baca juga:
Leny Yoro Jadi Satu-satunya Sinar Terang di Tengah Kekecewaan Manchester United

Yahya juga menegaskan bahwa pendanaan yang setara dan hak suara yang setara tetap menjadi prinsip yang tidak boleh diganggu gugat dalam pengelolaan sepak bola dunia. Menanggapi seruan reformasi dari Eropa, ia menyatakan bahwa Infantino dan Dewan FIFA terbuka terhadap langkah-langkah yang meningkatkan transparansi dan demokrasi, asalkan dilakukan di semua tingkatan.

Sementara itu, FIFA resmi mengumumkan alokasi dana investasi sebesar 25 juta dolar AS atau sekitar Rp391 miliar untuk masing-masing asosiasi anggota sebagai bagian dari FIFA Surplus Solidarity Programme periode 2027-2030. Kebijakan ini merupakan hasil dari kesuksesan komersial Piala Dunia 2026 yang diperkirakan menghasilkan keuntungan bersih antara 5,2 miliar hingga 5,6 miliar dolar AS. Dana tersebut wajib diprioritaskan untuk pembinaan infrastruktur, pengembangan sepak bola wanita, kompetisi usia dini, serta proyek jangka panjang.

Bagi PSSI, alokasi ini menjadi angin segar dalam menyokong pengembangan sepak bola nasional menjelang keikutsertaan Timnas Indonesia di Piala Asia 2027 yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027. Suntikan dana masif ini menjadi modal berharga untuk memperkuat ekosistem sepak bola nasional, terutama setelah skuad Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Presiden FIFA Gianni Infantino mengklaim peningkatan dana bantuan tersebut merupakan bukti komitmennya melayani seluruh anggota secara merata.

“Dalam sepuluh tahun sejak saya menjadi Presiden FIFA, dana bantuan kita telah melonjak drastis, dari yang semula hanya 1 juta dolar AS kini menyentuh 25 juta dolar AS untuk setiap asosiasi anggota,” ujar Infantino dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026). Meski mengucurkan total investasi hingga 6,35 miliar dolar AS, FIFA dipastikan tetap mengamankan dana cadangan keras sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk mengantisipasi situasi yang tidak terduga.

Baca juga:
Inter Miami vs Monterrey: Rayados Menang 2-1 di Tengah Duka Lionel Messi

Mekanisme rinci pengajuan, pencairan, hingga audit program dana bantuan ini dijadwalkan akan difinalisasi pada rapat Dewan FIFA pada Desember 2026 mendatang. Sementara itu, sebagian dokumentasi terkait FIFA Forward Enterprise masih tetap dirahasiakan karena adanya proses hukum di Amerika Serikat. Meskipun proyek tersebut telah dibatalkan, sejumlah pihak masih menuntut penjelasan lebih lanjut mengenai inisiatif yang sempat menimbulkan gejolak di dunia sepak bola internasional.

Dengan berbagai dinamika ini, posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga kepercayaan dari seluruh asosiasi anggota. Dukungan dari Afrika dan beberapa wilayah lain menjadi penyeimbang kritik dari Eropa. Keputusan akhir mengenai dana solidaritas dan reformasi organisasi akan menjadi ujian bagi kepemimpinan Infantino dalam beberapa bulan ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *