Berita  

Majelis Umum PBB Sahkan Resolusi Proyeksi Peta Dunia Baru Equal Earth

Sorothari – 14 September 2026 | Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mengesahkan resolusi yang mendukung adopsi proyeksi peta dunia baru bernama Equal Earth guna menghadirkan representasi ukuran benua dan negara yang jauh lebih proporsional. Langkah bersejarah ini diambil untuk mengoreksi persepsi keliru yang telah mengakar selama lebih dari 450 tahun akibat penggunaan peta konvensional di berbagai belahan dunia.

Resolusi bertajuk ‘Perbaiki Peta’ tersebut diinisiasi oleh negara-negara anggota Uni Afrika bersama Bahama, dengan dorongan kuat dari Togo. Dalam pemungutan suara di New York, sebanyak 164 negara anggota menyatakan persetujuan, enam negara memilih abstain (Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina), serta hanya Amerika Serikat yang memberikan suara penolakan.

Baca juga:
Korban Turbulensi Maut Singapore Airlines SQ321 Layangkan Gugatan Hukum di Inggris

Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menegaskan pentingnya pembaruan ini sebelum proses pemungutan suara berlangsung. Menurutnya, representasi visual memiliki dampak yang sangat mendalam terhadap cara pandang masyarakat internasional.

“Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia. Peta memandu pendidikan, menumbuhkan imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif,” ujar Robert Dussey dalam sidang Majelis Umum PBB.

Kritik terhadap Distorsi Proyeksi Peta Konvensional

Selama berabad-abad, sebagian besar representasi kartografi global mengandalkan proyeksi Mercator yang dirancang oleh kartografer asal Flandria, Gerardus Mercator, pada tahun 1569. Peta era abad ke-16 ini pada awalnya dikembangkan khusus untuk mempermudah navigasi maritim karena mampu mempertahankan garis arah kompas yang lurus bagi para pelaut.

Kendati unggul dalam navigasi samudra, mempertahankan sudut arah tersebut harus mengorbankan keakuratan luas daratan sebenarnya. Pada proyeksi Mercator, distorsi ekstrem terjadi pada wilayah-wilayah yang letaknya semakin jauh dari garis khatulistiwa. Sebagai dampaknya, wilayah kutub dan belahan bumi utara tampak berlipat ganda lebih luas dibandingkan kenyataannya.

Baca juga:
Prabowo Terbitkan Perpres Pembentukan 7 Kejari Baru, Ini Daftarnya

Sebagai contoh, daratan Greenland dalam proyeksi lama terlihat memiliki ukuran yang hampir setara dengan seluruh benua Afrika atau Amerika Selatan. Padahal, luas benua Afrika sesungguhnya mencapai 14 kali lipat dari Greenland dan ukuran Greenland sejatinya setara dengan Republik Demokratik Kongo.

Distorsi ini dinilai telah mengecilkan keterwakilan negara-negara berkembang di kawasan tropis, terutama di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan. PBB mencatat bahwa penyusutan visual ini melanggengkan bias historis dan supremasi wilayah utara, yang secara tidak langsung berdampak pada pengerdilan realitas sosial-ekonomi, kebutuhan infrastruktur, potensi pembangunan, serta persepsi geopolitik.

Keunggulan dan Karakteristik Proyeksi Equal Earth

Guna mengatasi persoalan bias tersebut, proyeksi Equal Earth hadir sebagai alternatif modern. Peta ini merupakan proyeksi sama luas (equal-area) yang dirancang pada tahun 2018 oleh tim kartografer internasional yang terdiri atas Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny.

Pengembangan Equal Earth bermula dari evaluasi terhadap kontroversi penggunaan proyeksi Gall-Peters di sekolah-sekolah Boston pada 2017. Para pembuatnya kemudian merumuskan proyeksi yang terinspirasi dari estetika proyeksi Robinson, namun tetap mempertahankan proporsi luas daratan dengan akurasi matematis yang ketat.

Baca juga:
Peringatan Dini BMKG: Waspada Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah dan Suhu Terik di Jawa

Ciri visual utama dari proyeksi ini terletak pada garis lintang yang lurus sejajar serta sisi tepi peta yang melengkung elegan. Melalui kombinasi ini, setiap negara ditampilkan sesuai porsi luas aslinya tanpa menimbulkan distorsi bentuk daratan yang berlebihan, sehingga nyaman dilihat dan tepat secara ilmiah.

Dukungan Global dan Sifat Resolusi PBB

Resolusi PBB yang mengadopsi peta dunia Equal Earth ini bersifat tidak mengikat (non-binding). Ketetapan ini tidak secara otomatis melarang atau menghapus penggunaan proyeksi Mercator yang masih memiliki fungsi teknis dalam sistem navigasi.

Fokus utama resolusi ini adalah mendorong pemerintah, institusi pendidikan, organisasi internasional, serta perusahaan teknologi untuk mulai beralih ke Equal Earth sebagai rujukan standar dalam penyusunan kurikulum sekolah, publikasi data, dan laporan resmi global. Langkah ini diharapkan mampu mereformasi pemahaman geografis generasi mendatang agar melihat bumi dengan sudut pandang yang lebih adil dan berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *