Kontroversi Uang di Liga Champions Elite AFC: Finis Keempat Liga Saudi Dianggap Lebih Berharga

Kontroversi Uang di Liga Champions Elite AFC: Finis Keempat Liga Saudi Dianggap Lebih Berharga
Kontroversi Uang di Liga Champions Elite AFC: Finis Keempat Liga Saudi Dianggap Lebih Berharga

Sorothari – 18 Oktober 2026 | Persaingan di liga champions elit afc kembali menjadi sorotan setelah muncul pernyataan kontroversial dari pengamat sepak bola Arab Saudi, Saud Al-Sarami. Mantan juru bicara resmi Al Nassr itu menilai finis di peringkat keempat Roshn Saudi League lebih menguntungkan secara finansial ketimbang menjuarai kompetisi antarklub paling bergengsi di Asia tersebut. Pernyataan ini mencuat di tengah euforia Al Ahli yang berhasil mempertahankan gelar juara liga champions elit afc untuk kedua kali secara berturut-turut, sementara Al Nassr justru meraih trofi Roshn Saudi League pertama mereka dalam tujuh tahun terakhir.

Dalam pernyataannya di program Al Arabiya FM, Al-Sarami mengungkapkan pandangannya bahwa sepak bola modern telah bergeser menjadi industri yang sepenuhnya digerakkan oleh uang. Menurutnya, hadiah finansial yang ditawarkan kompetisi domestik Arab Saudi jauh lebih besar dibandingkan turnamen kontinental. Ia bahkan secara tegas menyatakan akan memilih finis di posisi keempat liga domestik daripada mengangkat trofi juara liga champions elit afc jika diberi pilihan.

Baca juga:
Kisah di Balik Kepergian Neymar dari PSG: Luis Enrique Langsung Bilang ‘Pergi Saja’

“Sepak bola saat ini hidup di era uang, jadi dari sudut pandang saya, finis di peringkat keempat Roshn Saudi League jauh lebih baik daripada menjuarai AFC Champions League Elite,” ujar Al-Sarami seperti dikutip dari pernyataannya. Ia menambahkan bahwa liga Saudi memiliki sumber daya finansial yang lebih melimpah dibandingkan kompetisi Asia, sehingga alasan ekonomi menjadi pertimbangan utama di balik pandangannya tersebut.

Lebih lanjut, Al-Sarami menyoroti besarnya kerugian finansial yang dialami klub-klub yang terdegradasi dari Roshn Saudi League. Menurutnya, angka kehilangan pendapatan akibat degradasi sangat mengejutkan dan menjadi bukti nyata bahwa kompetisi domestik memiliki bobot ekonomi yang jauh lebih berat. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan klub di liga domestik jauh lebih penting dibandingkan kegembiraan sesaat dari sebuah gelar kontinental yang perayaannya hanya berlangsung sekitar 72 jam.

Pernyataan tersebut tentu memicu diskusi di kalangan penggemar sepak bola Asia, terutama terkait bagaimana nilai sebuah gelar liga champions elit afc diukur. Bagi sebagian pihak, trofi kontinental tetap menjadi tolok ukur prestasi tertinggi di level antarklub Asia. Namun, pandangan Al-Sarami mencerminkan realitas baru di mana kekuatan finansial liga domestik, khususnya di Arab Saudi, telah mengubah lanskap prioritas klub-klub besar.

Baca juga:
Novak Djokovic Terlibat dalam Rencana Transfer Jovo Lukic ke Klub Le Mans

Dampak pada Peringkat dan Kuota Kompetisi Asia

Terlepas dari polemik tersebut, kompetisi antarklub Asia tetap menjadi ajang penting bagi negara-negara peserta, termasuk Indonesia. Sistem pemeringkatan AFC yang menghitung performa klub di kompetisi kontinental seperti liga champions elit afc, AFC Champions League Two, dan AFC Challenge League menjadi dasar penentuan alokasi slot untuk setiap asosiasi anggota. Setiap hasil pertandingan yang diraih wakil suatu negara akan berkontribusi terhadap koefisien liga negara tersebut.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, kemenangan 1-0 Persib Bandung atas Viettel FC dalam lanjutan pekan kedua AFC Champions League Two pada Rabu, 14 Oktober 2026, di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, turut mendongkrak posisi Liga Indonesia dalam pemeringkatan AFC. Berdasarkan pembaruan per 14 Oktober 2026, Liga Indonesia menempati peringkat kesembilan kawasan timur dengan perolehan 3.450 poin, menggeser Liga Kamboja dengan selisih tipis. Tambahan poin tersebut membuat total nilai Super League Indonesia dalam pemeringkatan AFC 2027 mencapai 27.259 poin dan berpotensi mengangkat posisi Indonesia dua tingkat, dari peringkat ke-19 menjadi ke-17.

Kenaikan peringkat ini penting karena menentukan jatah slot klub Indonesia untuk tampil di tiga kompetisi AFC, termasuk liga champions elit afc. Pada musim 2024/2025, Super League berada di posisi ke-11 kawasan timur dengan jatah dua tim, di mana Persib harus memulai dari babak kualifikasi ACL Two dan Borneo FC langsung berlaga di ACGL. Regulasi AFC menetapkan bahwa perolehan poin pada musim berjalan akan memengaruhi pembagian kuota untuk dua musim berikutnya, sehingga performa klub Indonesia sepanjang musim 2026/2027 akan menjadi faktor penentu jumlah wakil pada musim 2028/2029.

Baca juga:
Kemenangan Bersejarah Como atas RB Leipzig dan Catatan Statistik Kedua Tim

Meski demikian, posisi Indonesia masih berpotensi berubah karena klub-klub Kamboja belum memainkan pertandingan di ACL Two. Phnom Penh Crown dijadwalkan menghadapi wakil Korea Selatan, Gangwon FC, pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 17.00 WIB. Selain itu, sejumlah laga lain pada matchday kedua ACL Two juga masih berlangsung, seperti Tampines Rovers FC yang menjamu Machida Zelvia, serta duel Tai Po melawan Lion City Sailors. Machida Zelvia sendiri datang dengan status runner-up liga champions elit afc musim sebelumnya, menandakan bahwa kompetisi kasta kedua Asia tetap dihuni tim-tim berkualitas.

Dengan dinamika tersebut, perdebatan mengenai nilai sebuah gelar liga champions elit afc versus posisi di liga domestik akan terus relevan. Bagi klub-klub dengan sumber daya besar seperti di Arab Saudi, prioritas mungkin bergeser pada stabilitas finansial jangka panjang. Namun, bagi liga-liga berkembang seperti Indonesia, setiap poin di kompetisi Asia tetap menjadi jalan penting untuk meningkatkan daya saing dan membuka lebih banyak peluang bagi klub-klub nasional untuk berkompetisi di panggung internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *