Sorothari – 10 Oktober 2026 | Cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di India dan Malaysia pada akhir pekan ini, memicu penurunan kualitas udara dan mendorong pihak berwenang mengambil langkah darurat. Di Delhi, hujan dan badai petir diperkirakan akan terjadi, sementara di Kuala Lumpur, kabut asap dari kebakaran hutan di Indonesia memaksa pemerintah menutup sekolah-sekolah.
Di Delhi, Indian Meteorological Department (IMD) memperkirakan hujan, badai petir, dan angin kencang dengan kecepatan hingga 50 km/jam pada 10-11 Oktober 2026. Perubahan cuaca ini disebabkan oleh gangguan barat (western disturbance) di atas Pakistan utara dan daerah sekitarnya, serta sirkulasi siklonik di atas Haryana dan Uttar Pradesh barat laut. Suhu minimum di beberapa stasiun cuaca tercatat di atas normal, dan angin kencang diperkirakan akan mengaduk debu di jalan dan lokasi konstruksi, yang berpotensi mengurangi jarak pandang dan menyebabkan iritasi bagi individu sensitif.
Baca juga:Meskipun cuaca berubah, Indeks Kualitas Udara (AQI) Delhi tercatat pada angka 173 pada Jumat pagi pukul 09.30 waktu setempat, masuk dalam kategori sedang. AQI antara 101 dan 200 termasuk dalam kategori sedang, yang berarti kualitas udara masih dapat diterima namun mungkin berisiko bagi kelompok sensitif. Sementara itu, di Meerut, hujan es pada hari sebelumnya menyebabkan suhu turun hingga 5 derajat Celcius, dan AQI membaik ke kisaran 120-142, masih dalam kategori sedang.
Di Mumbai, Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC) mengusulkan program pencucian jalan besar-besaran untuk menekan polusi, setelah AQI kota tersebut naik ke kategori sedang. Namun, proposal tersebut ditolak oleh komite tetap BMC dengan alasan tidak sensitif terhadap kondisi kekeringan dan pemotongan air sebesar 10 persen yang sedang berlangsung. Anggota dewan dari berbagai partai mempertanyakan logika di balik langkah tersebut ketika pasokan air sedang dibatasi. AQI Mumbai pada Jumat tercatat 99 (memuaskan), membaik dari hari sebelumnya yang mencapai 120 (sedang).
Baca juga:Sementara itu, kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia terus menyelimuti Malaysia. Pemerintah Malaysia menutup sekolah-sekolah di Kuala Lumpur dan beberapa wilayah lain setelah Indeks Polutan Udara (API) mencapai angka 170, yang masuk dalam kategori tidak sehat. Raja Malaysia, Sultan Ibrahim, telah menyarankan agar sekolah ditutup jika API mencapai 150 atau lebih. Menteri Pendidikan Malaysia, Fadhlina Sidek, mengatakan bahwa keputusan penutupan sekolah akan diberitahukan lebih awal agar orang tua memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Kualitas udara di Kuala Lumpur telah berada pada level tidak sehat selama seminggu terakhir, dengan kota tersebut sering menempati peringkat sebagai salah satu kota paling tercemar di dunia.
Kondisi cuaca ekstrem dan penurunan AQI ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah di kawasan Asia Selatan dan Tenggara. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan kualitas udara dari sumber resmi, serta mengambil langkah-langkah perlindungan yang diperlukan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Baca juga:











