Berita  

The Social Reckoning: Meta Dihukum Rp15,7 Triliun, Skandal Nassar hingga Kritik Film Sorkin

The Social Reckoning: Meta Dihukum Rp15,7 Triliun, Skandal Nassar hingga Kritik Film Sorkin
The Social Reckoning: Meta Dihukum Rp15,7 Triliun, Skandal Nassar hingga Kritik Film Sorkin

Sorothari – 25 Oktober 2026 | Istilah the social reckoning menjadi benang merah sejumlah peristiwa besar yang mengguncang dunia maya dan nyata sepanjang pekan ini. Mulai dari vonis pengadilan New Mexico yang menghukum Meta Platforms dengan denda 25 miliar dolar AS (sekitar Rp15,7 triliun) karena dianggap sengaja mengeksploitasi ketidakpahaman pengguna soal privasi, hingga refleksi satu dekade skandal pelecehan seksual Larry Nassar di dunia senam yang dinilai masih berjalan lambat dalam memperbaiki diri. Dalam waktu bersamaan, rilis film terbaru Aaron Sorkin, The Social Reckoning, justru menuai kritik tajam karena dianggap gagal menangkap kompleksitas persoalan.

Vonis terhadap Meta dijatuhkan oleh Hakim Francis Mathew di Pengadilan Santa Fe, New Mexico, pada Kamis (22/10/2026) waktu setempat. Dalam putusannya, Mathew menyebut pelanggaran yang dilakukan Facebook sebagai “extraordinary number of wilful violations” atau pelanggaran sengaja dalam jumlah luar biasa. Ia menegaskan bahwa kerugian dalam perkara ini sulit untuk dilebih-lebihkan karena menyentuh inti dari proposisi bisnis dasar Facebook. Menurut hakim, perusahaan sadar betul bahwa penggunanya tidak memahami pengaturan privasi dan justru memanfaatkan ketidaktahuan itu secara tidak adil.

Baca juga:
Sarjana Difabel Tunanetra Terpaksa Jualan Rambak karena Sulit Dapat Kerja Kantoran

“Facebook was aware that its users did not understand its privacy settings and took advantage of that to a grossly unfair degree,” tulis Mathew dalam putusan yang dikutip sejumlah media internasional. Ia menambahkan bahwa misrepresentasi soal kendali data pengguna bukan insiden terisolasi, melainkan pola penipuan sistematis yang berada di jantung model bisnis Facebook. Denda 25 miliar dolar AS ini menjadi hukuman terbesar yang pernah diterima Meta, menambah deretan sanksi yang sudah dijatuhkan sebelumnya.

Sebelumnya, pada Maret 2026, juri di New Mexico memutuskan Meta bersalah dalam gugatan yang diajukan Jaksa Agung Raúl Torrez pada 2023. Torrez saat itu menyebut Meta sebagai “largest marketplace for predators and paedophiles globally” atau pasar terbesar bagi predator dan pedofil di seluruh dunia. Juri kemudian menjatuhkan ganti rugi 375 juta dolar AS. Pada Agustus 2026, dalam bagian kedua persidangan, hakim memerintahkan Meta membayar tambahan 567 juta dolar AS, sehingga total menjadi 942 juta dolar AS untuk membentuk dana kesehatan mental bagi remaja.

Kasus New Mexico itu disebut banyak pengamat sebagai “Big Tobacco moment” bagi raksasa teknologi, merujuk pada strategi hukum yang dulu dipakai untuk menjerat industri tembakau pada awal 2000-an. Setelah putusan tersebut, Meta juga menyelesaikan gugatan besar lain senilai 17 miliar dolar AS yang diajukan oleh 47 negara bagian AS. Gugatan itu semula menuntut denda 200 miliar dolar AS, tetapi akhirnya diselesaikan dengan cepat oleh Meta. Perusahaan yang menaungi Facebook, Instagram, dan WhatsApp dengan sekitar 3,5 miliar pengguna aktif bulanan itu kini menghadapi tekanan hukum yang kian membesar.

Ironi pun muncul karena di saat yang sama, Meta membukukan laba 52,48 miliar dolar AS hingga Oktober 2026, setelah pada 2025 mencatat pendapatan 200 miliar dolar AS. Nilai pasar perusahaan diperkirakan mencapai 1,8 triliun dolar AS. Angka-angka itu menunjukkan bahwa meski berulang kali dihukum, raksasa media sosial tersebut tetap mencetak keuntungan luar biasa. Whistleblower Frances Haugen pada 2021 pernah menegaskan bahwa Meta selalu “prioritises growth over safety” atau mengutamakan pertumbuhan di atas keselamatan pengguna.

Film The Social Reckoning Menuai Kritik

Di sisi lain, judul The Social Reckoning juga melekat pada karya terbaru penulis skenario dan sutradara Aaron Sorkin. Film ini digadang-gadang sebagai sekuel spiritual dari The Social Network (2010) yang mengangkat kisah awal berdirinya Facebook. Namun, alih-alih berfokus pada Mark Zuckerberg, film ini justru menyoroti reporter The Wall Street Journal bernama Jeff Horwitz (diperankan Jeremy Allen White) dan Frances Haugen (Mikey Madison) yang membocorkan dokumen internal perusahaan pada 2021.

Baca juga:
Cuaca Hari Ini: DIY Cerah Berawan, Sumsel Panas Ekstrem hingga 37 Derajat Celsius

Kritik tajam datang dari sejumlah pengulas. Mereka menilai The Social Reckoning tidak akan memiliki daya tarik abadi seperti pendahulunya. Penulisan naskahnya dianggap terlalu berat sebelah, sinematografinya membosankan, dan akting para pemainnya tidak menginspirasi. Subjek film ini pun dinilai akan cepat usang karena terlalu banyak berkutat pada statistik dan jargon, sementara kedalaman emosi justru terabaikan. “At best, the film feels like a drama hastily constructed from the script for a documentary,” tulis salah satu ulasan yang beredar.

Dalam film tersebut, penonton disuguhi adegan Zuckerberg yang diperankan Jeremy Strong sedang bersiap menghadapi sidang Senat pada 2021. Konflik memuncak ketika kebijakan “free speech absolutism” Facebook dianggap menciptakan ruang bagi para perusuh dalam insiden 6 Januari di Capitol Hill untuk berorganisasi. Film berakhir dengan teks di layar yang menyebut bahwa Facebook (kini Meta) membatalkan program pemeriksaan fakta pada tahun-tahun setelah investigasi. Adegan penutup memperlihatkan karakter Haugen menoleh ke kamera sambil tersenyum, meninggalkan kesan ambigu.

Kendati demikian, penampilan Jeremy Strong sebagai Zuckerberg disebut sebagai satu-satunya yang menonjol. Karakternya digambarkan sebagai sosok CEO teknologi yang tidak manusiawi, kasar, dan egois. Namun, kritikus menilai tokoh itu tetap saja stereotip: Zuckerberg digambarkan sebagai orang jahat yang duduk di kantor megah. Sementara itu, karakter Haugen dinilai memiliki perkembangan paling menarik, dari seorang data scientist yang canggung menjadi saksi yang berani bersaksi di depan Kongres.

Senam Dunia dan Bayang-Bayang Nassar

Di Rotterdam, Belanda, ajang World Gymnastics Championships 2026 tengah berlangsung. Namun, di sebuah houseboat yang ditambatkan tak jauh dari Ahoy Arena, para penyintas dan advokat berkumpul untuk menyuarakan kekecewaan. Tepat sepuluh tahun setelah The Indianapolis Star pertama kali mempublikasikan tuduhan terhadap Larry Nassar, mantan dokter tim USA Gymnastics, mereka menilai laju perubahan di dunia senam masih terlalu lambat.

Kasus Nassar memang menjadi salah satu skandal pelecehan seksual terburuk dalam sejarah olahraga. Ratusan perempuan maju dengan tuduhan masing-masing, tidak hanya terhadap Nassar tetapi juga terhadap sistem yang melindunginya. Nassar, yang juga bekerja di Michigan State University, akhirnya divonis penjara dengan total hukuman 300 tahun hingga seumur hidup setelah serangkaian keyakinan federal dan negara bagian. Hakim Rosemarie Aquilina, yang memimpin sidang vonis, memutuskan untuk mengizinkan para korban berbicara di ruang sidang. Selama tujuh hari, 169 orang memberikan kesaksian yang membakar emosi dan penuh keberanian.

Baca juga:
Dinamika Muktamar ke-35 NU: Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU, Gus Yusuf Gugur

“I know, dealing with so many victims, that when they speak publicly you see them shed their pain and get taller. You see them have a relief, an automatic release,” kata Aquilina, mengenang momen tersebut. Ia menuturkan, awalnya hanya ada sekitar selusin nama yang ingin berbicara, lalu bertambah menjadi 20, 30, hingga 80 dan 100 orang. “What happened was that one girl empowered the next, who empowered the next. It was the beginning of their healing because they felt finally heard and believed,” tambahnya.

Di antara para korban yang terinspirasi untuk berbicara adalah peraih medali emas Olimpiade, Aly Raisman, yang mengecam keras USA Gymnastics karena dianggap memungkinkan Nassar beroperasi. Ia didampingi sesama peraih emas Jordyn Wieber, peraih perunggu Olimpiade Jamie Dantzscher, dan mantan juara nasional AS Mattie Larson. Simone Biles, pesenam paling terkenal di generasinya, juga mengungkapkan bahwa dirinya adalah korban dan kemudian bersaksi di depan Komite Kehakiman Senat AS. Dua tahun setelah vonis Nassar, sebuah film dokumenter berjudul Athlete A dirilis, menyoroti budaya kepatuhan, ketakutan, dan keheningan dalam sistem pelatihan senam yang memungkinkan Nassar beroperasi.

Kim Shore, mantan pesenam Kanada era 1980-an yang mengaku mengalami segala bentuk pelecehan, kini duduk di dewan direksi Gymnastics Canada. Ia mengaku sangat mencintai olahraga senam, tetapi sebagian besar hidupnya justru dihabiskan untuk bertahan dari sistem yang ada. “I absolutely love the sport. I love how it feels in my body. I love so many aspects of it. And yet I spent most of my time surviving it,” ujarnya. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari federasi senam internasional mengenai percepatan reformasi yang dituntut para penyintas.

Dari ruang sidang di New Mexico, houseboat di Rotterdam, hingga layar bioskop Hollywood, istilah the social reckoning seolah menjadi pengingat bahwa akuntabilitas atas kekuasaan, baik di dunia teknologi maupun olahraga, masih menjadi pekerjaan panjang. Bagi Meta, deretan denda dan gugatan tampaknya belum menyurutkan dominasi bisnisnya. Sementara bagi para penyintas senam, pertanyaan tentang seberapa cepat perubahan benar-benar terjadi masih menggantung. Dan bagi Sorkin, The Social Reckoning mungkin akan dikenang sebagai sekuel yang gagal menyamai gemuruh pendahulunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *