Purbaya Yudhi Sadewa: Klarifikasi Hoaks Pelantikan, Wacana Duet, dan Proyeksi Karier

Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa

Sorothari – 12 Oktober 2026 | Nama Purbaya Yudhi Sadewa kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Berbagai isu mengemuka, mulai dari klaim hoaks mengenai pelantikan kembali oleh Presiden Prabowo Subianto hingga spekulasi mengenai kemungkinan dirinya berduet dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada Pemilihan Presiden 2029. Di sisi lain, sejumlah pengamat memprediksi mantan Menteri Keuangan itu akan kembali dipanggil untuk mengisi posisi strategis di pemerintahan.

Sejak beredar di media sosial, sebuah unggahan video di YouTube mengklaim bahwa Presiden Prabowo Subianto telah melantik kembali Purbaya Yudhi Sadewa. Namun, klaim tersebut tidak berdasar. Berdasarkan hasil verifikasi dari turnbackhoax.id, tidak ada laporan resmi maupun pemberitaan kredibel yang mendukung narasi tersebut. Video yang beredar justru berisi cuplikan wawancara dengan Prof. Didin S. Damanhuri, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB dan Universitas Paramadina, yang menyayangkan pencopotan Purbaya dan memberikan analisis pribadi mengenai alasan di balik keputusan tersebut. Tidak ada pembahasan mengenai pelantikan kembali dalam video itu.

Baca juga:
Tonny Tesar Dampingi Ferdy Sambo Klarifikasi Isu Kamar Mewah di Lapas Cibinong

Di tengah kabar yang simpang siur, wacana mengenai duet Dedi Mulyadi dan Purbaya Yudhi Sadewa pada Pilpres 2029 mulai mencuat. Meme yang memasangkan keduanya sebagai calon presiden dan calon wakil presiden ramai dibagikan di media sosial. Kombinasi figur dengan latar belakang berbeda ini dinilai menarik perhatian publik. Dedi Mulyadi dikenal sebagai politisi senior dengan pengalaman panjang di pemerintahan daerah, sementara Purbaya Yudhi Sadewa dikenal luas melalui kiprahnya di bidang ekonomi dan kebijakan keuangan.

Menanggapi spekulasi tersebut, aktivis politik senior Syahganda Nainggolan memberikan pandangannya. Dalam siniar Forum Keadilan TV yang tayang pada 18 September 2026, sebelum dirinya dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Syahganda menyatakan keraguannya terhadap kemungkinan Purbaya bersedia terjun ke panggung politik elektoral. Menurut Syahganda, Purbaya bukan tipe figur yang sengaja membangun popularitas demi membuka jalan menuju pencalonan presiden atau wakil presiden. Ia justru melihat Purbaya sebagai sosok yang lebih berorientasi pada karier dan kontribusi di bidang ekonomi.

“Enggak mungkinlah karena Purbaya menurut saya sih dia ya seperti dia bilang walau senang mancing, mungkin satu hari dia ngajar dosen atau apa gitu loh, enggak yakin saya,” ujar Syahganda dalam siniar tersebut. Pernyataan ini menegaskan bahwa Purbaya dipandang lebih memilih kembali ke dunia akademis atau kegiatan lain di luar politik praktis ketimbang mengejar posisi melalui kontestasi elektoral.

Meski demikian, popularitas Purbaya Yudhi Sadewa di mata publik tidak bisa diabaikan. Survei Indeks Politika Indonesia pada Oktober 2025 menunjukkan elektabilitasnya cukup kompetitif dalam bursa awal menuju Pilpres 2029. Sementara itu, dalam survei Indekstat Indonesia pada Februari 2026, pada simulasi 10 nama potensial calon presiden, Purbaya menempati posisi keempat dengan tingkat elektabilitas 4,9 persen, berada di bawah Prabowo Subianto (47,2 persen), Dedi Mulyadi (17,8 persen), dan Anies Baswedan (11,2 persen).

Baca juga:
Trump Minta Tambahan Rp1.568 Triliun, Pete Hegseth Berang Saat Ditanya Ujung Perang

Di sisi lain, Syahganda Nainggolan juga memprediksi bahwa Purbaya Yudhi Sadewa tidak akan lama berada di luar lingkaran pemerintahan. Dalam kesempatan yang sama, ia memperkirakan Presiden Prabowo Subianto dapat kembali memanggil Purbaya untuk menempati posisi strategis sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Menurut Syahganda, pencopotan Purbaya dari kursi Menteri Keuangan tidak berkaitan dengan penilaian buruk dari Presiden. Sebaliknya, ia menilai Prabowo mengapresiasi capaian Purbaya selama sekitar satu tahun menjalankan tugas.

“Pak Prabowo tidak memberikan penilaian negatif kepada Pak Purbaya. Bisa saja dipanggil kembali,” tegas Syahganda. Ia menilai langkah tersebut lebih merupakan keputusan pragmatis untuk meredam instabilitas akibat manajemen konflik, terutama terkait langkah agresif Purbaya dalam membongkar praktik kejahatan oligarki, menertibkan skandal pajak korporasi berskala besar, serta menolak intervensi lembaga keuangan global.

Syahganda menambahkan bahwa Bank Indonesia menjadi salah satu posisi yang paling sesuai dengan kapasitas dan pengalaman Purbaya. Sebelum menjadi Menteri Keuangan, Purbaya diketahui memiliki pengalaman sebagai Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menangani persoalan sektor perbankan yang dinilai masih banyak memerlukan pembenahan. “Problematika perbankan kita ke depan ini banyak, karena banyak bank yang masih tambal sulam. Selama Pak Purbaya di LPS, dia sudah mengidentifikasi mana bank-bank atau lembaga keuangan lainnya yang sudah sepantasnya ditutup atau dibenahi. Pak Purbaya sudah tahu itu,” ungkap Syahganda.

Di tengah berbagai spekulasi tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa tetap menjalankan tugasnya sebagai Menteri Keuangan. Ia baru-baru ini mengunjungi Program Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Surabaya pada Sabtu (1/8/2026). Dalam kunjungan itu, Purbaya menyapa para siswa dan memberikan motivasi. Ia menyebut mendapat amanah dari Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan dukungan anggaran bagi penyelenggaraan program tersebut. “Saya diperintah Presiden menyediakan anggaran Sekolah Rakyat. Belajarnya yang semangat ya, biar jadi menteri, biar jadi orang kaya,” ujar Purbaya kepada para siswa.

Baca juga:
JD Vance Bongkar Borok Zionis Israel: Ada Upaya Dorong AS Terus Berperang dengan Iran

Program Sekolah Rakyat di Surabaya dibangun di atas lahan seluas 6,6 hektare dengan kapasitas sekitar 370 siswa, mengusung konsep pendidikan terintegrasi yang menyatukan jenjang SD, SMP, dan SMA dalam satu kawasan. Pada Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah dipersiapkan menampung 370 siswa, terdiri dari 30 siswa SD, 120 siswa SMP, dan 120 siswa SMA, dengan peserta didik baru sebanyak 270 orang. Kegiatan belajar mengajar didukung oleh 41 guru, 37 wali asuh, 10 wali asrama, serta 43 tenaga pendukung. Nilai kontrak pembangunan mencapai Rp3,52 triliun, dengan pagu anggaran Rp3,82 triliun dan realisasi anggaran sebesar Rp3,21 triliun.

Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai langkah selanjutnya bagi Purbaya Yudhi Sadewa. Namun, berbagai isu yang beredar—mulai dari klarifikasi hoaks, wacana duet politik, hingga proyeksi karier di sektor keuangan—menunjukkan bahwa namanya tetap menjadi sorotan publik. Perkembangan terbaru mengenai posisi dan langkah Purbaya masih dinantikan, terutama dari lingkaran pemerintahan dan partai politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *