Sorothari – 14 September 2026 | Peringatan 9/11 yang menandai seperempat abad tragedi serangan teror di Amerika Serikat diperingati melalui berbagai momen khidmat, mulai dari doa pemimpin gereja dunia, penghormatan di lapangan olahraga, kisah haru para penyintas, hingga dinamika perdebatan politik. Peristiwa bersejarah yang merenggut hampir 3.000 jiwa tersebut terus menyisakan refleksi mendalam mengenai dampak kemanusiaan dan geopolitik global.
Dari Vatikan, Paus Leo XIV menyampaikan seruan khusus terkait momentum peringatan 9/11 saat memimpin doa dari jendela studionya di Lapangan Santo Petrus. Paus asal Chicago tersebut mengajak masyarakat dunia memperbarui komitmen terhadap perdamaian dan mendoakan para korban serta mereka yang masih menanggung luka akibat tragedi tersebut. Ia menekankan bahwa ingatan atas peristiwa 25 tahun silam harus mendorong aksi nyata penghentian kekerasan, seraya mengingatkan kembali refleksinya terdahulu bahwa kebencian dan ketegangan global kerap berakar dari kemiskinan ekstrem serta ketidakadilan.
Baca juga:Penghormatan dan Sorotan di Peringatan 9/11 Ground Zero
Di New York, Ground Zero menjadi pusat upacara memorial resmi yang mempertemukan keluarga korban, petugas tanggap darurat, dan jajaran tokoh publik untuk membacakan nama-nama korban yang gugur. Namun, momen khidmat tersebut sempat menuai perhatian politik setelah beredarnya rekaman singkat yang memperlihatkan Wali Kota New York City Zohran Mamdani dan Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez tampak tersenyum saat berinteraksi di tengah prosesi pembacaan nama.
Presiden Donald Trump melontarkan kritik terhadap interaksi tersebut dan menyebutnya tidak pantas di lokasi memorial. Kritik serupa juga disuarakan sejumlah pihak seperti Anggota DPR Wesley Hunt dan Anggota Dewan Kota Inna Vernikov. Kendati demikian, Michael Ragusa yang berada di lokasi memberikan pembelaan dengan menyatakan bahwa interaksi itu sekadar sapaan singkat antartokoh publik yang lazim terjadi di antara berbagai pejabat dari kedua kubu politik, di mana Mamdani juga tetap menunjukkan sikap khidmat di sebagian besar rangkaian upacara.
Suasana Stadion dan Kenangan Keluarga Tanggap Darurat
Nuansa emosional peringatan 9/11 turut menyelimuti dunia olahraga saat laga pembuka New York Giants melawan Dallas Cowboys di MetLife Stadium, New Jersey. Sebelum pertandingan dimulai, sebuah kuintet gabungan dari kepolisian (NYPD) dan pemadam kebakaran (FDNY) menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat secara a cappella dengan seragam dinas lengkap, menciptakan momen haru yang menggetarkan puluhan ribu penonton.
Baca juga:Di sisi lain, kenangan mendalam masih dirasakan keluarga para garda terdepan. Jamie Schnell, warga Sevier County, Tennessee, mengenang kembali saat-saat mencekam ketika anggota keluarganya bertugas di sektor transportasi New York pada hari penyerangan. Keluarganya yang bertugas mengemudikan kereta MTA, truk pengiriman UPS, dan transportasi medis kala itu menghadapi debu tebal runtuhan gedung serta putusnya jaringan komunikasi. Meski sebagian anggota keluarga yang merespons hari itu kini telah berpulang, Schnell terus menjaga memori pengorbanan mereka.
Perdebatan Isu Pascatragedi
Momen peringatan 9/11 juga membuka kembali diskusi seputar kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Polemik mencuat di Michigan terkait pernyataan lama kandidat Senat Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, yang mengaitkan tragedi tersebut dengan dampak perang lanjutan di Timur Tengah. Menanggapi tudingan dari para pengkritiknya, podcaster konservatif Tucker Carlson justru membela El-Sayed melalui buletinnya, menegaskan bahwa mengkritisi dampak destruktif dari respons militer pascaserangan bukanlah bentuk simpati terhadap terorisme, melainkan pandangan kritis yang rasional atas sejarah.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa setelah dua puluh lima tahun berlalu, memori penyerangan gedung kembar dan respons yang mengikutinya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah modern yang terus membentuk diskursus kemanusiaan dan politik internasional.
Baca juga:






