Sorothari – 14 Oktober 2026 | Gempa bumi dahsyat mengguncang Panama pada 9 Oktober 2026, memicu gelombang solidaritas dari berbagai negara dan organisasi internasional. Pemerintah Panama telah menetapkan status darurat nasional dan fokus pada upaya pemulihan pasca-bencana yang menewaskan sedikitnya 27 orang dan merusak hampir 900 rumah.
Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter yang diikuti gempa susulan berkekuatan 6,6 SR tersebut menyebabkan kerusakan parah di seluruh 10 provinsi dan dua wilayah adat di Panama. Bangunan bersejarah seperti Gereja San Atanasio di provinsi Los Santos runtuh total akibat guncangan. Bandara Internasional Tocumen sempat ditutup sementara, sementara Terusan Panama tetap beroperasi normal.
Baca juga:Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu, 11 Oktober 2026, Komunitas Karibia (CARICOM) menyatakan solidaritas penuh terhadap Panama. “Panama dan negara anggota CARICOM memiliki sejarah yang saling terkait erat selama beberapa generasi warga yang telah berkontribusi pada pembangunan Karibia,” demikian bunyi pernyataan tersebut. CARICOM juga berharap pemulihan dapat berlangsung cepat dan mereka yang terluka dapat segera pulih.
Dampak dan Bantuan Kemanusiaan
Selain korban jiwa, gempa menyebabkan kerusakan pada sekolah, fasilitas kesehatan, hotel, jalan, dan jembatan, terutama di provinsi-provinsi bagian tengah. Lebih dari 200 gempa susulan telah tercatat, memicu evakuasi massal dan membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Pemerintah Panama mengerahkan bantuan darurat ke daerah-daerah terdampak, sementara berbagai organisasi kemanusiaan mulai bergerak memberikan bantuan logistik dan medis.
Kementerian Luar Negeri Bahama, dalam pernyataan terpisah, menyampaikan simpati kepada Panama dan mengonfirmasi bahwa tidak ada warga Bahama yang menjadi korban langsung di Panama. Namun, beberapa warga Bahama yang sedang bepergian terdampak oleh pengalihan penerbangan ke Barranquilla dan Cartagena, Kolombia. Pemerintah Bahama terus berkoordinasi dengan otoritas Panama, Kolombia, dan maskapai Copa Airlines untuk memfasilitasi perjalanan pulang para warganya.
Baca juga:Kontroversi Unggahan Influencer
Di tengah upaya pemulihan, unggahan seorang influencer asal Panama, Gracie Bon, memicu perdebatan sengit di media sosial. Pada 11 Oktober 2026, Bon mengunggah serangkaian foto dirinya berdiri di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat gempa. Dalam unggahan tersebut, ia mengenakan celana jins dan atasan putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, dengan keterangan yang mengajak untuk bersyukur dan membantu sesama.
Banyak warganet mengecam aksinya tersebut, menuduhnya melakukan pemotretan di tengah tragedi dan memanfaatkan bencana untuk konten pribadi. “Saya tidak akan pernah berfoto di tengah tragedi seperti ini, orang-orang dan barang-barang mereka,” tulis salah satu komentar. Menanggapi kritik tersebut, Bon membela diri melalui fitur Instagram Stories. Ia mengklaim bahwa foto-foto itu diambil saat ia sedang mendistribusikan donasi, dan kehadirannya dalam foto justru membantu memperluas jangkauan pesan tentang kondisi nyata Panama pasca-gempa.
“Foto-foto ini adalah kenyataan negara ini. Banyak program berita tidak menampilkannya,” kata Bon. Ia menegaskan bahwa ia tidak sedang melakukan pemotretan atau bergaya, melainkan ingin menunjukkan kondisi sebenarnya. Namun, klaimnya mengenai donasi dan tidak meraup keuntungan dari bencana belum dapat diverifikasi secara independen.
Baca juga:Pemerintah Panama terus berupaya memulihkan infrastruktur dan memberikan bantuan kepada para korban. Status darurat nasional masih berlaku, dan berbagai negara serta organisasi internasional terus menawarkan dukungan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap gempa susulan dan mengikuti arahan otoritas setempat.












